MKAA Gelar FGD Bersama Mahasiswa Se-Asia Tenggara

Salah satu kelompok diskusi tengah bertukar pikiran mengenai isu-isu di ASEAN. (Foto: Diah P)

Salah satu kelompok diskusi tengah bertukar pikiran mengenai isu-isu di ASEAN. (Foto: Diah P)

Dalam rangka menjalin kerjasama dan mempererat persahabatan antara Indonesia dengan negara-negara di wilayah Asia-Tenggara, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia melalui Public Educator Museum Konperensi Asia-Afrika (MKAA) menggelar Focus Group Discussion (FGD) mahasiswa dari berbagai negara di Asia Tenggara. Kegiatan ini digelar pada Sabtu (11/05/2013) lalu di Ruang Audio-Visual MKAA.

Kegiatan ini merupakan rangkaian short course Kementrian Luar Negeri RI yang digelar setiap tahun di Jakarta. Di samping kegiatan tersebut, penyelenggara juga mengajak peserta mengunjungi beberapa tempat bersejarah untuk memperkaya wawasan mereka. Salah satunya adalah MKAA di Bandung.

Tema yang diangkat dalam FGD kali ini adalah Bandung Spirit beserta relevansinya dengan Komunitas ASEAN 2015. Thomas Siregar, kepala MKAA, menjelaskan bahwa 3 pilar dasar yang dicanangkan untuk Komunitas ASEAN 2015 mendatang adalah Komunitas Politik, Komunitas Ekonomi, dan Komunitas Sosial-Budaya. Bagaimana pun, lanjut Thomas, bila ditelusuri ke belakang, Konferensi Asia-Afrika 1955 mengangkat 3 pokok bahasan yang sama, yaitu: Politik, Ekonomi, dan Sosial-Budaya.

Begitu pula dengan pertemuan Gerakan Non-Blok 1961, Deklarasi Bangkok 1967 yang melahirkan Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), dan Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 2005 yang menghasilkan New Asian-African Strategic Partnership (NAASP). Dari konferensi-konferensi ini dapat dilihat bahwa ternyata elemen-elemen substansi yang diangkat sejak 1955 hingga 2015 mendatang memiliki dasar yang sama. Oleh karena itu, papar Thomas, FGD kali ini dibagi berdasarkan tema tersebut.

Secara teknis, para peserta diskusi dibagi ke dalam 5 kelompok yang masing-masingnya terdiri dari lima sampai enam orang. Anggota kelompok merupakan gabungan antara rekan-rekan Public Educators MKAA dan peserta Short Course. Kemudian, setiap kelompok menerima subjek berbeda-beda yang tentunya masih berkaitan dengan isu-isu hangat dalam ruang lingkup negara-negara ASEAN sendiri. Subjek yang dibahas dalam bidang politik adalah Corruption dan South China Sea, dalam bidang sosial budaya adalah Education dan Woman and Children Welfare, serta dalam bidang ekonomi adalah Free Trade Area (FTA) and Labour.

Menurut Thomas Siregar, FGD yang baru pertama kali dilakukan di Museum KAA ini bisa dikatakan cukup sukses. Walaupun hasil dari pertemuan ini tidak akan menjadi sebuah rekomendasi khusus yang lalu diberikan kepada Kemlu masing-masing negara, tetapi kegiatan ini dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat baik bagi para peserta.

Untuk MKAA sendiri, teman-teman tim Public Educator yang biasanya lebih banyak berbicara satu arah ketika menjadi pemandu di museum pun, kini dapat mengembangkan dirinya dengan berdiskusi, bertukar pikiran, dan belajar mengutarakan pendapat. Selain menambah wawasan dan melatih kemampuan berbahasa, kegiatan ini juga bermanfaat untuk membangun hubungan antar sesama peserta yang berasal dari beragam negara. Di samping itu, hal ini juga membuat kunjungan para peserta Short Course yang datang dari Kamboja, Myanmar, Papua Nugini, Timor Leste, dan Laos ke Museum KAA menjadi lebih bermakna dari sekedar tur museum.

Acara yang dinamai Global Networking and Friendship Rendez-Vous ini sangat mendukung substansi MKAA yang berada di bawah naungan Direktorat Diplomasi Publik Kemlu RI. MKAA sendiri memiliki tugas untuk mendiseminasikan kebijakan dan informasi-informasi yang terkait dengan politik luar negeri. Untuk itu, diskusi ini dipandang sebagai sebuah bentuk diplomasi dalam format baru yang dapat mendiseminasikan gagasan secara efektif dan langsung kepada publik.

Di akhir acara, kepala museum berharap kegiatan ini akan berlangsung terus menerus dan dapat dikembangkan menjadi diskusi antara tim Public Educator MKAA dengan para mahasiswa dari beragam universitas di Bandung ataupun dengan para mahasiswa asing lainnya.***

*

*

Top