Kampanye Semangat Bandung di Afrika #112ThBungKarno.

Dalam rangka Hari Ulang Tahun yang ke-112 dari Ir.Soekarno rasanya kurang lengkap jika kita tidak menyimak pidato-pidatonya yang ditulis saat bertugas sebagai Presiden Republik Indonesia, khususnya saat berkunjung ke luar negeri, dalam hal ini Ghana. Sebuah negara di Afrika bagian Barat, yang meraih kemerdekaan dari kolonialisme Inggris di 6 Maret 1957. Lantas apa hubungannya antara negara yang terletak di seberang benua sana dengan Indonesia di benua lain?.

Masih ingat Konferensi Asia-Afrika atau Konferensi Bandung kan? Dasasila Bandung? Nah, diperhelatan 18-24 April 1955 itu, tiga utusan Ghana (saat itu Gold Coast/Pantai Emas) bernama Kojo Botsio (kelak Menteri Pendidikan), Miguel Francis Del Anang, James Gilbert Markham, datang ke Bandung bersama 29 negara lainnya, merumuskan Dasasila Bandung yang dikemudian hari membawa api kemerdekaan ke Benua Afrika. Alhasil, sampai tahun 1964, lahirlah 34 negara baru dari rahim Mama Africa dengan bidan Semangat Bandung.

Disaat yang bersamaan, kontak antara Indonesia dengan negara-negara Afrika semakin erat. Dibuktikan dengan kunjungan Ir.Soekarno ke Ghana, 14-16 Mei 1961 yang disambut 21 kali dentuman meriam. Kedatangan Ir.Soekarno sendiri dilatarbelakangi oleh penyelesaian masalah kemerdekaan di Afrika, seperti Kongo, Angola, Aljazair, termasuk Gerakan Non-Blok. Saat Ir.Soekarno ingin pulang ke Indonesia, Presiden Kwame Nkrumah menghadiahkan kain kenthe (kain tradisional Ghana), sepasang sandal, dan bangku khas Ghana. Kain kenthe yang dihadiahkan ke Ir.Soekarno bermakna Agyengyene-asu mengandung arti “juru perdamaian”

Berikut pidato kenegaraan yang saya terjemahkan dan sunting dari judul aslinya (versi Bahasa Inggris: The Building of An Independent Nation), disarikan dari Kwame Nkrumah Information and Resource Site, halaman 13-15, http://www.nkrumah.net/gov-pubs/gp-a212-61-62b/gen.php?index=9, silahkan ambil apinya, Uhuru!

 

Bangunan Bangssukarno-cvr-0a Yang Merdeka

Pidato balasan atas sambutan Presiden Osagyefo (Kwame Nkrumah) dalam jamuan makan malam di Hotel Ambassador, Presiden Sukarno berbicara tentang masalah bangsa yang kokoh dan kuat dalam prinsip keadilan, kemajuan, kemakmuran dan stabilitas. Berikut pidato yang disampaikan:

Yang Terhomat Bapak Presiden, Nyonya-Nyonya dan Tuan-Tuan!

Terimakasih banyak atas banyak kata yang sudah diucapkan. Saat Anda berbicara tentang bangsa saya. Saya menerima atas nama kebanggaan dari apa yang Anda berikan. Saat Anda berbicara tentang diri saya. Saya menerima kata-kata itu sebagai penghargaan dan rasa cinta kepada bangsa saya.

Saya sungguh gembira diantara Anda hari ini sebagai tamu dari negara yang merdeka dan berdaulat. Di kota Accra, saya mengetahui bahwa saya ada ditengah-tengah para sahabat. Saya mengetahui bahwa saya ada dimana orang-orang menghormati dunia dengan kesamaan cara kita sendiri.

