Sekedar Catatan FFAA III Jakarta 1964: Waktunya Asia-Afrika Menonton!

“Bagi Indonesia, film-film ini kebanjakan dari AS dan Barat. Tahun 1953 film jang masuk dari djumlah 3.243 terdapat film-film Amerika 2.132, Inggris 275, Tiongkok 204, Belanda 135, Malaja 75, India 56, Filipina 37 dan Indonesia sendiri hanya 152”.

“Tulisan dari T.Prawirosudiro dari Tjimahi jang dimuat dalam Pikiran Rakjat tgl.2/7-’56 menundjukkan bahwa dikalangan angkatan perang sendiri beredar film tjabul. Dari manakah datangnja film ini, siapa jang mengorganisir pemasukannja tidak diketahui. Hal ini semuanja berhubungan dengan politik import kita didalam mengimport film asing kedalam negeri dengan tidak memilih produksi film-film jang bermutu pendidikan.”
(Mimbar Penerangan, 1956,773)

(Gambar: ghiboo.com)

(Gambar: ghiboo.com)

Saya yakin, kawan-kawan di sini pasti pernah menonton film, terlepas dari apapun jenis film tersebut. Atau memperhatikan seluruh Festival Film, baik yang diadakan nasional ataupun level internasional seperti Piala Oscar. Namun siapa sangka ‘pergulatan film’ pada tahun 1960-an di Indonesia, terbakar pula semangat Solidaritas Asia-Afrika. Momen KAA 1955 dianggap sebagai pijakan untuk membangun sebuah rumah baru bernama Asia-Afrika di tengah dua rumah besar (USA dan Uni Soviet) yang saling berebut lahan Dunia. Setelahnya, seluruh pertemuan antara dua benua intens dilakukan, sebagai contoh: Festival Film Asia-Afrika (FFAA) III di Jakarta pada 1964.

Dalam buku Lekra Tidak Membakar Buku (2009,242) dikatakan bahwa Festival Film Asia-Afrika bertujuan memperkokoh persatuan, kerjasama, dan persahabatan pekerja-pekerja film Asia-Afrika, serta memajukan industri dan seni film nasional rakyat Asia-Afrika. Melawan penetrasi kebudayaan imperialisme-kolonialisme dan serta memberikan sumbangan positif dalam perjuangannya bersama-sama, serta membela perdamaian dunia.

Begitu kỉra-kỉra tujuan diadakannya FFAA III. Artinya, jangan dibayangkan bahwa pertemuan tersebut hanya sekedar membahas film yang baik, banyak konsumen/pangsa pasar, ataupun aktor/aktris yang paling ganteng dan seksi. Namun lebih dari itu, memutuskan sebuah resolusi bersama untuk bersaing dengan film produksi Hollywood. Nuansa zaman yang dihiasi oleh ‘politik sebagai panglima’ menjadi faktor tersendiri yang memicu ‘wajah film Asia-Afrika’ paska ‘sambung rasa’ 1955 di Bandung.

Dalam suasana tersebut, unsur solidaritas Asia-Afrika, artisitik, kualitas film, dan ideologi dipadukan dan menjadi standar perfilman. Maka dari itulah, dibentuk FFAA I di Tashkent/1958, FFAA II di Kairo/1960. Berikutnya, Jakarta menjadi panggung bagi berlaganya FFAA III, yang dihelat pada 19 April 1964. Ketua Umum Komnas FFAA dan Ketua Delegasi Indonesia Ny. Utami Suryadarma menyatakan bahwa, “Jadi film-film yang akan difestivalkan juga tidak boleh menyimpang dari itu (Semangat Bandung=Dasasila Bandung). Tegas ditolak film-film yang isinya mempropagandakan politik imperialism-kolonialisme lama dan baru, politik agresi, diskriminasi rasial, kebejatan moral, menghina Rakyat Asia-Afrika, dan yang bertentangan dengan solidariteit Rakyat-Rakyat Asia-Afrika.”

