Sajian Panganan Tradisional a la Cikapundung Timur

Stand jajanan tradisional turut memeriahkan Peringatan 58 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Foto: Djunizar Ega)

Stand jajanan tradisional turut memeriahkan Peringatan 58 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Foto: Djunizar Ega)

Peringatan 58 Tahun Konferensi Asia-Afrika kali ini juga dimeriahkan oleh ragam panganan tradisional khas Jawa Barat. Mereka menggelar jualannya di area parkir Cikapundung Timur pada Sabtu dan Minggu (20-21/04/2013) lalu. Uniknya, pembelinya harus menggunakan “Uang Jadul” alias uang zaman dulu.

Bila tidak memiliki Uang Jadul, pembeli tidak perlu khawatir. Pasalnya, panitia menyedia stand penukaran uang jadul ini. Meskipun disebut zaman dulu, tetapi uangnya tidak benar-benar kuno. Panitia sengaja mencetak ulang replika uang dari era 1980-an dengan ukuran 40 persen lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Mereka menyediakan 3 jenis uang, yaitu pecahan Rp. 1.000, Rp. 5.000, dan Rp. 10.000.

Meskipun hanya replika, tetapi uang jadul ini berhasil mengundang antusiasme pengunjung, khususnya mereka yang pernah hadir di era 1980-an. Mereka bernostalgia dengan uang-uang tersebut. “Wah, ini uang zaman saya kecil dulu,” ungkap salah satu pengunjung.

Uang jadul replika ini juga menarik perhatian penonton muda yang notabenenya lahir setelah era 1990-an. “Ternyata uang tahun 80-an seperti ini, yah,” cerita salah satu pengunjung terkagum.

Meisya, koordinator kuliner Peringatan 58 Tahun KAA, menuturkan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkenalkan makanan tradisional yang pernah marak pada era 1980-an. Agar suasananya mendukung, pihaknya kemudian menjadikan pembayaran menggunakan replika uang di era tersebut.

Lebih lanjut, Meisya sengaja tidak menggunakan uang asli. Dikhawatirkan, uang-uang tersebut malah nantinya diperjualbelikan ulang. Selain itu, uang dari era 1980-an sangat sulit didapat saat ini. Bila pun ada, harganya bisa dipastikan lebih mahal. Sehingga diputuskanlah untuk membuat replikanya dengan mencetak di atas kertas foto. Agar penjual mudah mengindentifikasinya sebagai alat pembayaran yang sah, uang replika ini juga dibubuhi logo acara dan lambang museum.

Sesuai namanya, semua kuliner yang dijajakan dalam pameran ini berasal dari era sebelum tahun 1980-an. Guna mendapatkan pedagang yang layak, Meisya bersama timnya tidak segan-segan untuk survei keliling Bandung. “Panitia disebar (ke seluruh Bandung) untuk memilih pedagang kuliner tradisional yang bentuk dan kualitas rasanya masih terjaga,” terang Meisya.

Melalui pameran ini, Meisya berharap mampu memperkenalkan kembali masakan-masakan lawas dan langka ke lidah masyarakat modern Indonesia. “Kami juga berharap kegiatan ini bisa mengangkat kembali industri makanan tradisional dengan memperkenalkannya kepada pengunjung asing dari negara Asia dan Afrika,” paparnya.

Salah satu pedagang yang berjualan di pameran kuliner ini adalah Widi. Sehari-hari, Widi berprofesi sebagai pedagang Empal Gentong di bilangan Setiabudhi, Bandung. Ketika tengah berjualan di SMP Negeri 12 Bandung, dirinya didatangi sekelompok perempuan dan laki-laki untuk mencicipi makanannya. Lalu, mereka mengajak Widi untuk berpartisipasi dalam Peringatan 58 Tahun KAA. “Ternyata mereka adalah panitia yang sedang menyeleksi pedagang makanan untuk pameran kuliner ini,” cerita Widi.

Dalam membuat Empal Gentong, Widi mengaku masih menggunakan teknologi tradisional. Dia menggunakan gentong dan kayu bakar untuk memasak panganannya. Sebagai andalan cita rasa Empal Gentongnya, Widi menggunakan bumbu Daun Kucai yang kini sulit didapat.

Daun Kucai sendiri merupakan salah satu bahan bumbu masakan yang bentuk batangnya lunak seperti Daun Bawang. Menurutnya, rasa Daun Kucai memang mirip dengan Daun Bawang. “Hanya saja, Daun Kucai lebih nikmat dan membangkitkan selera,” nilai Widi.

Karena sudah sulit didapat, tak jarang Widi harus mencarinya di luar Bandung. Biasanya, dia membeli Daun Kucai langsung dari Cirebon. Karena, bumbu ini masih digunakan di Kota Udang tersebut untuk memasak Empal Gentong Cirebon. Hal ini juga menandakan bahwa panganan ini telah lama hadir di diri masyarakat Jawa barat.

Pedagang makanan tradisional lainnya adalah Dede Wiratmadinata. Dalam pameran kuliner tradisional ini dia memboyong jajanan jadulnya. Menurutnya, jajanan warisan nenek moyang Indonesia tidak kalah menarik dan memiliki cita rasa yang tidak kalah lezatnya.

Dalam berjualan, Dede berusaha memegang dua visi, yaitu melestarikan jajanan tatar Sunda, dan mendorong masyarakat agar tidak melupakan warisan moyang Jawa Barat. Visinya berjualannya ini benar-benar tampak dari keseriusannya menjajakan ragam jajanan jadul. Bahkan, untuk melengkapi ragam produknya yang sudah tidak diproduksi masyarakat, Dede berusaha membuatnya sendiri dengan dibantu oleh kerabat terdekatnnya. “Produk yang bikin sendiri seperti Sagon dan Angleng. Sedang yang masih ada di pasaran adalah produk pabrikan yang diambil dari jalan Gatot Subroto,” terangnya.

Dede sendiri memulai usaha jajanan jadul sejak 2006 silam. Beliau sudah menjajakan dagangannya di berbagai tempat di Bandung, seperti Mall, kampus, dan pameran kuliner.

Selama berjualan di Peringatan 58 Tahun KAA, Dede mengaku senang. Salah satunya ketika melihat orang-orang bernostalgia dengan jajanan ketika mereka kecil dulu. “Biasanya ibu-ibu bilang kalau makanan yang saya jajakan merupakan jajanan kesukaannya waktu di Sekolah Dasar,” cerita Dede.

Dede juga senang melihat ekspresi warga asing dan warga domestik di luar Bandung ketika melihat barang dagangannya. Umumnya, orang asing akan bilang bahwa makanan Dede sangat asyik dan hebat. Sedangkan orang-orang luar Bandung menilai bahwa makanannya lucu.

Meskipun begitu, Dede masih kurang puas dengan penyelenggaraan pameran kuliner dalam ajang ini. Pasalnya, pedagang makanan tidak berkumpul di satu lokasi tertentu, tetapi menyebar di berbagai lokasi. Sehingga tidak semua pengunjung tergiring untuk melihat semua kuliner yang dipamerkan. “Jadi suasana sekarang tampak setengah-hidup,” simpulnya.

Ke depannya, Dede menyarankan agar penyelenggara Peringatan KAA memperhatikan lokasi pedagang dan menempatkannya di satu lokasi tertentu. Tujuannya agar semua pedagang mendapatkan peluang yang sama dalam menjaring pembeli. “Namanya juga pedagang, pasti orientasinya uang,” tutupnya.***

Related posts

*

*

Top