W.E.B Du Bois, Godfather of Pan-Africanism

“Our point is that Pan-Africa belongs logically with Pan-Asia.” (W.E.B Du Bois 1868-1963)

Berbincang gerakan Pan-Afrikanisme identik dengan sikap radikal dari Marcus Garvey melalui Universal Negro Improvement Association (UNIA), namun di aras inteletual dan dunia ilmu pengetahuan, William Edward Burghardt Du Bois atau W.E.B Du Bois tak bisa dikesampingkan. Jagad sosiologi, ilmu sejarah, dan gerakan Pan-Afrika mencatatkan ilmuwan kelahiran Boston, Massachusets, 23 February 1868, dari pasangan Mary Burghart dan Alfred Du Bois. Pengalaman rasisme dan di-“warga negara kelas dua”-kan, tidak menghalangi keinginan keturunan Afrika Barat ini untuk menempuh pendidikan tinggi di Universitas Fisk, dan mendapat beasiswa ke Universitas Berlin, Jerman. Kemudian, dia melanjutkan jenjang pendidikannya ke Universitas Harvard dan menulis tesis berjudul The Suppression of the African Slave Trade to the United States of America, 1638–1870 di tahun 1896. Atas karyanya tersebut, Du Bois dianggap sebagai warga Afro-Amerika pertama yang meraih gelar Ph.d.

Otak encer dari W.E.B Du Bois mendorongnya studi lebih dalam tentang kehidupan warga Kulit Hitam di Amerika Serikat. Tahun 1897-1910 menjadi fase “ilmuwan cum aktivis”, mengawali sebagai peneliti sosiologi Universitas Wilberforce dan Universitas Pennsylvania, posisinya kemudian menanjak di level professor ekonomi dan sejarah di Universitas Atlanta. Disaat yang bersamaan,karyanya berjudul Strivings of Negro People (1897), The Study of Negro Problem (1898), The Philadelphia Negro: A Social Study (1899), menjadi salah satu karya penting dalam melihat Diaspora Afrika, serta dinamika komunitas Afro-Amerika yang ada di benua Amerika, apalagi disaat yang bersamaan dia sudah berkenalan dengan aktivis hak-hak sipil bernama Booker T.Washington.

Di tahun 1903 , Du Bois mempublikasikan karya berpengaruhnya berjudul The Souls of Black Folk yang bercerita “kepribadian ganda” warga Afro-A merika yang hidup sebagai ras Afrika dan warga negara Amerika Serikat, namun mengalami kebrutalan diskriminasi dari kaum Kulit Putih. Sehingga Du Bois mengajukan satu hipotesa penting tentang (pilihan) gerakan politik yang ditempuh oleh Kaum Kulit Htam untuk menghadapi supremasi Kulit Putih. William H. Ferris, pengampu media African Abroad mengatakan bahwa  Du Bois’s “Souls of Black Folk” has become the political bible of the Negro race.

Harlem Renaissance, Pan-Afrikanis, dan Perdamaian Dunia

dubois1

Curriculum Vitae dari W.E.B Du Bois juga mencatat dirinya penggerak Harlem Renaissance yang bertujuan menginsyafkan warga Afro-Amerika dari kondisi segregasi ras, kehidupan ditengah masyarakat Kulit Putih, dan bermuara pada isu kesetaraan antar warga di Amerika Serikat itu sendiri, berikut masalah feminis, identitas dan hak-hak sipil. Disaat yang sama New Negro Movement mulai mencuat gagasan kesetaraan pemikiran serta kapasitas intelektual di bidang sastra, lukisan, musik, yang melahirkan nama, Duke Ellington, Louis Armstrong (musik), Contee Cullen, Jean Toomer, Carl Van Cechten, Zora Neale Hurston, Langston Hughes (penulis), William H. Johnson, Palmer Hayden, Aaron Douglas, Lois Mailou Jones (pelukis).

