Yasmin: Tanamkan Nilai dan Moral Kesejarahan

IMG_8030[1]

Yasmin (kerudung cokelat, ketiga dari kiri) berfoto bersama penerima penghargaan MKAA 2013. (Foto: Emeralda A)

Pada Peringatan 58 Tahun Konferensi Asia-Afrika, Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) memberikan penghargaan kepada Sahabat MKAA yang memiliki kontribusi besar terhadap MKAA. Salah satunya adalah Yasmin Nindya Chaerunissa (22), alumni Jurusan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia yang aktif memberi pembelajaran sejarah kepada publik.

Ditemui usai acara, Yasmin mengaku tidak menyangka akan menerima penghargaan tersebut. Menariknya, Yasmin adalah satu-satunya perempuan dari 10 orang yang menerima penghargaan.

Keterlibatan Yasmin di MKAA dimulai sejak 2009 lalu. Saat itu, gadis berjilbab ini sering mengunjungi perpustakaan MKAA terkait latar belakang pendidikannya, yaitu Sejarah. Dari sinilah kemudian dia mengetahui seluk beluk Konferensi Asia-Afrika 1955. Tak hanya itu saja. Yasmin pun mengaku tertarik dengan konferensi kulit berwarna pertama di dunia itu. Akhirnya, pada 2011, Yasmin memutuskan untuk menjadi relawan di MKAA dengan peran sebagai Public Educator.

Sejak saat itulah, Yasmin merasa banyak mendapatkan nilai-nilai dan semangat kesejarahan. Tidak hanya itu saja, dengan menjadi Relawan di MKAA Bandung, Yasmin juga mampu menginternalisasikan nilai dan semangat tersebut. “Konferensi Asia Afrika memberikan segudang inspirasi bagi saya, dan tentu saja untuk semua orang,” aku Yasmin.

Berbicara Sejarah, Yasmin mengaku bahwa bidang ini sudah menjadi bagian dari hidupnya, bahkan ketika masih duduk di bangku sekolah. Padahal, sejarah bukan jurusan mainstream yang banyak diambil para lulusan SMA saat itu. Lebih lanjut, Yasmin mengaku bahwa dengan sejarah dia belajar nilai-nilai dan moral yang dapat diterapkannya dalam kehidupan dewasa.

Ketertarikannya terhadap sejarah juga didorong oleh cita-cita Yasmin untuk menjadi guru. Karena dengan menjadi guru, lanjut Duta Bahasa Jawa Barat 2011 ini, dia akan mampu mentrasfer ilmu kepada banyak orang. “Bagaimana pun, transfer ilmu itu bukan hanya menyalurkan ilmu, tetapi (menyalurkan) nilai dan moral yang terkandung di dalamnya,” papar Yasmin. “Jika semua orang menjadi insinyur, dokter, dan duta besar, lalu siapa yang akan menjadi gurunya? Siapa yang akan membimbing mereka untuk menggapai impian mereka itu,” lanjutnya.

Ke depannya, Yasmin berencana melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister, baik dalam maupun luar negeri. Finalis mojang-jajaka Bandung ini juga berharap bisa menjadi Menteri Pendidikan Nasional suatu hari nanti.***

Related posts

*

*

Top