Richard Wright: dari Missisipi sampai Gedung Merdeka

“..melampaui Kiri atau Kanan”, “..Tidak ada antropolog, sosiolog, ilmuwan politik manapun yang pernah bermimpi (Konferensi Asia Afrika) dipentaskan..” (Richard Wright dalam Color Curtain, 1956;13)cats

Pada dasarnya, isu rasialisme adalah sasaran utama gerakan kaum Kulit Hitam saat melakukan pembangkangan sipil, misalnya kampanye kesamaan hak-hak warga negara dan anti-diskriminasi. Sebuah ide yang sudah dipupuk sejak gagasan Pan-Afrikanisme, Back to Africa, Black Consciousness oleh Marcus Garvey dalam UNIA (Universal Negro Improvement Association), George Padmore, W.E.B Du Bois dalam NAACP (National Association Advancement of Colored People), C.L.R James, tentang Kesadaran Rasial bagi Diaspora Afrika di era 1900-an awal, menjadi “kompor” bagi dilaksanakannya kongres Pan-Africa sejak tahun 1900 yang mencapai titik didih di tahun 1945, Manchester, sampai berseminya negara-negara baru di Benua Afrika lewat Ghana sebagai pelopor (1957).

Perhelatan Konferensi Bandung 1955 sendiri merupakan titik balik dari era kolonialisme. Tercatatlah nama Richard Wright sebagai pewarta dari “pertemuan dua milliar umat manusia tersebut” yang dibukukan dalam karya bernama Color Curtain (1956).  Pada mulanya Richard Wright mengatakan bahwa ia terkejut dengan berkumpulnya “negara-negara kulit berwarna” yang dipimpin “bekas tahanan politik” berdiskusi isu rasialisme, kolonialisme, serta perdamaian dunia. Tentunya, keraguan akan menyelimuti kemampuan negara tersebut untuk menyelenggarakan konferensi level internasional mengingat bangsa-bangsa tersebut baru saja lepas dari dominasi dunia Barat ataupun masih dalam cengkeraman kolonialisme.

Dari Missisipi ke Harlem

Missisipi adalah daerah di negara Amerika Serikat dari Kawasan Selatan Jauh (Deep South) bersamaan dengan produksi tembakau di sepanjang Sungai James hingga ke selatan North Carolina atau dikenal Tobacco Belt (Sabuk Tembakau), disamping itu terletak pula Cotton Belt (Sabuk Kapas) di Sea Islands, Charleston, dan Florida, daerah sungai Missisipi yang subur menyebabkan tumbuhnya permukiman yang meluas secara bebas di Sungai James di Virginia dan Sungai Altamaha di Georgia, singkatnya daerah tersebut sangat potensial untuk daerah perkebunan, termasuk komunitas Afro-Amerika pertama di Virginia tahun 1619, setelah sepuluh tahun permukiman Sungai James didirikan.

Kota Jackson, Missisipi, Richard Wright dilahirkan tanggal 4 September 1908, dari garis keturunan seorang budak, ibu yang sakit-sakitan dalam kemiskinan, serta ayah yang berpisah dengannya disaat usia lima tahun. Kemudian Wright kecil harus berjibaku dengan keadaan dan pindah ke New York tahun 1937 untuk menjadi editor surat kabar Harlem. Kegiatan tulis menulis inilah yang membuat ia terpengaruh oleh penulis Gertrude Stein dan filsuf Jean Paul Sartre saat berkunjung ke Prancis. Apalagi kunjungan Richard Wright tahun 1953 ke Ghana untuk bertemu Kwame Nkrumah dan berkorelasi pula Adam Clayton Powell anggota Kongres Amerika Serikat dari Harlem yang kelak turut menyertai ke Bandung, saat Konferensi Asia-Afrika 18-24 April 1955 dihelat.

Richard Wright tercatat sebagai generasi sastra modern (1914-1945) yang berlangsung di Amerika Serikat diawal abad 20-an, saat negara tersebut menikmati masa awal berkembangnya teknologi dan perindustrian, menjelang hantaman Depresi Besar di tahun 1930-an, pemuda yang berontak akibat keganasan Perang Dunia I, serta peralihan budaya yang didukung oleh berjamurnya klub malam, dansa, musik jazz, di perkotaan. Disamping itu, gemuruh kesadaran Kulit Hitam mulai dibunyikan oleh Marcus Garvey dan bergema sampai ke komunitas kulit hitam di Harlem, New York. Komunitas ini dianggap sebagai model gerakan kebangkitan budaya atau New Negro Movement bertujuan kesetaraan pemikiran serta kapasitas intelektual di bidang sastra, lukisan, musik, dengan kaum kulit putih di Amerika Serikat. Kelak dikemudian hari, grup ini dikenal dengan gerakan Harlem Renaissance.

Di Gedung Merdeka

Kunjungan semangat zaman Afro-Amerika ke Gedung Merdeka cukup terwakili dalam diri Richard Wright, berposisi sebagai penulis pemahaman kesadaran rasial antara lain sebagai berikut: The Man Who Was Almost Man (1939), Native Son (1940), Black Boy (1945), Uncle Tom’s Children (1938), The Outsider (1953), Color Curtain (1956), The God that Failed (1949), White Man, Listen! (1957), Black Power (1954), sampai berakhirnya karir kepenulisannya, saat meninggal dunia November 1960 di Paris.

Khusus buat Indonesia karya berjudul Color Curtain (1956) adalah warta berita bahwa ada semangat bergentayangan di Asia-Afrika yaitu Semangat Bandung. Laporan bergaya travel writing ini menyiratkan decak kagum Richard Wright atas kesatuan ras, agama, ideologi dan kebangsaan yang didasari keinsyafan Asia-Afrika bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan dari kamus umat manusia. Dihalaman 15-16 dituliskan tentang Richard Wright yang hendak melihat bagaimana koneksi yang terjalin antara kebangkitan Afro-Amerika di Amerika Serikat dengan hadirnya kesadaran rasial di Asia-Afrika.“Saya tumbuh dan menjalani hidup sebagai Amerika-Negro dengan segenap penderitaan yang pernah melekat dalam kehidupanku”, begitu motivasi kedatangan Richard Wright, ”Saya hanya ingin melaporkan apa yang terjadi di sana, untuk siapa? Untuk siapapun dia,” sambil berujar kepada istrinya.

Wright juga mengakui pertemuan Bandung penting bagi Asia dan Afrika untuk mengembangkan strategi yang dapat membebaskan negara-negara lain dan memodernisasi negaranya serta memainkan peran penting dalam hubungan internasional…Here were class and racial and religious consciousness on a global scale,,This meeting of the rejected was in itself a kind of judgment upon the Western World!” (1956;12)

 

Bacaan Lanjut:

Garis besar Geografi Amerika Serikat

Garis besar Kesusastraan Amerika Serikat

Wright, Richard. 1956. The Color Curtain. Banner Books:University Press of Missisipi/Jackson

Gambar

http://www.symphonyspace.org/event/7821/Film/richard-wright–black-boy (19/11/2013)

 

*

*

Top