Dari Pancasila ke Dasasila !

1 Juni 1945, saat itu senjakala pendudukan Kerajaan Matahari alias Jepang, nun jauh Perang Pasifik memasuki babak akhir. Dai Nippon tidak bisa menahan Indonesia untuk mendesign negaranya sendiri dengan nafas kemerdekaan, lepas dari kolonialisme. Hari itu lahirlah Pancasila, setelah perdebatan panjang 3 hari di BPUPKI, masing-masing memaparkan gagasannya, dari sekian banyak ide yang muncul, semuanya mengacu pada dua kata kunci persatuan dan persaudaraan. Ir. Soekarno sendiri menyederhanakan Pancasila itu adalah Gotong-Royong untuk mencapai masyarakat adil-makmur dan prasyarat utamanya adalah Indonesia Merdeka.

Selang 10 tahun kemudian tahun 195Garuda_Pancasila,_Coat_Arms_of_Indonesia5, (lagi) Pancasila dipropagandakan saat KAA 55, kalimat “Hidup dan Membiarkan Hidup” yang terucap, bisa jadi kata kunci Pancasila sebenarnya disitu, bahkan urat nadi Pancasila ada dikata-kata itu. Momen yang sangat cocok diambil Ir.Soekarno di saat KAA 1955, bagaimana tidak? sejumlah negara kawasan Asia-Afrika masih dalam proses, baru saja bahkan belum mencapai kemerdekaan. Leitstar (bintang penuntun) negara-bangsa mutlak dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan kerjsama internasional sekaligus kedaulatan, apalagi kekuatan internasional memecah planet Bumi menjadi Blok Timur dan Blok Barat.

Memahami Pancasila memang bukan sekedar hapalan, upacara belaka, men’setan’kan golongan lain. Atau, di”kerdil”kan, bahwa Pancasila dimaknai hanyalah cara untuk mengatur negara-bangsa Indonesia (saja) atau (hanya) dimiliki Indonesia semata. Akibatnya kalau urusan internasionalisasi, Pancasila menjadi hal yang berbeda tergantung percaturan antar negara yang berkuasa. Tentu berbeda jauh, saat Ir.Soekarno dulu mengkampanyekan Pancasila ke seluruh penjuru dunia. Universalisasi-kah ? Ya, itu benar. Pancasila memiliki pesan utama tentang perdamaian dan kemerdekaan yang berpusat pada perasaaan senasib-sepenanggungan, niat untuk bersatu, sadar akan jati dirinya untuk membangun peradaban baru yang lebih manusiawi.

Sebagaimana, tulisan Pan-Afrikanis bernama Julius Nyerere (1922-1999) dengan ide Ujamaa (kekeluargaan) sebagai dasar negara-bangsa Tanzania. Dikatakan, bahwa masyarakat Afrika terdiri dari komunitas dan terbangun atas ikatan kekeluargaan, yang dimana azas kolektivitas-solidaritas harus dijunjung tinggi. Binadamu wote ni ndugu zangu, na Afrika ni moja yang berarti “saya percaya kepada persaudaraan manusia dan persatuan dari Afrika”. Hal ini mengingatkan dengan konsep gotong royong didalam Pancasila yang mengutamakan persaudaran dan persatuan antar bangsa/internasionalisme. Demikian pula dengan ide Harambee (kerjasama) di Kenya dan Ubuntu (kemanusiaan) di Afrika Selatan, menjadi ilham pula dalam membangun benua Afrika.

Tentu sangat logis jikalau Ir.Soekarno mengajak seluruh negara Asia-Afrika untuk ber-gotong royong melawan segala bentuk penjajahan, sebab penjajahan-lah yang menghabisi segala nilai kebangsaan, kemanusiaan, keadilan, ke-musyawaraha-an, ke-Tuhan-an bahkan gotong royong. Garis Hidup Imperialisme! begitu kata Bung Karno, garis yang mengitari dari Selat Gibraltar, Laut Mediterania, Terusan Suez, Laut Merah, Samudera Hindia, Laut China Selatan dan Laut Jepang. Kalau sudah begini ceritanya, tidak pandang golongan, etnis, kepercayaan manapun akan dimangsa oleh imperialisme tanpa terkecuali.

Nah, coba tengok sejenak, saat Ir.Soekarno berpidato pembukaan KAA 55, di Gedung Merdeka,18 April 1955. Gong pertama sebelum lahirnya Dasasila Bandung di tanggal 24 April 1955.
“Djadikanlah Konperesi Asia-Afrika ini suatu sukses jang besar. Djadikanlah prinsip “ Hidup dan Membiarkan Hidup” serta sembojan “Persatuan dalam kematjam-ragaman”, kekuatan jang mempersatukan, jang membawa kita bergabung mendjadi satu, tjarilah dalam perbintjangan jang bersifat persaudaraan dam bebas, djalan dan tjara jang dapat mendjamin kemungkinan bagi masing2 untuk mendjalani hidupnja dengan tjaranja sendiri, dalam harmoni dan suasana damai”
Hak untuk menentukan nasibnya sendiri, bebas dari rasa takut, berdaulat bersama, dan bersahabat antar negara-bangsa. Artinya, antara Pancasila dan Dasasila sebenarnya adalah gotong royong untuk mencapai masyarakat adil, makmur, damai dan merdeka bagi Indonesia dan seluruh dunia, yang dimana jembatan tersebut sedang kita jalani.

Sekali lagi persatuan dalam keragaman! Ekasila, Trisila, Pancasila, Dasasila! Gotong Royong untuk Dunia Baru ! Uhuru !
*Haryo Kunto Wibisono, pegiat sAAs tinggal di Lampung.

*

*

Top