Setelah mengorganisir Niagara Movement yang melahirkan media Horizon: A Journal of the Color Line di tahun 1905, maka tahun 1909, bersama Charles Johnson dan Alain Locke mendirikan NAACP (National Association Advancement of Colored People) sebagai editor dan media berjudul The Crisis. Sukses menggelorakan kesadaran sebagai Kulit Hitam dan identitas Afrika di Negeri Paman Sam, memicu  W.E.B Du Bois untuk memanaskan “tungku” gerakan Pan-Afrikanisme berikut Diaspora Afrika lainnya di Eropa. Bersama dengan Henry Sylvester Williams membentuk Kongres Pan-Afrika tahun 1900 di London, 1919 di Paris, 1921 dan 1923 London, 1927 New York, dan 1945 di Manchester, tentu yang monumental tahun 1945 sebagai “kawah candradimuka” bagi lahirnya pemimpin Bangsa Afrika di masa mendatang, seperti Kwame Nkrumah (Ghana), Jomo Kenyatta (Kenya), Hastings Banda (Malawi) dan embrio bagi lahirnya negara-negara baru di benua tersebut. Bisa jadi, salah satu mimpi W.E.B Du Bois yang ditunaikan adalah “konferensi kulit berwarna pertama” di dunia yaitu Konferensi Bandung 1955, babak berikutnya dari interaksi antara Pan-Afrika dan Pan-Asia, sekaligus hasrat untuk berdamai dan setara antar umat manusia.

Tahun 1950-an, saat Dunia Asia-Afrika berganti rupa, langkah W.E.B Du Bois semakin kencang dalam rangka gerakan perdamaian internasional, semisal 1949, World Peace Congress di Paris dan All-Soviet Peace Congress di Moscow. Tahun 1950 dia adalah ketua Peace Information Center (PIC) di New York, saat kondisi dunia dihantui ancaman Perang Nuklir. Belum lagi, kunjungannya ke Uni Soviet dan Republik Rakyat China, Eropa Timur, Eropa Barat untuk mempromosikan prinsip dunia yang damai. Atas usahanya tersebut, penghargaan Lenin Peace Prize disematkan kepada W.E.B Du Bois tahun 1959.

Kala senja dan Warisan

Kiprah Godfather of Pan-Africanism akhirnya memasuki senjakala saat kalender usianya memasuki kepala sembilan. Disaat senja itu pula, W.E.B Du Bois yang didapuk sebagai kewarganegaraan Ghana oleh Kwame Nkrumah, masih menyanggupi sebagai penulis Encyclopaedia Africana. Sampai pada akhirnya, 27 Agustus 1963, dalam pemakaman kenegaraan di Accra, ibukota Ghana, menjadi saksi dari adegan terakhir perjalanan seorang manusia bernama W.E.B Du Bois.

Warisan utama dari pemikiran Du Bois adalah sosiologi ras yang berbasis pada landscape ruang sosial permukim Afro-Amerika di akhir abad ke-19 dan 20. Hal ini menjadi alasan bagi dipenuhinya tuntutan penyetaraan hak kewarganegaraan dibidang pendidikan, pelayanan publik, politik, ekonomi, dan budaya. Alhasil, identitas kaum Afro-Amerika menjadi aspek yang diperhitungkan dalam ke-bhineka-an Amerika Serikat. Sementara itu, Du Bois dianggap menyempurnakan gerakan Pan-Afrika dengan pelibatan kaum cendekiawan yang menempuh pendidikan Barat sehingga dikemudian hari akan ber-kontribusi bagi kemerdekaan Afrika.

Terakhir, Du Bois juga membuktikan bahwa dengan rasa bangga, kehendak untuk insyaf ditambah persatuan, kaum Kulit Hitam (Kulit Berwarna) bisa “mengimbangi” kapasitas intelektual dan kebudayaan Kulit Putih. Seperti yang pernah dikatakan saat pidato kelulusan di Universitas Fisk, I am a Negro; and I glory in that name . . . I am proud of the black blood that flows in my veins”.

Bacaan lebih lanjut:

Adi, Hakim dan Marika Sherwood. 2003. Pan-African History, Political figures from Africa and the Diaspora since 1787. London. Routledge Publishing.

Bois, Du W.E.B. The Souls of Black Folk. Journal of Pan-African Studies,e-book, diunduh di http://www.jpanafrican.com/ebooks.htm

Stafford, Mark.W.E.B Du Bois: Scholar and Activist. Philadelphia:Chelsea House Publisher

sumber foto; http://www.naacp.org/pages/naacp-history-w.e.b.-dubois

 

One Comment;

  1. Pingback: Pemikiran Sosial Dari W.E.B Du Boisensiklo.com

*

*

Top