Empat film Aljazair wajib tonton, setelah keluar Gedung Merdeka

Singkat kata, dalam buku A Diplomatic Revolution: Algeria’s Fight for Independence and the Origins of the Post–Cold War Era, Matthew Connelly menuliskan (2002,81) bahwa Ben Youssef, Hossein Ait Ahmed, and Al-Fassi dikirim khusus ke Konferensi Bandung, 18-24 April 1955 dalam misi propaganda untuk meloloskan resolusi self determination Afrika Utara bersama delegasi Maroko dan Tunisia yang termaktub di Komunike Terakhir Asia-Afrika 1955 poin Masalah Bangsa-Bangsa Terjajah.

Sebagai bagian dari perang kemerdekaan Aljazair, perjuangan diplomasi dan bersenjata adalah strategi yang dipakai untuk memenangkan revolusi tersebut. Perang gerilya perkotaan lewat taktik café wars, pemboman, pemogokan massa, berguna untuk mendapat opini internasional meskipun harus dibayar pula dengan tindakan represif militer Prancis yang melakukan penyiksaan dan kontra-intelijen. Perang yang berkepanjangan sejak tahun 1954, militansi FLN (Front Liberation National) dalam mengagendakan kedaulatan Aljazair, dan diplomasi internasional yang menekan Prancis, pada akhirnya memerdekakan Aljazair tanggal 5 Juli 1962.

Epik perjuangan kemerdekaan Aljazair, menginspirasi sutradara ternama macam Youssef Chahine (Mesir), Gillo Pontecorvo (Italia), Rachid Bouchareb (Prancis), Lakhdar Hamina (Aljazair) untuk memfilmkannya sebagai wujud simpatik atas iklim anti-kolonial dijamannya. Sehingga, harap maklum jika karya filmnya berpihak Aljazair daripada Prancis. Sebab, film ini dibuat untuk menunjukkan kepada dunia internasional seluk beluk perang kemerdekan Aljazair, sekaligus meng-counter opini Prancis yang mencap gerakan nasionalisme Aljazair sebagai kegiatan tidak beradab,bar-bar, pemberontak, serta terorisme. Berikut, lima film yang mengisahkan perang kemerdekaan Aljazair. Istiqlaal! Merdeka!

1.Djamila the Algdjamila 1958erien (1958), Youssef Chahine

Mengambil ilham dari kiprah advokat Jacques Verges yang simpati kepada Aljazair, film besutan Youssef Chahine ini bercerita tentang sosok Djamila Bouchired (diperankan Magda), ikon pejuang wanita Aljazair yang tergabung aktif bersama FLN dalam beberapa peperangan. Bersama Zohra dan Samia, ia turut serta dalam perang Algiers tahun 1957, yang menewaskan Ali La Pointe dan menahan Lakhdar Brahimi serta Saadi Yacef. Dalam film berdurasi 118 menit ini, difokuskan kepada kiprah Djamila Bouhired mulai dari konflik batin saat di universitas, situasi kolonialisme Prancis di Aljazair, penyiksaan saat interogasi, pengadilan dan pemenjaraan tahun 1958, sampai tekanan dunia internasional atas represi yang diterima oleh Djamila Bouchired.

Penggambaran suasana perang perkotaan di Algiers dan peran wanita dalam perang Aljazair-Prancis adalah nilai tambah dari film ini, apalagi Naguib Mahfoudz (sastrawan terkemuka Mesir) ikut urun rembug dalam penggarapan naskah.  Hasil karya Youssef Chahine ini membuat ia dipandang sebagai sutradara Arab pertama yang mengangkat kisah patriotisme wanita Aljazair dalam perang kemerdekaan. Hal ini terkait pula dengan garis politik luar negeri Mesir yang mendukung perjuangan Aljazair tersebut. Akhirnya, kesan propaganda untuk mempublikasikan perjuangan Aljazair sangat kuat dalam film yang berbahasa Arab serta didukung oleh Mesir ini.

2.Battle Of Algiers (alg1966), Gillo Pontecorvo

Dengan durasi selama 120 menit, Gillo Pontecorvo ingin mengisahkan bagaimana seluk-beluk perjuangan kemerdekaan Aljazair dengan mengambil lokasi ibukota Algiers, khususnya kawasan Casbah. Film ini sengaja mengambil padatnya lokasi Casbah serta lika-liku gerilya perkotaan yang dilakoni Ali La Pointe, Lakhdar Brahimi, Saadi Yacef. Untuk mengemas suasana gerilya di kota Algier, sutradara Gillo Pontecorvo sengaja menampilkan pentolan FLN bernama Saadi Yacef untuk mengisi peran El Haadi Jaffar, aktor Jean Martin sebagai Kolonel Mathieu dari pihak Prancis, serta pemeran yang diambil dari penduduk kawasan Casbah sendiri lewat aksi dari Brahim Haggiag sebagai Ali La Pointe. Alhasil, bagi pemirsa yang ingin mengetahui penggambaran kejadian Perang Algiers di tahun 1957 sudah tercapai lewat film ini.

