Hands Of Africa! Mengenang All-African People’s Conference, 5-13 Desember 1958

Tahun 1950 pertengahan, tepatnya rentang waktu 1955, 1956, 1957, dan 1958, dunia Afrika mulai berganti rupa, api semangat yang dibawa dari Bandung ditahun 1955 mulai bergentayangan di benua itu. Sepulang dari Bandung, para pemimpin Afrika mulai berani untuk memvonis mati segala bentuk penjajahan, ditandai kemerdekaan Sudan, Maroko dan Tunisia ditahun 1956, direbutnya Terusan Suez oleh nasionalis Mesir bernama Gamal Abdul Nasser, kemerdekaan Black Star Ghana di tahun 1957, dan berikutnya keluarga besar benua Afrika kembali berkumpul di Accra, Ghana tahun 1958 dalam tajuk All-African People’s Conference. Disaat yang bersamaan, September 1958, kolonial French Africa sedang bermutasi dari ikatan French Union menjadi French Community yang dasarnya yaitu memperpanjang gurita kekuasan kolonial Prancis di Afrika Barat. Namun, Guinea dibawah pimpinan Sekou Toure menolak untuk bergabung, malah mendeklarasikan kemerdekaan Guinea dibulan yang sama 1958.

tumblr_ln662ujD341qgfbgio1_500Kwame Nkrumah (sekali) lagi menunjukkan taringnya dalam memimpin keluarga besar Afrika untuk bersatu dan berdaulat diatas benuanya sendiri. Kepemimpinan yang kharismatis, dasar pemikiran Pan-Afrikanisme menjadi ruh dalam pembentukan negara-negara Afrika merdeka. Ghana dan Kwame Nkrumah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari catatan sejarah berdirinya Afrika baru. Hal itu ditunjukkan dengan bersedianya Accra, Ghana sebagai tempat berkumpulnya para kaum nasionalis Afrika. Setelah kemerdekaan Ghana, 6 Maret 1957, tanpa pikir panjang Kwame Nkrumah berinisiatif untuk mengadakan Conference of Independent African States (CIAS), dimulai sejak 15 April 1958 dan berakhir 22 April 1958, dihadiri: Ghana, Libya, Ethiopia, Liberia, Maroko, Tunisia, Sudan dan Persatuan Republik Arab (Persatuan Mesir-Syria saat itu). Pertemuan itu pada dasarnya adalah pra-kondisi menuju All-African Peoples Conference di Desember 1958, Kwame Nkrumah bersaksi dalam bukunya Revolutionary Path, (173, 128)

 “…Apakah maksud dari konferensi bersejarah ini? Kita disini untuk mengetahui diri kita masing-masing dan menukar pikiran dari kepentingan bersama, untuk mencari jalan, mengkonsolidasikan dan mempertahankan kemerdekaan kita, untuk memperkuat ikatan ekonomi dan kebudayaan dari negara-negara kita, untuk mencari kesepakatan yang berguna untuk menolong para saudara kita yang masih menderita dibawah kekuasaan kolonial, untuk menjelaskan problem utama yang mendominasi dunia hari ini, yang dinamakan masalah bagaimana menjaga perdamaian…”

Intinya adalah penguatan kembali ikatan yang terjalin antara negara Afrika yang baru merdeka setelah Konferensi Bandung untuk kemudian menyebarkan pesan kemerdekaan dan perdamaian ke saudara-saudara Afrika lainnya yang masih dikangkangi penjajahan, antara lain Kenya, Aljazair, Kongo dan lain sebagainya. Disaat itu, dimulailah Konferensi bertajuk All African People’s Conference 8-13 Desember 1958, kedatangan Tom Mboya, George Padmore, dan Patrice Lumumba menjadi nilai lebih tersendiri bagi Konferensi yang disebut “mutasi Kongres Pan-Afrika” gagasan W.E.B Du Bois dan sentuhan Back to Africa dari Marcus Garvey.

Apalagi kehendak dari negara Afrika yang merdeka untuk sesegera mungkin menyatukan benua Afrika, dengan konsekuensi para saudara (Afrika) mereka turut serta dibebaskan dari penjajahan. Dukungan mengalir dalam bentuk kehadiran para delegasi antara lain Maroko, Tunisia, Aljazair, Mesir dari Afrika Utara, dari Afrika Timur diwakili oleh Somalia, Kenya, Tanganyika, dan Zanzibar, Nyasaland, Rhodesia Selatan dan Utara di Afrika Tengah turut hadir, dari Afrika Barat diwakilkan oleh Kamerun, Nigeria, Sierra Leone, Senegal, Pantai Gading, dan Togoland.

