Frantz Fanon: Tetralogi Bangun Jiwa Raga

Frantz_FanonKwame Nkrumah pernah berpendapat dalam Class Struggle in Africa (1970;28) bahwa penyebab terjajahnya mental adalah rasialisme sebagai cara memperpanjang nafas kolonialis dengan sasaran diskriminasi warna kulit/ras sekaligus pergaulan masyarakat. Hal ini sejalan dengan prosedur tetap kolonialisme untuk memenangkan kuasa lewat ekonomi, budaya, politik, sejarah, militer, ilmu pengetahuan bahkan mentalitas yang mencakup kondisi kejiwaan, psikologis, atau alam pikiran manusia. Tidak heran, jika Bung Karno dalam beberapa pidato pernah mengingatkan penyakit sisa penjajahan yaitu minderwaardigheidscomplex (penyakit minder atau rendah diri), dan mentalitas een naties van koelies en koelies onder de naties (bangsa para kuli dan kuli diantara bangsa lainnya). Semasa penjajahan, di Afrika muncul “pemakluman” bahwa kaum penjajah Eropa adalah pembawa misi pencerahan, beradab, rasional, serta berkebudayaan tinggi berkebalikan dengan rakyat Afrika yang dilihat sebagai wilayah bar-bar, liar, biadab, serta masih dalam masa kegelapan. Akibatnya, kenyataan cipta, rasa, karsa berbentuk Piramida Mesir, Bangunan Zimbabwe, Kerajaan Ashanti di Ghana dianggap peninggalan belum beradab (uncivilised).

Bisa jadi, inilah alasan Frantz Fanon, untuk mengkaji kejiwaan bangsa terjajah, khususnya rakyat Aljazair pada saat meraih kemerdekaan dan paska kemerdekaan (1954-1962). Pada mulanya, profesi psikiater menjadi batu pijakan bagi pria kelahiran 20 Juli 1925 dari keluarga kelas menengah, di Martinique, kepulauan Karibia, yang masih dalam masa kolonialisme Prancis. Dia sendiri adalah bagian dari Diaspora Afrika yang menyebar ke Hindia Barat atau Amerika Tengah. Asal-muasal dirinya yang dibawa melalui jalur perbudakan Trans-Atlantik menjadi awal dari kesadaran sebagai bangsa Afrika dan keluarga besar kaum Kulit Hitam. Pengalamannya selama menempuh jalur pendidikan di Martinique mempertemukannya dengan salah satu dedengkot gerakan Negritude yaitu Aime Cesaire dengan karyanya Discourse On Colonialisme (1955). Ilham inilah yang memberi pengaruh besar bagaimana pemikiran Fanon terbentuk sebab semangat Negritude untuk membangkitkan kesadaran kaum Afrika akan kebesaran budaya, sastra , sejarah dan warisan peradabannya.

Fanon sendiri sempat mengabdi “resimen kolonial” Prancis saat Perang Dunia II di wilayah Afrika Utara, melanjutkan studi di Lyon sembari belajar filsafat, mendalami pendidikan psikiater di Saint Alban sur Limagnole, kemudian bekerja di Rumah Sakit Bilda di Aljazair. Pengalaman melihat “kejiwaan warga kolonial” mengilhami lahirnya buku Black Skin, White Mask (1952). Perjuangan melawan kolonial Prancis yang mulai bergolak di Aljazair tahun 1954, mengantarkannya sebagai anggota FLN (Front Liberation Nationale) dan editor dari media El Moudjahid, tak lama kemudian ia pun didaulat sebagai perwakilan Pemerintahan Darurat Republik Aljazair (1958) untuk Ghana, termasuk hadir dalam All-African Peoples Conference di Ghana tahun 1958. Namun, sayangnya kemerdekaan Aljazair tanggal 5 Juli 1962, pembentukan OAU (Organisation of African Union) tahun 1963, tidak sempat disaksikan oleh Frantz Fanon, sebab 6 Desember 1961 di Maryland (Amerika Serikat), penyakit leukimia mengakhiri hidupnya.

Akan tetapi, Fanon mewariskan 4 (empat) buku berisi rancangan untuk membangun jiwa-raga bangsa yang pernah diinterupsi penjajahan. Bahkan, beberapa tokoh penggerak kebangkitan “Dunia Ketiga” mengakui karya Fanon sebagai ilham, mulai dari Che Guevara (Kuba), Ali Syariati (Iran), Steve Biko (Afrika Selatan), Malcolm X (Amerika Serikat), Ngugi Wa Thi’ongo (Kenya), dan sebagainya. Dari keempat karyanya tersebut, Fanon tegas memposisikan dirinya sebagai “abdi kemerdekaan Kaum Kulit Berwarna” yang dilihatnya mengalami penurunan derajat selama proses penjajahan. Dengan segenap pengamatan, catatan, serta pembelajaran tentang kejiwaan bangsa terjajah vs kaum penjajah, maka Fanon berikhitiar bahwa jiwa-raga bangsa terjajah harus dibangun sembari melakukan tugas suci menjebol masyarakat lama dan membangun masyarakat baru bebas segala bentuk penjajahan.

fanonblackskin2Black Skin, White Mask (1952)

Buku yang dituturkan Fanon saat menjadi psikiater di Saint Alban sur Limagnole, Prancis ini melihat bahwa label orang Kulit Hitam bermula dari mitos sekaligus penyebutan yang cenderung mengejek ras. Hal ini berdampak kesemua aspek dari bangsa-bangsa yang pernah dijajah, yaitu tercerabutnya jatidiri dan karakter atau alienasi (baca:keterasingan) kebangsaan setempat, singkat kata kolonialisme menyediakan kuburan bagi jiwa peradaban yang pernah dikandung oleh bangsa terjajah. Relasi Budak-Tuan berperan melanggengkan dominasinya dan dibenarkan pula oleh mitos kaum Kulit Hitam sebagai kelompok tidak beradab, liar, dan bar-bar. Diciptakan pula ide Negrophobia yang memandang bahwa kaum Kulit Putih mengalami ketakutan akan potensi yang dikandung kaum Kulit Hitam, sehingga diciptakanlah segregasi ras.

