New Majestic, Saksi Bisu Pasang-Surut Kawasan Braga

New Majestic (Foto: Diah PTP)

New Majestic (Foto: Diah PTP)

Ketika mendengar kata “Braga”, salah satu potret yang langsung muncul dalam benak saya adalah sebuah gedung yang bagian atasnya terdapat hiasan kepala Barong dengan lidah terjulur. Kesan mistis tetapi eksotis yang terpancar dari gedung itu selalu berhasil menyedot perhatian saya kala melintasinya. Kini, gedung tersebut kita kenal dengan nama “New Majestic”.

Berdiri pada 1925, Majestic merupakan bukti otentik atas kejayaan meneer-meneer Belanda pengusaha perkebunan kala itu. Layaknya orang kaya yang senang menghabiskan uang dengan berbelanja, kawasan Braga yang pada abad 18 hanya berfungsi sebagai jalur pedati, mulai bertransformasi menjadi deretan pertokoan elit à la Eropa. Namun, kawasan modern tersebut dirasa kurang lengkap tanpa adanya sarana hiburan. Berhubung jenis hiburan yang sedang populer saat itu adalah bioskop, akhirnya arsitek kenamaan Wolf Schoemaker diminta untuk merancang sebuah bangunan gedung bioskop. Kala itu, Schoemaker merupakan rektor Technische Hoogeschoolte Bandoeng  yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Dalam desainnya, Schoemaker menggunakan aliran Indo Europeeschen Architectuur Stjil. Aliran ini menggabungkan elemen-elemen arsitektur tradisional dengan teknik konstruksi modern barat. Hal ini terlihat jelas dari gaya art deco yang melebur dengan seni ukiran dan ornamen Barong pada bagian muka gedung. Sisi lain yang menonjol dari bangunan ini adalah bentuknya yang seperti kaleng biskuit. Dalam bahasa Belanda, masyarakat pribumi sering menjulukinya blikken trommel yang artinya kaleng timah atau kaleng biskuit.

Ketika awal berdiri, gedung ini dinamai Bioscoop Concordia karena letaknya berada di sebelah Societeit Concordia  yang kini menjadi Gedung Merdeka. Concordia merupakan Dewa Keharmonisan dan Kedamaian Romawi Kuno. Dalam waktu singkat, boskop ini kemudian menjadi tempat bergengsi para tuan tanah dan kaum elit Belanda. Orang-orang kaya pada masa itu datang dari berbagai penjuru untuk menonton atau sekedar bersosialita.

Selain menjadi simbol budaya, Bioscoop Concordia juga menyimpan memori mengenai rasialisme antara bangsa Eropa dan pribumi. Aturan yang berlaku di tempat ini adalah Verbodden voor Honder en irlander atau dalam bahasa Indonesia, “Dilarang masuk bagi anjing dan pribumi”.

Sistem promosi film yang dilakukan pada tahun 1920-an terbilang unik. Pengelola bioskop biasanya menyewa sebuah kereta kuda. Kemudian kusirnya akan membawa poster film berkeliling kota sembari membagi-bagikan selebaran. Hal ini menjadi hiburan tersendiri bagi pribumi dan anak-anak pada masa itu.

Film sendiri hanya akan diputar pada pukul 19.30 dan 21.00. Mendekati waktu tersebut, pelataran bioskop biasanya sudah ramai dengan beragam kegiatan, mulai dari para pedagang yang menjajankan makanan hingga sekelompok mini orkestra yang disewa pengelola bioskop untuk memainkan musik-musik ceria agar menarik perhatian orang.

Menjelang pemutaran film, kelompok orkestra tersebut akan pindah ke dalam bioskop. Di tahun tersebut film belum bersuara. Oleh sebab itu, terdapat seorang “komentator” dan sekelompok pemain orkestra yang akan memberikan musik latar bagi film yang sedang diputar. Sering kali, para pemain orkestra turut menjadi terkenal karena selain sering ditonton, mereka tentunya memiliki skill yang mumpuni.

Masa itu, tempat duduk di dalam bioskop sudah dibuat berundak. Undakan ini menunjukkan kelas dan harga tiket. Kelas 1 terletak di balkon, kelas 2 di bagian bawah belakang, dan kelas 3 di bagian paling depan. Selain itu, karena alasan kesopanan, seluruh penonton diharuskan berpakaian rapi. Kursi penonton pun dibagi menjadi dua bagian, yaitu kanan dan kiri. Pembagian ini untuk memisahkan penonton sesuai jenis kelaminnya. Namun, pada prakteknya, peraturan ini kerap dilanggar penonton.

Poster Film Loetoeng Kasaroeng. (Foto: Wikimedia.org)

Bioscoop Concordia juga menjadi saksi pemutaran film pertama yang mengangkat kisah asli legenda tatar Sunda, yaitu “Loetoeng Kasaroeng”. Disutradarai oleh dua orang Belanda bernama G Kruger dan L Heuveldorp serta dibintangi pemain pribumi. Film produksi NV Java Film Company ini diambil dari pantun “Si Lutung yang Tersesat”. Kala itu, pantun ini tengah populer di masyarakat Sunda. Pemutaran perdananya dilakukan pada 31 Desember 1926.

Bioskop ini bersinar hingga era 1970-an, saat mulai banyak bermunculannya film Indonesia. Sayangnya, kejayaan tersebut tidak bertahan lama. Pada 1980-an, bioskop ini mulai meredup seiring menurunnya kualitas dan produksi film dalam negeri, bermunculannya film-film erotis dari luar negeri, dan menjamurnya Cineplex. Bertahun-tahun setelah itu, bioskop ini semakin terpuruk karena hanya memutar film-film berkualitas rendah yang hanya ditonton segelintir orang.

Selepas Bioscoop Concordia, gedung ini sempat berganti nama menjadi Oriental Bioskop dan Bioskop Dewi. Bangunan ini kemudian sempat terbengkalai hingga dialihfungsikan pada 2002 menjadi gedung serba guna untuk  pertemuan, pameran, acara musik, dan lain sebagainya. Bangunan ini pun berganti nama menjadi Asia Africa Cultural Center (AACC).

Tak lama dari perubahan nama tersebut, catatan pahit kembali tertoreh di gedung ini. Pada 2008, terjadi tragedi yang mengakibatkan sepuluh orang meninggal dalam konser launching album salah satu band hardcore terkenal asal Bandung, Beside. Paska insiden tersebut, aktivitas di gedung ini sempat terhenti hingga direvitalisasi pada 2010 menjadi tempat pertunjukkan bagi para seniman untuk menggelar berbagai kegiatan seni dan budaya.

Kini, setelah 88 tahun menjadi saksi bisu yang setia merekam jejak sejarah, perubahan zaman, warna warni peristiwa, dan pasang surut yang menerpa kawasan Braga, gedung “Kaleng Biskuit” ini tetap kokoh berdiri dengan nama barunya New Majestic. Semoga, New Majestic ini bisa meniupkan semangat baru bagi Bandung sebagai ibu kota Asia Afrika yang selalu mengingatkan kita bahwa kekuatan besar dapat diciptakan dari kelompok-kelompok kecil yang peduli akan solidaritas dan perdamaian.***

(dari berbagai sumber)

*

*

Top