Satu benua, Satu suara

pan_african_congress“1945, a decisive year in determining the freedom of Africa (W.E.B Du Bois)

Rasa memiliki diawali dengan keinsyafan bahwa ada hal yang harus dipertahankan serta diperjuangkan, begitu pula dengan “mengada” dan “menjadi” Benua Afrika dimana lahirnya sejumlah peradaban mulai dari megahnya Piramida di Mesir, kilauan emas Kerajaan Ashanti di Ghana, anggunnya bangunan Timbuktu empunya Kerajaan Mali, Tembok Zimbabwe hasil cipta, rasa, karsa Kerajaan Zimbabwe di Afrika Pantai Timur, dan hamparan kondisi geografis Afrika yang terbagi atas wilayah gurun dan hutan hujan tropis dengan kandungan alam yang kaya.

Belum cukup, beragamnya suku di Afrika mulai dari suku Xhosa dan Zulu di Afrika Selatan, Shona di Zimbabwe, Masai di Kenya, Ashanti di Ghana, Tuareg di Sudan, suku Bar-bar di kawasan Magribi berikut dengan hasil kesenian serta kebudayaannya menandakan bahwa kawasan Afrika adalah wilayah yang kaya akan keberagaman suku serta alam sehingga fase penjelajahan Eropa berikut pula kolonialismenya di abad 15-20, menginterupsi gerak peradaban tersebut. Singkat kata, daerah Afrika disasar program yang katanya “pencerahan” Eropa.

Problem abad ke-20 adalah problem kulit berwarna begitu kata W.E.B Du Bois membunyikan gong pembuktian bahwa perpaduan kehendak untuk merdeka dan bersatu sesama saudara Afrika,  mulai diserap para intelektual Kulit Hitam. Lahirnya Kongres Pan-Afrika tahun 1900 di London, 1919 di Paris, 1921 di London, 1923 di London, 1927 New York, dan 1945 di Manchester menjadi saksi urun rembug bahwa masa depan umat Afrika ditentukan putra-putri Mama Africa sendiri. Tahun 1945, dipilih menjadi inspirasi bagi nasionalisme Asia-Afrika babak ke-2, setelah fase renaissance ide kebangsaan yang mereka terima masing-masing diawal tahun 1900-an. Kwame Nkrumah bersaksi dalam bukunya Revolutionary Path (1973,42-43) bahwa;

“Kongres Pan-Afrika ke-5 berbeda. Untuk pertama kalinya, ada kerja keras dan partisipasi kaum cendekiawan, dan lebih dari 200 delegasi yang menghadiri datang dari Afrika. Mereka mewakili kebangkitan kembali kesadaran politik bangsa Afrika, dan tidaklah mengherankan saat Kongres, mengadopsi sosialisme sebagai (landasan) filsafat politik”. Segera, gerakan pembebasan kolonial akan berjalan di Afrika, tapi tidak hanya setelah Kemerdekaan Ghana 1957 yang mana Pan-Afrikanisme berpindah ke Afrika, tempat sesungguhnya dari Konferensi Pan-Afrika diadakan untuk pertama kalinya di tanah negara Afrika yang merdeka”

George Padmore mencatat dengan apik bagaimana jalannya Kongres Pan-Afrika ke-5 itu dalam karyanya Colonial and Coloured Unity: A Programme of Action; History of the Pan-African Congress. Dalam Kongres yang di­handle oleh Godfather Pan-Afrika, W.E.B Du Bois, menghadirkan calon-calon pemimpin bangsa Afrika dimasa mendatang yaitu Kwame Nkrumah (Ghana) Hastings Banda (Malawi), Jomo Kenyatta (Kenya), berikut pula dengan intelektual Obafemi Awolowo, Jaja Wachuku (Nigeria), Amy Ashwood Garvey (Jamaica), Peter Abrahams (Afrika Selatan), Ras Makonnen (Guyana). Kongres tersebut menghasilkan resolusi Declaration to the Colonial Workers, Farmers and Intellectuals untuk self determination, anti-diskriminasi ras, kesempatan ekonomi, serta kesetaraan antar bangsa.

Ditempat lain, panggung Perang Dunia II memasuki kala senja, para negara kolonialis mulai kelelahan dengan perang yang terjadi, banyak koloni di Asia-Afrika menemukan kaca benggala sejarah bangsa mereka untuk merebut kemerdekaan atas kolonialisme. Berkumpulnya para bapak-bangsa Afrika tersebut adalah momen penting bagaimana design pembebasan benua yang terbentang dari Jazirah Maghribi sampai Tanjung Harapan itu. Disaat yang bersamaan, di benua Asia terjadi pula pergolakan yang melahirkan negara-bangsa baru, seperti Indonesia, Vietnam, India, dan Republik Rakyat China. Tentu bukan kebetulan, jika di dokumen tersebut ditemukan salam pembebasan buat Indonesia dan Vietnam yang sedang bergelut mempertahankan kemerdekaannya yang baru sebesar orok. Begini bunyinya;

Greetings to Indonesia and Vietnam. The Fifth Pan-African Congress, representing people of Africa and African descent now in session in the City of Manchester, extends its fraternal greetings to the struggling peoples of Indonesia and Viet-Nam in their struggle against Dutch and French Imperialisms, and pledge solidarity with them in their fight for national freedom and economic emancipation. HANDS OFF INDONESIA! HANDS OFF VIETNAM!

Kemudian, 10 tahun kemudian di Bandung saat Konferensi Asia-Afrika, (lagi-lagi) para dedengkot pembebasan di Benua Afrika dan Asia bertemu kembali menjatuhkan vonis mati bagi kolonialisme, rasialisme, dan segala bentuk penjajahan, serta menjunjung setinggi-tingginya perdamaian dunia dan kesetaraan antar umat manusia. Pada akhirnya dekade 1940-1960-an adalah saat dimana peta Asia-Afrika berubah dan banyak pertemuan digagas oleh para pejuang kemerdekaan Afrika, semisal All-African People’s Conference 1958, termasuk pembentukan Organisation of Africa Union di tahun 1963, demi satu benua satu suara yaitu Uhuru/Merdeka.

 

 

Nb; Bagi yang ingin melihat jalannya kongres bisa akses via tautan ini http://www.marxists.org/archive/padmore/1947/pan-african-congress/index.htm

 

*

*

Top