Asia Africa Reading Club, Menggali Buah Pikiran Founding Fathers Indonesia

IMG_7849o-tile

Suasana Tadarusan Buku Asia Africa Reading Club (AARC). (Foto: Emeralda A)

“Semoga ulasan singkat saya menambah kegalauan sahabat semua dalam diskusi malam ini,” buka Adha Setiawan, budayawan yang memonitori jalannya diskusi “Mencapai Kemerdekaan Indonesia”. Hal ini dia sampaikan pada tadarusan Di bawah Bendera Revolusi karya Ir. Soekarno. Benar saja, Rabu (3/3) malam itu di Sekretariat Sahabat MKAA, diskusi berlangsung mengalir begitu saja, mengupas keberhasilan konsep Nasional, Agama, dan Komunis (NASAKOM) Soekarno. Beberapa ada yang mengatakan berhasil, beberapa ada yang mengatakan gagal, perdebatan pun terjadi.

Tadarusan Bab X, lembar demi lembar dibaca oleh para peserta secara bergantian. Bukan hanya membaca biasa, beberapa bahkan membaca dengan gaya berpidato. “Membaca tulisan Bung Karno tidak seperti membaca tulisan seorang penulis, tetapi seperti membaca tulisan yang sedang berbicara kepada pembacanya”, ungkap Adha. “ Tulisan mimbar,” lanjutnya.

Menjelang malam, diskusi semakin seru dengan interupsi para peserta diskusi. Tak memandang tua atau muda, mereka semua bersama-sama mengeluarkan pendapat mereka. Meskipun begitu, perdebatan yang terjadi tidak membuat suasana diskusi menjadi panas, justru menjadi hangat. “Seperti di Warung Kopi”, ujar Taufik.

Begitulah suasana tadarusan buku Asia-Africa Reading Club (AARC). Sejak 2009 silam, komunitas ini mengusung visi menunjukkan semangat juang Asia-Afrika ke publik Bandung. “Masuk museum bukan hanya sebatas melihat-lihat saja, tetapi harus ada sesuatu yang bisa kita dapatkan,” tandas Adew Habtsa, pencetus kegiatan.

Kegiatan tadarusan sendiri berbentuk membaca sebuah buku secara bersama-sama. Orang demi orang membacakannya dengan lantang secara bergantian, sedangkan yang lainnya menyimak. Beginilah setiap minggunya, hingga sebuah buku khatam atau selesai dibaca.

Kegiatan tadarusan biasanya berlangsung selama 4 jam, dari mulai jam 17.00 sampai 21.00 WIB. Tak hanya serius membaca, kegiatan ini juga diselingi coffee break dan penampilan beberapa relawan Sahabat MKAA. Beberapa di antaranya adalah pembacaan puisi bertema Indonesiaku oleh Herman dan Cici dan penapilan gitar akustik dari penulis yang juga gitaris Ian.

Dan malam itu, diskusi ditutup dengan kesimpulan bahwa menggali buah pikiran founding father memang bukan hal yang mudah. Meskipun begitu, bukan substansinya yang kita perdebatkan, tetap cara mendapatkan semangat yang tidak pernah berhenti berkobar demi tanah air tercinta, Indonesia.***

Related posts

One Comment;

*

*

Top