Film ini dianggap masterpiece yang mewakili wacana perfilman tentang perang Aljazair. Sebab, Gillo Pontecorvo berhasil menggambarkan bagaimana pembentukan kesadaran berjuang melalui Ali La Pointe, segregasi antara permukim Prancis di Aljazair (pieds-noir) dan Casbah/Algiers, teknik café wars yang ditampilkan Djamila, Zohra, Samia Lakhdari, serta operasi yang dilakukan pihak Prancis untuk menekan perjuangan FLN. Film berbahasa Arab dan Prancis ini diganjar berbagai penghargaan seperti Golden Lion pada Venice Film Festival (1967) dan dinominasikan Academy Awards dalam aspek Screenplay, Director dan Best Foreign Language Film. Termasuk 100 film terbaik sepanjang masa, diurutan ke-6 versi majalah Empire. Namun, sayangnya, pemerintah Prancis sempat melarang pemutaran film ini selama lima tahun, sebab menyinggung permukim pieds-noir dan memojokkan Prancis sewaktu Perang Aljazair-Prancis

3.Chronicle the Years ofChronique_des_annees_de_braise Fire (1975), Lakhdar Hamina

Melalui setting saat 1939 sampai 1954, film ini mencoba untuk menggambarkan kehidupan petani miskin di kawasan perdesaan Aljazair. Tidak seperti kebanyakan film perang Aljazair lainnya yang mengambil lokasi perkotaan, fokus film ini menitikberatkan petani miskin melalui karakter Ahmad (diperankan Vorgo Voyagis) dalam melihat asal muasal Perang Aljazair-Prancis. Mulai dari perdebatan harus memihak siapa saat Perang Dunia II dengan janji kemerdekaan bagi koloni Prancis-Aljazair, konflik batin bagi petani yang harus meninggalkan ladangnya untuk berperang, radikalisasi seorang petani miskin menjadi revolusioner, Pembantaian Setif tahun 1945 yang mengubah mindset orang Aljazair terhadap Prancis, sampai alasan bagi Perang Kemerdekaan Aljazair 11 November 1954.

Melalui durasi 2 jam lebih 30 menit, film yang diganjar penghargaan Palm D’Or tahun 1975 pada Festival Film Cannes cukup memberikan informasi, bagaimana tradisi kesukuan yang ada di Aljazair sampai jurang pemisah antara petani miskin dengan kolonial Prancis. Tidak ketinggalan, Lakhdar Hamina sendiri berperan sebagai Miloud, narator (tidak resmi) di beberapa adegan penting, semisal kehancuran desa akibat peperangan. Maklum, Curriculum Vitae sang sutradara yang pernah turut serta dalam gerakan FLN adalah nilai tambah bagi terciptanya film ini. Apalagi konteks yang ditampilkan adalah periode setelah Perang Dunia II sampai menjelang Perang Kemerdekaan Aljazair.

4.Outside The Law (20553881.1020.A10), Rachid Bouchareb

Diawali dengan adegan perebutan tanah di area Kabylie, serta Pembantaian Setif tahun 1945, tiga bersaudara yang mengambil profesi berbeda itu akhirnya dipertemukan dalam kesadaran bersama untuk membebaskan Aljazair. Said (Jamel Debbouze) yang berprofesi sebagai promotor tinju, Abdelkader (Sami Bouajila) aktivis FLN, serta Messaoud (Roschdy Zem) mantan serdadu Prancis dalam perang Indochina. Dengan durasi 2 jam 18 menit, film ini berkisah tentang tiga bersaudara dari Aljazair yang bernama Said, Messaoud, Abdelkader yang terlibat dalam perang kemerdekaan melawan kolonialisme Prancis. Sutradara Rachid Bouchareb sendiri menampilkan ikon tiga bersaudara tersebut setelah membesut film Indigenes tahun 2006 dengan aktor yang sama.

Film ini diformat ala kronologi peristiwa yang terjadi di Prancis dan Aljazair, dalam rentang waktu 1945 setelah pembantaian Setif, sampai tahun 1960-an awal saat tekanan kepada Prancis secara internal mulai menguat melalui pengorganisiran warga keturunan Maghribi yang bermukim disana. Dan selayaknya film yang berkisah perang Aljazair di wilayah perkotaan (baca: Battle of Algiers/1966) adegan gerilya perkotaan, serta penyergapan musuh di tengah kerumunan orang menjadi hal yang digarisbawahi. Film berdurasi 120 menit ini juga menjelaskan (sedikit) pertentangan antara FLN dan MNA (Mouvement National Algerie) dalam sikapnya terhadap kolonialisme. Garapan Rachid Bouchareb ini dengan manis menutup ceritanya via footage perayaan kemerdekaan Aljazair di jalan raya pada tanggal 5 Juli 1962. Alhasil, film ini turut pula dikompetisikan di Festival Film Cannes tahun 2010 dan mewakili Aljazair sebagai Best Foreign Language dalam 83rd Academy Award tahun 2011.

*

*

Top