Setelah pembicaraan disini, dan juga hasilnya, dari pengamatan saya, saya sadar bahwa bangsa kita menghadapi kesamaan masalah. Banyak sekali masalah nasional, dan diselesaikan secara nasional, tapi kita pasti bisa mengambil ilham dari keberhasilan satu sama lain

Tigapuluh tahun lalu, hampir seluruh Asia dan Afrika dikelilingi oleh berbagai jenis imperialisme. Para imperialis bertindak seperti halnya mereka akan hidup ribuan tahun lamanya. Bahkan, ada beberapa dari kita yang mengimpikan dan berjuang untuk kemerdekaan negara kita, dengan susah payah sudah meramalkan hasil dari perjuangan kita.  Tahun-tahun, sejak perang berakhir, hampir semua dari dua benua kita sudah merdeka. Ini adalah prestasi yang luar biasa, namun prestasi ini bernilai mahal. Ini adalah prestasi yang menuntut pengorbanan dan rasa sakit. Ini adalah prestasi yang dibeli dengan kematian, pengasingan dan pemenjaraan. Namun, apapun itu, nilainya akan terlihat, hasil yang bermanfaat. Tidak ada nilai yang lebih tinggi dari kemerdekaan sebuah bangsa. Tanpa kemerdekaan, sebuah bangsa dapat hidup, dengan kemerdekaan, sebuah bangsa dapat hidup, menjadikan bersemangat, kokoh dan kuat!

Bagaimanapun juga, seperti kita ketahui, bahwa mencapai kemerdekaan nasional adalah langkah pertama dari perjalanan panjang yang berat. Pengorbanan dan pekerjaan tidak berakhir saat kedaulatan tepat di tangan rakyat! Kemudian, datanglah perjuangan yang lain, perjuangan yang tidak kurang nyata, perjuangan yang tidak kurang vital, tidak kurang menguras tenaga! Itu adalah perjuangan untuk memberikan isi sebenarnya dari kemerdekaan. Tujuan kita tidaklah berakhir dengan kemerdekaan. Setelah kemerdekaan, kita bisa membangun kembali bangsa. Dalam upaya yang baru ini, tantangan baru, bangsa dan pemimpinnya diuji sekali lagi seperti sebelumnya!

Kita mencari kekuatan dan kekokohan kebangsaan! Dan kebangsaan ini tanpa henti harus mencari keadilan, kemajuan, kemakmuran dan stabilitas. Bangsa kita sudah memiliki, namun baru-baru ini muncul dari dominasi kolonial, namun perjuangan yang belum kenal lelah harus dilaksanakan. Ini untuk bangsa kita, dan semua bangsa yang baru muncul kembali dari periode kolonial!

Kadang memang diperlukan sarana-sarana teknis dan fasilitasnya sudah ada didalam bangsa, atau paling tidak bisa didapat secara mudah. Masalah datang ketika kita mencoba untuk menggunakan gabungan teknis atau modal ini dalam kerangka sosial yang solid dan progresif.

Selama masa yang panjang dari kolonialisme, kita perlu pasif dan tunduk kepada konsepsi sosial, karena itu adalah pertahanan terhadap sosial-kebudayaan untuk menyerang kolonialisme. Sekarang, bangsa kita, sebelumnya tunduk dan pasif, sudah mengembangkan konsepsi kemajuan sosial dan nasional sebenar-benarnya. Dengan tepat, merubah yang mana disebabkan banyak konflik dan tegangan. Dengan tepat, merubah ideologi dan tuntutan praktis dari bangsa merdeka yang disebabkan konflik, keduanya didalam negeri dan seluruh dunia!

Di seluruh dunia tidak membiasakan dirinya ke konsepsi kemajuan sosial dan nasional kita. Kita tidak ada didalam Old Established (baca: negara-negara Barat) dan kenyamanan bingkai internasional. Faktanya, keberadaan kita mengakibatkan ketegangan dan tekanan. Itu sudah pasti! Kita tidak dapat memecahkan masalah itu! Seluruh dunia  harus belajar untuk mengakomodasi bangsa yang baru lahir dan harus belajar untuk mengakomodasi juga ide dan tindakan yang dibawa oleh kita. Tidak ada alternatif untuk ini, siapapun dia, didalam bangsa kita, yang belum menyesuaikan diri mereka, atau untuk seluruh dunia. Dan sesegera mungkin dapat disesuaikan, dan segera akan menggerakkan dunia untuk lebih tinggi dari bentuk organisasi internasional dan penghargaan internasional!