Fanon sendiri menganalisis sisi kejiwaan yang dialami kaum Kulit Hitam, berdasarkan 1) pengalaman kejiwaan yang dialami oleh kaum Kulit Hitam, 2) penafsiran atas Mitos kaum Kulit Hitam (hal.117). Kondisi kejiwaan kaum Kulit Hitam akibat mitos tersebut menghasilkan rasa rendah diri serta “men-Dewa-kan” kaum Kulit Putih. Lebih parah lagi, penguasaan jiwa oleh kolonialisme itu berakibat pada penguasaan tubuh berupa dibenarkannya perbudakan dan dikemudian hari bakal menjadi tergantungnya bangsa ex-koloni terhadap kolonial alias Dependency Complex Of Colonized Peoples (hal.61-81). Ironisnya, perilaku itu ditunjang pula oleh model meniru “tuannya” Kulit Putih untuk menjajah (justru) sesama kaum Kulit Hitam.

A Dying Coloa dyingnialism (1959)

Karya yang ditulis semasa Fanon bertugas di Aljazair, ditengah gelanggang perlawanan kepada kolonial Prancis mulai ditabuh sejak 1954. Buku berjumlah 179 halaman ini full menceritakan secara rinci bagaimana kondisi Aljazair semasa perang kemerdekaan, dibagi mulai dari Algeria Unveiled, This is the Voice of Algeria, The Algerian Family, Medicine and Colonialism, Algeria’s European Minority. Dus, buku ini membeberkan tercerabutnya relasi sosial diantara keluarga Kabylie perdesaan, hancurnya tatanan budaya Arab, diskriminasi terhadap Islam, segregasi sosial antara permukim Indigenes/pribumi terhadap Pied-noirs/pendatang Prancis, label teroris bagi kalangan FLN dan Fellagha/simpatisan pejuang Aljazair, bahkan persekongkolan antara petugas kesehatan Prancis, obat-obatan dengan sistem kolonial itu sendiri.

 

wretchedThe Wretched of The Earth (1961)

Sekali lagi, Fanon menempatkan dirinya sebagai juru bicara bagi gerakan nasionalis Asia, Afrika, Amerika Latin yang mengguncang dekade 1960-an, dengan lugas dia mengatakan bahwa ..National liberation, national renaissance, the restoration of nationhood to the people… decolonization is always a violent phenomenon (1961;133). Dalam buku ini dijelaskan pula tahapan dekolonisasi yang beralaskan menjebol tatanan “lama” dan membangun tatanan “baru”.  Wajar jika proses dekolonisasi ditandai dengan pertentangan nilai, sistem, dan ide “baru vs lama”. Kekerasan fisik dan jiwa selama proses dekolonisasi dianggap Fanon lumrah mengingat pihak penjajah akan mengerahkan segala kekuatannya untuk menekan “proses sejarah” masyarakat baru. Buku berjumlah 311 halaman ini ditutup oleh laporan studi kasus di Aljazair berjudul Colonial War and Mental Disorder yang melihat bahwa, selain rontoknya (usaha) niat untuk merdeka dan bersatu, maka proses penjajahan menciptakan gangguan mental, kejiwaan (baca: sakit jiwa), perilaku menyimpang, bahkan kelainan fungsi biologis bagi bangsa yang dijajah (hal.249-289) .

 

africanrevToward the African Revolution (1964)

Buku yang diterbitkan setelah Fanon meninggal dunia ini menceritakan gelombang kebangkitan dan arah baru bangsa Afrika diawal tahun 1960-an. Kemerdekaan bangsa Afrika justru awal dari lahirnya jiwa baru yang musti bangkit kembali dengan kebanggaan sebagai keluarga besar benua Afrika dengan sejarah dan peradaban yang diagungkan. Fanon menjelaskan bahwa banyak sekali penyakit mental (sindrom) yang harus dituntaskan, semisal mengatasi ketergantungan tehadap “mantan penjajah”. Kekerasan fisik dan mental semasa penjajahan “membenarkan” adanya kolonialisme sebagai “sesuatu yang wajar”, sekali lagi Fanon membeberkan bahwa bangsa lain lebih “unggul” atas sesamanya itu adalah mitos. En toch, pada akhirnya Fanon seakan memberitahu bahwa keluarga baru bernama Asia-Afrika-Amerika Latin siap menjadi bagian dari perjuangan mematahkan mitos “superior penjajah” yang ditanamkan saat kolonialis bercokol.

Buku ini turut mencatat kesaksian Fanon atas kejadian Bandung 1955 yang dinilai membantu perjuangan bangsa Afrika, begini..”The Bandung pact concretizes this carnal and spiritual union at one and the same time. Bandung is the historic commitment of the oppressed to help one another and to impose a definitive setback upon the forces of exploitation. (Frantz Fanon, Toward The African Revolution, 1964;146).

*

*

Top