Secara diplomatis, tekanan kepada negara penjajah semakin kuat, dukungan dari Republik Rakyat China dan Uni Soviet, dengan kehadiran I.I. Potekkin, Deputi Direktur Academy of Sciences of the U.S.S.R , belum lagi sejumlah warga Amerika Serikat antara lain; Charles Diggs dari Kongres Detroit, Dr. Marguerite Cartwright, Mrs. Mary-Louise Hooper dari San Francisco, yang menjadi perwakilan delegasi Afrika Selatan, Claude Barnett dari Associated Negro Press bersama istrinya Etta Moten Barnett; Dr. Horace Mann Bond, Mercer Cook, dan John Davis perwakilan American Society on African Culture; Irving Brown dan Maida Springer dari AFL-CIO; Robert Keith dari African-American Institute; Mrs. Paul Robeson; Mrs. W. E. B. Dubois; Alphaeus Hunton, mantan sekretaris Council on African Affairs; James Lawson dari United African Nationalist Movement sekaligus pengikut Garveyisme di Amerika Serikat.

Nadi utama dari hasil All-African Peoples Conference yaitu, 1) bekerja secara aktif untuk untuk membasmi kolonialisme dan imperliasme, 2) penggunaan cara non-kekerasan untuk mencapai kemerdekaan politik, tapi mempersiapkan untuk melawan kekerasan jika kekuatan kolonial mengambil jalan pemaksaan, 3) mempersiapkan Sekretariat Permanent untuk mengkoordinasikan semua perjuangan dari gerakan nasionalis di Afrika untuk mencapai kemerdekaan, 4) mengutuk rasialisme dan sukuisme dimanapun mereka berada dan mengutuk kebijakan apartheid di Afrika Selatan, 5) berusaha untuk mencapai Persatuan atau Perserikatan dari negara-negara Afrika.

lumumba2Hal ini memberikan angin segar kepada beberapa negara yang masih berjuang untuk merdeka, seperti Kenya yang melangsungkan pemberontakan Mau-Mau melawan Inggris sejak tahun 1952, pembentukan Pemerintahan Pengasingan Aljazair (GPRA) tahun 1958 sebagai kepanjangan tangan diplomatik Aljazair untuk menekan Prancis, serta bergeloranya MNC (Mouvement National Congolaise) dipimpin Patrice Lumumba untuk menantang kolonialisme Belgia, militansi yang semakin menghebat dari ANC (Africa National Congress) dikomandoi Nelson Mandela dan Walter Sisulu untuk menghantam rejim apartheid di Afrika Selatan. Termasuk memunculkan tokoh, Hastings Banda pemimpin Nyasaland (sekarang Malawi), Kenneth Kaunda dari Zambia, Holden Roberto dari Angola, bahkan mengukuhkan kharisma kepemimpinan Kwame Nkrumah atas penyatuan benua Afrika alias konsep United States of Africa, yang dipadu kekuatan politik Gamal Abdul Nasser diwilayah Afrika-Arab. Untuk selanjutnya, program All-African People Conference 1958 mengarah kepada konferensi ke-2 di Tunis, Tunisia 25-30 Januari 1960 dan ke-3 di Kairo, Mesir, 25-31 Januari 1961 dengan agenda yang sama yaitu penyatuan Benua Afrika, solidaritas antar negara Afrika sekaligus bahan baku untuk Organisation of African Unity (OAU) tahun 1963.

Pada akhirnya, konferensi demi konferensi yang dilakukan keluarga besar benua Afrika menekan presiden Prancis Charles De Gaulle tatkala perjuangan kemerdekaan Aljazair semakin mendidih ditambah dukungan internasional yang terus mengalir ke beberapa koloni Prancis sendiri. Lalu, Kerajaan Belgia mulai dibuat pusing oleh meluasnya gerakan nasionalisme Kongo, hingga bolak-balik mengirim Patrice Lumumba ke hotel prodeo. Seraya kemudian, Perdana Menteri Inggris Harold McMilan harus berpidato Wind of Change tahun 1960, yang menandakan bahwa rakyat Afrika sekarang bangsa merdeka dan biarkanlah (Afrika) membangun bangsanya sendiri, angin perubahan sedang bertiup di benua Afrika, menyukainya atau tidak, bahwa perkembangan kesadaran nasional adalah fakta politik.

HENCE FOR OUR (AFRICANS) SLOGAN SHALL BE: PEOPLES OF AFRICA, UNITE! YOU HAVE NOTHING TO LOSE BUT YOUR CHAINS! YOU HAVE A CONTINENT TO REGAIN! YOU HAVE FREEDOM AND HUMAN, DIGNITY  TO ATTAIN! And to the Colonialists we say HANDS OFF AFRICA! AFRICA MUST BE FREE!  (Ghana, 13 Desember 1958, kata penutup terakhir dari resolusi  All-African People’s Conference)

 

Sumber bacaan:

A Report on the All African People’s Conference Held in Accra, Ghana. December 8 -13, 1958, by George M. Houser, American Committee on Africa, 4 West 40 th Street , New York 18, New York

Nkrumah, Kwame. 1973. Revolutionary Path. London: Panafbooks

Rothermund, Dietmar. 2006. The Routledge Companion to Decolonization. New York; Routledge

 

Sumber foto:

http://uhuruspirit.org/news/newsdetail.php?x=782#.UqnpWfQW0SU

http://diasporicroots.tumblr.com/post/6776990407/kwame-nkrumah-addressing-the-all-african-peoples

16 Comments

*

*

Top