Jenis film yang difestivalkan antara lain film bergenre cerita, film anak-anak, dan film dokumenter. Adapun rentang waktu pembuatan film dilakukan sesudah FFAA II. Setiap Negara mengikutkan 3 film. Adapun juri untuk festival ini berjumlah 15 orang: 6 dari Asia, 6 dari Afrika, dan 3 dari Indonesia. Para juri terdiri dari sutradara, kritikus film, dan ahli perfilman.

Ada dua macam hadiah yang diperebutkan peserta. Pertama ‘Bandung Prize’ yang disediakan untuk 7 buah film cerita, anak-anak, dan dokumenter. Kedua, ’Lumumba Award’ yang disediakan untuk penulisan skenario, penyutradaraan, actor, aktris, fotografi, musik, dan art designing. Film Red Detachment of Women besutan Xie Jin tahun 1960 didapuk sebagai peringkat ketiga peraih Bandung Prize dalam ajang tersebut, sementara aktor Chen Qiang yang membintangi film itu dinobatkan sebagai aktor terbaik. Disamping itu, film Le Petit Etranger dải George Nasser (Lebanon), film A Spinner dari Korea Utara, Republik Persatuan Arab (Mesir-Suriah) membawa 5 buah film, yaitu: Open the Gate, Saladin, Puppets, Pride of Mediteranian, dan Engineers Diary 1963.

Festival ini diikuti 27 negara Asia dan Afrika, antara lain: Korea Utara, Mongolia, RRC, Jepang, Uni Soviet, Republik Demokrasi Vietnam, FNP Vietnam Selatan, Nepal, India, Srilangka, Pakistan, Republik Persatuan Arab, Lebanon, Tunisia, Rodesia Utara, Rodesia Selatan, Afrika Barat Laut, Kongo, Somalia, Mali, Irak, Zanzibar, Aljazair, Sudan, dan Ghana.

Paska FFAA III itulah, para seniman dan pekerja film Indonesia menyatakan ikrar yang menyatakan bahwa 30 April sebagai Hari Film Nasional dan Komunike FFAA III. Dalam pandangan Komunike, Film merupakan alat propaganda dan pendidikan, kualitas film yang dinilai secara ideologi, politik, dan artistik, dengan tujuan pengembangan kebudayaan nasional yang berlandaskan Kesetiakawanan Asia-Afrika.

Dampak dari adanya pentas FFAA III adalah ‘pembenaran’ bagi sejumlah aksi pemboikotan film-film AS yang dinilai sebagai dalang dari dekadensi moral dan penghinaan rakyat AA. Sebagai contoh adalah film Desert Fox produksi 1951 yang menceritakan Erwin Rommel, jenderal Nazi, dan Ten Commandments yang bekisah Nabi Musa produksi tahun 1956.

Tentunya idiom-idiom kontarevolusi, penggunaan kata ‘ganyang’, turut menghiasi pemboikotan ini. Sampai pada akhirnya The Beatles dan Koes Plus sebagai perwakilan musik ngak-ngik-ngok pun ikut digebuk. Pada fase ini, Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis Amerika Serikat (PAPFIAS) mengambil bagian dari aksi menetralisir seluruh film AS yang dianggap sebagai kekuatan imperialis plus sumber demoralisasi solidaritas Asia-Afrika.

Akhirnya, dari catatan sejarah itulah bisa kita melihat bahwasannya penegasan garis politik film menjadi refleksi ulang dalam melihat kondisi perfilman Indonesia saat ini. Hingga terkadang kaum ibu harus turun ke jalan untuk memprotes sebuah rumah perfilman sebab film-film yang diproduksi sangat berbahaya bagi keluarganya. Setidaknya, lewat FFAA III 1964 di Jakarta, ada semacam usaha untuk membuat kondisi perfilman lebih baik yang tidak melulu Hollywood. Dan lebih dari itu, nilai solidaritas Asia-Afrika, Semangat Bandung, dan penghormatan kepada kebudayaan nasional adalah hal yang tidak bisa ditawar dalam kontak perfilman internasional.***

*

*

Top