Selamat Hari Museum Internasional 2013!

mkaa1

Foto: Haryo KW

Who controls the past now controls the future, 
Who controls the present now controls the past
— George Orwell, 1984

Alkisah, tahun 2011, saya bertemu seorang Kolombia bernama Nicholas dalam sebuah acara. Singkat cerita di sesi coffee break, ia mengkritik kebiasaan pengunjung museum yang dinilainya hanya sekedar mejeng. Kira-kira dalam bahasa Indonesia, ia berujar, “Lihatlah, apa yang mereka lakukan (pengunjung museum)? Hanya sekedar foto-foto dan berdecak kagum saja.”

Dia mengakhiri percakapan tersebut, dengan mengenalkan istilah baru bernama Logika Museum. “Ya sudah, pengunjung setelah keluar, selesai semua urusan. Urusan sejarah yang terkandung, itu belakangan,” paparnya.

Lebih tajam lagi, Linda Tuhiwai Smith dalam buku Dekolonisasi Metodologi, mengkritik logika museum ala kolonial yang dilihatnya sebagai ajang pengumpulan artefak, koleksi benda-benda bersejarah yang digunakan untuk mempertontonkan koleksi tanah jajahan sekaligus menunjukkan betapa superiornya kekuasaan kolonial untuk menjaga pribumi. Akibatnya, dibentanglah garis pembatas antara dunia modern serta dunia tradisional. Pendefinisian siapa yang modern dan tradisional akhirnya membenarkan pula bahwa sejarah adalah milik masa lalu, sementara masa sekarang adalah milik sekarang. Pendek kata, siapa yang jadoel/baheula dan siapa yang up-to-date.

Menjelajahi museum pada dasarnya adalah meresapi perjalanan sejarah yang terbagi atas berbagai display atau pembabakan peristiwa. Saya yakin pada setiap peristiwa ada ruh atau spirit yang membentuk bagaimana bentuk material itu akan terjadi, semisal arsip atau dokumen bersejarah. Ditambah lagi, peristiwa bersejarah yang terjadi di gedung/tempat yang bersangkutan, ada semangat yang sedang dititipkan di sana. Singkat kata, ada semangat zaman yang sedang diwariskan di sana. Semangat zaman yang mungkin tidak pernah selesai dengan berdecak kagum saja di dalam museum.

Sudah tentu, perjalanan sejarah adalah dinamika gagasan, pemikiran, dan rangkaian peristiwa, yang tidak hanya sekedar menghafal tanggal, bulan, dan tahun serta meng-“iblis”-kan golongan tertentu. Dari sejarahlah, manusia bisa belajar bagaimana menghadapi masa depan, bagaimana merawat sebuah memori.

Bisa dibayangkan apa jadinya manusia minus memori. Manusia tanpa memori sama saja melegalkan gerakan lupa berjamaah, dan pada akhirnya (lagi-lagi) akan menganggap museum adalah tempatnya orang-orang masa lalu, dan sejarah sebagai tumpukan dokumen kusam tak berdaya.

Tentu kita harus sadar sepenuhnya bahwa tidak etis membandingkan museum dengan kemegahan mall atau apartemen. Apalagi membayangkan keceriaan manusia yang berkunjung ke mall sebanding dengan kegembiraan menikmati sejarah di museum. Namun, paling tidak kita harus paham dengan kalimat nyinyir dari Subcomandante Marcos, tokoh Zapatista dalam Bayang Tak Berwajah yang mengecam sikap generasi muda Meksiko terhadap sejarah bangsanya.

“Betapa nyaman kita dulu dengan Emiliano Zapata (pahlawan nasional Meksiko) yang ada dalam kubur, dalam museum, dalam buku-buku yang tak pernah dibuka. Menghadirkan Zapata itu ilegal dan subversif karena mimpi buruk yang disulutnya, dan ergo sejarah pun jadi ilegal dan subversif. Bukan cuma karena ia mempertanyakan masa kini, tetapi  juga membuat orang percaya (berjuang malah) bahwa masa kini yang lain itu ada,” begitu tulisnya.

Selamat Hari Museum Internasional, 18 Mei 2013. Semoga (tambah) belajar (dari) sejarah. Amin!

Lampung, 17 Mei 2013

*Penulis adalah penggiat sAAs, tinggal di Lampung.

*

*

Top