Pengunjung: Banyak Koleksi dan Informasi di Museum KAA

Oleh: Diah Paramitha dan M. Rosad

Main Hall Gedung Merdeka

Ruang Utama Gedung Merdeka (Foto: Diah Paramitha TP)

Gedung Merdeka julukannya. Bangunan ini sebenarnya sudah ada sejak 1920-an. Namun, mulai menjadi perhatian dunia sejak 1955, tepatnya ketika dijadikan tempat penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika pada 18 – 24 April 58 tahun silam. Mulai saat itu, gedung ini mempunyai banyak cerita menarik yang jauh dari pengetahuan publikasi kepada khalayak. Dan kini, gedung ini menjadi Museum Konperensi Asia-Afrika (KAA).

Salah satu bagian penting Museum KAA adalah ruang utama Gedung Merdeka atau yang sering disebut main hall. Tempat yang dulunya dipenuhi oleh para delegasi penting dari beberapa negara Asia-Afrika ini kini telah beralih fungsi menjadi tempat yang paling sering dikunjungi para wisatawan.

Walaupun rata-rata pengunjung yang datang mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di Museum KAA, mereka terkesan dengan berbagai hal yang bisa ditemui di sana. “Bagus ya, banyak gambar-gambar dan bisa jadi tahu sejarah. Di sebelah sana juga ada patung Bung Karno lagi berpidato. Menarik,” ujar Doni (42).

Selain main hall, para pengunjung umumnya tertarik juga pada ruang pameran tetap. Perihal ruangan tersebut, pengunjung mengungkapkan bahwa koleksi foto, naskah-naskah penting, dan berbagai peralatan juga atribut yang digunakan saat KAA 1955 berlangsung sudah cukup lengkap dan terawat dengan baik. “Ruangan yang ini (ruang pamer tetap museum) menarik, soalnya bisa lihat semua sejarahnya. Banyak juga koleksinya, jadi banyak dapat informasi yang dulu belum tahu,” tutur Hafiz (14), pelajar SMP Negeri 32 Bandung.

Meskipun begitu, tak sedikit yang menilai bahwa Museum KAA terlalu tertutup dari luar. “Museum ini bagus, tapi pintunya ketutup terus. Kayak kurang welcome. Jadi agak sungkan masuknya,” ujar Yuni (16).

Perihal pintu depan yang tertutup itu, Desmond S Andrian selaku pemandu wisatawan di Museum KAA menjelaskan bahwa terdapat regulasi yang mengharuskan pintu museum selalu ditutup. Secara teknis, hal ini disebabkan adanya pendingin ruangan di dalam museum. Namun, pihak museum sudah menyediakan papan pengumuman berukuran besar berkaitan dengan jadwal kunjungan yang dapat dengan mudah ditemukan oleh para pengunjung, tepat di depan museum. Seharusnya, pintu yang tertutup tersebut bukan menjadi alasan bagi para pengunjung yang benar-benar memiliki minat pada wisata edukatif.***

Related posts

*

*

Top