Museum Keliling Mandala Wangsit Tampil Perdana di Peringatan 58 Tahun KAA

Museum Keliling Mandala Wangsit pada Peringatan 58 Tahun KAA. (Foto: Liza KD)

Museum Keliling Mandala Wangsit pada Peringatan 58 Tahun KAA. (Foto: Liza KD)

Bisingnya raungan pesawat terbang dan ledakan bom tiba-tiba saja menghiasi suasana di sekitar jalan Cikapundung Timur pada Sabtu (20/04/2013) malam lalu. Suasana peperangan yang mencekam menyelimuti Peringatan 58 Tahun Konferensi Asia-Afrika. Namun, jangan panik. Suasana ini tidaklah nyata.

Suara pesawat dan ledakan bom berasal dari film yang diputar oleh Museum Keliling Mandala Wangsit Bandung. Mereka hadir memeriahkan suasana helaran tahunan Museum Konperensi Asia-Afrika. Uniknya, museum ini menggunakan ambulan kuno yang dulunya milik Rumah Sakit Majalaya pada 1957-1962. Konon, ambulan ini digunakan melayani kebutuhan perang ketika mengejar gerombolan DI-TII.

Museum Mandala Wangsit sendiri merupakan museum yang fokus pada sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia di Jawa Barat dan Banten. Museum yang terletak di Jalan Lembong 38 Bandung ini tengah direnovasi hingga awal Mei mendatang. Dalam Peringatan 58 Tahun KAA, Museum Mandala Wangsit memamerkan koleksinya berupa film dokumenter dan ambulan peninggalan masa perjuangan kemerdekaan silam.

Mayor Ciptadi, pimpinan tim Museum Keliling Mandala Wangsit, menuturkan bahwa konsep museum keliling ini baru sekali ditampilkan ke hadapan publik. Ambulannya sendiri sudah lama dipajang di halaman belakang Museum Mandala Wangsit. Setelah diperbaiki, akhirnya ambulan ini bisa kembali berjalan.

Kepala Seksi Pembinaan Dokumen Penulisan Sejarah dan Perpustakaan Museum Mandala Wangsit Bandung ini juga menambahkan bahwa pengunjung cukup antusias terhadap konsep museum keliling ini. “Pengunjung banyak berhenti dan menonton film yang diputar di sini (museum keliling),” ungkap Ciptadi. “Ke depannya, selain ambulan, juga akan dipajang senjata-senjata hasil rampasan masa peperangan dulu,” lanjutnya.

Mayor Ciptadi juga menyinggung perihal pentingnya museum sebagai 3 pilar pendidikan bangsa selain sekolah dan perpustakaan. Menurutnya, melalui museum, pihaknya ingin menumbuhkan rasa kebangsaan generasi muda melalui sejarah. “Apabila kita lupa sejarah bangsa, maka kita akan lupa identitas diri kita. Apabila kita lupa identitas diri kita, maka kita akan mudah dipengaruhi oleh orang lain,” papar Mayor Ciptadi.

Usai Peringatan 58 Tahun KAA, Museum Keliling Mandala Wangsit akan mengunjungi sekolah-sekolah dan beberapa titik keramaian lainnya seperti Dago Car Free Day, Jalan Braga, dan Jalan Cihampelas. Menurut Mayor Ciptadi, sekolah dan titik keramaian kota ini merupakan tempat yang sangat baik untuk mengedukasi masyarakat.

“Daripada masyarakat tidak mengunjungi museum sama sekali, biarlah museum yang mendatangi mereka dengan menjangkau sekolah dan titik keramaian kota,” tutupnya.***

*

*

Top