Bung Karno di mata Aljazair #112ThBungKarno*

Memang benar sangat sulit memisahkan Bung Karno dari Indonesia, mulai dari pemikiran, padangan politik, kharisma, kehidupan pribadinya, serta segenap pro-kontra atas kepemimpinannya di 1959-1965. Dan bagi bangsa lain, seperti Aljazair, Bung Karno dan Indonesia adalah inspirasi utama atas kebangkitan rakyat Aljazair menantang kolonialisme Prancis. Gedung Merdeka, Bandung, 18-24 April 1955, adalah saksi kehadiran pejuang FLN Aljazair (Front de Liberation Nationale) bernama Yazid dan Hoceit Ait Ahmed dalam perhelatan Konferensi Asia-Afrika dan turut serta mendapat dukungan dari 29 negara Asia-Afrika, sampai akhirnya mencapai kemerdekaan Aljazair pada tanggal 5 Juli 1962.

Harian Rakjat (01/04/1955) melansir bahwa kedatangan pemimpin Aljazair, Hoceit Ait Ahmed dan Yazid tiba untuk menyatakan pendapatnya bahwa

“Suara Afrika Utara dalam Konferensi Asia-Afrika yaitu masalah kolonialisme. Suara Maroko, Tunisia dan Aljazair akan didengar dalam Konferensi Asia-Afrika yang akan diadakan nanti. Suara itu merupakan kesatuan dari gerakan nasional tiga negara yang tegas menunjukkan kepada dunia, bahwa Afrika Utara ialah satu dan penyelesaiannya tidak dapat dipisahkan yaitu, hak bangsa-bangsa Afrika Utara untuk bebas menentukan hari ke depan dan organisasi mereka sendiri”.

Sehingga, bukanlah hal yang mengherankan, jika nama Bung Karno sangat terkenang di hati rakyat Aljazair, seperti yang terwakili dalam surat Presiden Abdelaziz Bouteflika, yang dimuat di Jakarta Post, 6 Juni 2001, saat perayaan 100 tahun Bung Karno, berjudul A Tribute to Soekarno from People of Algerie. http://www.thejakartapost.com/news/2001/06/07/a-tribute-sukarno-people-algeria.html, berikut naskah tulisan yang sudah di-Indonesia-kan, silahkan ambil apinya.

            PenghAlgeria_President_Abdelaziz_Bouteflika1ormatan kepada Soekarno dari Rakyat Aljazair.

Ada beberapa orang yang memiliki kualitas unik, komitmen sempurna dan mempunyai visi yang jarang ditolak, dia muncul dari masyarakat yang menandai eranya dan kecerdasan sezaman dengannya. Oleh karena itu, perjalanan hidupnya melampaui dirinya sendiri dan mencakup orang-orang dari asalnya, untuk menjadi juru bicara mereka. Orang yang ulang tahunnya kita memperingati 100 tahun, mantan presiden Soekarno, tak ada keraguan untuk lingkup ini.

Pada kesempatan ini, kewajiban pertama saya, yang paling menyenangkan, adalah menggemakan kehormatan bahwa rakyat Aljazair ingin membalas-budi untuk orang hebat ini sebagai pengakuan atas dukungan yang terus-menerus perjuangannya untuk pembebasan rakyat Aljazair dan dunia ketiga lainnya, akan tetapi juga terpikat keadilan dan kebebasan. Sebagai penegak keadilan ini, Presiden Soekarno mengabdikan hidupnya untuk melayani negaranya, Indonesia dan juga mempertahankan semua negara Dunia Ketiga, yang dengan suara bulat membalas rasa hormat dalam perjuangannya untuk kemerdekaan.

Nilai-nilai ini telah digarisbawahi dalam pidatonya yang masih terkenal, disampaikan pada pembukaan Konferensi Asia Afrika yang diselenggarakan pada tanggal 14-18 April 1955, di Bandung, yang dimana ia adalah inisiator utama dan banyak dianggap sebagai “Pidato Pertama Orang Kulit Berwarna dari Asia dan Afrika “. Sebuah pidato pengukuhan yang mengungkapkan kesempurnaan kualitas kepimpinan Presiden Sukarno yaitu, “Selama banyak generasi, orang-orang kami telah bersuara. Kami, orang-orang Asia dan Afrika, sebesar satu miliar dan 400 juta, yang jauh lebih dari setengah populasi dunia, dapat memobilisasi menyokong perdamaian, yang saya sebut Moral Violence of the Nations”.

Melalui Konferensi di Bandung, Presiden Sukarno menawarkan untuk perjuangan Aljazair, dalam sebuah tribun yang tak terduga, untuk membuat suara mereka didengar, hampir beberapa bulan setelah memicu 1 November 1954 (baca: Perang Kemerdekaan Aljazair), perjuangan untuk kemerdekaan nasional. Dalam konferensi yang bersejarah ini beliau adalah inisiator, secara signifikan menandai masuknya sebuah suar, bangsa-bangsa Asia-Afrika muda ke panggung internasional. Konferensi ini melahirkan pembentukan Gerakan Non-Blok dan menjadikan Sukarno “pemimpin nyanyian anti-kolonialisme “.

Dalam dunia yang saat ini sepenuhnya terganggu dan nilai-nilai kemanusiaan semakin terkalahkan, gagasan yang dipertahankan oleh Presiden Sukarno semakin didalami dan menegaskan, jika diperlukan, relevansi dan kebenaran prinsip berharga yang begitu dihargai sangat mendalam, dimana Gerakan Non-Blok berasal.

Seorang pemimpin kharismatik, revolusioner, pejuang kemerdekaan untuk persatuan Indonesia, Presiden Sukarno bekerja tanpa mengenal lelah sepanjang hidupnya untuk cita-cita keadilan dan perdamaian, serta untuk promosi nilai-nilai universal yang secara fundamental dipasang. Indonesia bisa berbangga menghitung diantara anak (bangsa)-nya, seorang dengan lingkup Presiden Soekarno yang telah berlangsung selama generasi (kita) sebagai model dan contoh untuk diikuti.

Saya terus yang mengagumi dari militan besar ini yang terlibat di awal perjuangan untuk kemerdekaan negara-negara Dunia Ketiga. Saya, sampai sekarang, masih terkesan dengan keterbukaan pikiran, rasa humor dan pengetahuan yang luas tentang bahasa asing membawanya menjadi seorang pria yang luar biasa komunikasi. Dia, oleh karena itu, menikmati karisma yang langka, ditingkatkan oleh perilaku elegan dan membuat iri banyak orang sezamannya.

Untuk negarawan, kepada pendiri dan pimpinan tertinggi Gerakan Nasionalis, Presiden Pertama Republik Indonesia, orang yang karena tindakan dan keyakinannya, saya ingin membalas rasa hormat yang tulus dan layak dari lubuk hati untuk peringatan ini (baca:100 tahun Bung Karno), di mana rakyat Aljazair ingin bergabung sebagai saudara dengan rakyat Indonesia.

 

Penulis (pidato)  adalah Presiden Republik Demokrasi Rakyat Aljazair

*Trenggono Pujo Sakti, pegiat sAAs Jember

*

*

Top