Dalam negara ini, seperti di Indonesia dan memang diseluruh di dunia ini, muncul tuntutan untuk hidup dalam kondisi lebih baik, muncul tuntutan untuk kesetaraan akan rasa hormat dan kesetaraan dalam kesempatan, muncul tuntutan untuk penghapusan semua jenis diskriminasi. Revolusi yang menimbulnya tuntutan dari revolusi universal. Tidak ada ruang lagi untuk penggunaan dua tolok ukur (baca: Blok Barat dan Blok Timur) untuk mengukur umat manusia. Manusia adalah manusia yang ada diseluruh dunia, dan semua manusia menuntut dan berkesempatan atas pembagian penghargaan yang sejati dan setara. Semua pemimpin yang bercita-cita untuk kepemimpinan, harus paham ini, untuk mereka yang tidak paham, mereka akan berbenturan dengan realitas dasar dari kemajuan sejarah umat manusia!

Revolusi yang menimbulkan tuntutan dari kekuatan terbesar di dunia hari ini. Ini tidak pernah bisa ditahan! Kekuatan ekonomi tidak berdaya menghadapi itu! Kekuatan militer tidak berdaya melawan itu! Dan setiap lembaga politik yang hanya berpura-pura untuk memahami, menghargai dan bertemu revolusi ini ditakdirkan untuk kematian dini!

Kita di Indonesia sedang berusaha untuk bertemu dengan tuntutan yang pantas dari rakyat kita. Kita mengakui, Iya memang! Kita mendorong tuntutan-tuntutan ini dan kita berjuang untuk menemukan tuntutan mereka.

Kita sudah menyesuaikan metode nasional kita kedalam perjuangan ini, metode yang datang dari identitas nasional kita sendiri. Kita menggunakan metode Gotong Royong, saling bersama musyawarah dan mufakat, berisikan cara meraih kesepakatan dan menemukan konsensus dari pendapat melalui diskusi, tidak saling mengadu kepala dalam persaingan voting. Untuk hal ini, kita menambah aspek sosial dari agama kita, khususnya Islam dan Kristen. Dan untuk ini juga, kita bahkan menambah beberapa aspek sosial dari Marxisme. Hal ini bersama-sama menyusun tungku perapian, tungku perapian nasional, yang dimana semua aktivitas nasional kita diproses. Dan keluar dari tungku perapian nasional, kita harus menuangkan kepuasan hati dari tuntutan rakyat kita, kita di Indonesia sudah menyalurkan kehidupan nasional dan aktivitas nasional melalui revolusi secara menyeluruh, revolusi yang menyeluruh yang dipimpin oleh ideologi progresif dan nasional dan revolusi yang menyeluruh dibawah satu kepemimpinan.

Kita memiliki tiga tujuan dasar. Tujuan itu adalah:

  1. Mencapai kemerdekaan kita dan kesatuan Republik Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
  2. Membangun masyarakat adil dan makmur
  3. Persahabatan dengan semua bangsa-bangsa dan perdamaian ditengah-tengah bangsa-bangsa.

Tinggal beberapa menit lagi, saya tidak berharap untuk menceritakan lebih banyak tentang Indonesia. Saya tidak dapat menghapus hasil dari berabad-abad, yang dimana rakyat kita terpisah dan saling tidak mengetahui satu sama lain. Namun, saya ingin menyimpulkan dengan perkataan ini:

Saya menawarkan persahabatan paling hangat dari bangsa saya. Saya bersulang dan saya mengajukan itu atas nama sembilan puluh tiga juta rakyat Indonesia. Saya mengajukan bahwa kita minum untuk persahabatan terhangat diantara dua bangsa. Saya mengusulkan agar kita minum untuk pencapaian cita-cita nasional yang saling menguntungkan. Terakhir, saya mendoakan kesehatan untuk sahabat kita, pemimpin dari bangsa ini, Presiden (Kwame) Nkrumah !

*

*

Top