Cerita dari Gang Peneleh

Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat, Cindy Adams menulis di bab ke-IV, yang menyebut bahwa Surabaya adalah Dapur Nasionalisme , Ir.Sukarno menuturkan tentang kehidupannya di Surabaya bersama Haji Oemar Said Tjokroaminoto atau Pak Tjokro di. Jalan Peneleh, Gang VII No. 29-31, Surabaya. Begini penuturannya.

“Pak Tjokro adalatampak deopan HOSh pujaanku, aku adalah muridnya. Secara sadar atau tidak ia menggemblengku. Aku duduk dekat kakinya dan diberikan kepada buku-bukunya, diberikan padaku miliknya yang berharga. Ia hanya tidak sanggup memberikan kehangatan langsung dari pribadinya kepada pribadiku yang sangat kuharapkan…karena itu aku mengundurkan diri kedalam apa yang dinamakan orang Inggris “Dunia Pemikiran”.Buku-buku menjadi temanku”

Dibagian yang lain, Ir. Soekarno mengakui bahwa ia mendapati kemampuan untuk menggerakan massa disadari saat ia mulai mengamati gerak-gerik Pak Tjokro dalam orasi.  Rumah ini sejak 2009 dinyatakan sebagai cagar budaya dan dikelola oleh Pemerintah Kota Surabaya. Setelah dinyatakan sebagai warisan sejarah, barulah Rumah H.O.S semakin banyak pengunjungnya. Mulai dari anak TK (Taman Kanak-Kanak) hingga pemerhati sejarah. Hanya saja perawatan dan ketersediaan informasi yang berkaitan dengan history Rumah Pak Tjokro dirasa kurang diperhatikan oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Pak Eko Hadi Ratmo selaku Ketua RT setempat yang juga merupakan juru kunci Rumah H.O.S Tjokroaminoto memaparkan bahwa putri Soekarno, Sukmawati di tahun 1996 ke Surabaya untuk mendatangi rumah yang telah ditempati ayahnya semasa sekolah di HBS (Hoogere Burger School) Surabaya ini. Temuan Sukmawati ini berawal dari hasrat beliau membuka berkas-berkas Soekarno dan menemukan alamat tempat tinggalnya di Surabaya tersebut. Pada saat itulah, Sukmawati mendorong warga sekitar untuk mengajukan Rumah Pak Tjokro sebagai cagar budaya.

Tampak koleksi foto yaitu, pajangan foto dan meja beserta sisa peninggalan pemikiran dalam buku (foto kopi) tulisan Pak Tjokro Adapun pada sisi kanan ruang tamu yang berisi kursi dan meja yang menjadi tempat penjamuan. Hanya saja hingga dewasa ini meja dan kursi bukanlah warisan pemilik rumah tersebut. Bahkan keramik lantai pun jua tak lagi original seperti sedia kala. Hal ini dikarenakan tangan-tangan tak bertanggung jawab guna diperjual-belikan.

Dalam kamar, tak terdapat keranjang tidur Pak Tjokro, dimungkinkan juga telah berpindah tangan. Hanya tampak meja rias (cermin) dan lambang PSII (Partai Syarekat Islam Indonesia), di bagian lain, ada ruang yang terdapat di lantai II terletak dibagian belakang rumah dengan anak tangga (hasil peremajaan) yang tersedia. Dimana ruang ini merupakan tempat Pak Tjokro beserta kawan seperjuangannya merapat. Di sisi lain, ruang ini juga jadi tempat bersekat sebagai ruang istirahat Sukarno, Muso, Alimin, dan kawan-kawan. Keberadaan Cagar Budaya Rumah H.O.S Tjokroaminoto ini menjadi salah satu destinasi yang ciamik untuk belajar Surabaya dan diadopsi oleh Surabaya Heritage Track.

Dengan adanya lokasi bersejarah ini, paling tidak kita bisa mengenal bagaimana embrio pemikiran Ir.Soekarno terbentuk termasuk peran HOS.Tjokroaminoto bersama Serikat Islam (SI) saat pergerakan nasional awal abad ke-20, bahkan para pejuang kemerdekaan yang dikemudian hari malah berseberangan dengan Ir.Soekarno, semisal Musso dan Kartosuwiryo. Uniknya, mereka semua tergabung di rumah Pak Tjokro yang dijuluki Raja Tanpa Mahkota di Gang Peneleh.

*Sugiyanto, pegiat sAAs tinggal di Malang.

*

*

Top