Krisis Kongo, Pembunuhan Lumumba dan Surat Terakhir

Minggu-minggu berikutnya setelah Deklarasi Kemerdekaan Kongo, 30 Juni 1960, situasi negara Kongo bergerak menuju Kongo Baru yang berdaulat, segala tenaga bangsa diarahkan untuk mencapai kemandirian ekonomi, politik, dan budaya. Lumumba berada digaris depan untuk menggalang keberpihakan Kongo kedalam kelompok anti-kolonial sedunia. Hubungan dengan Belgia dan Amerika Serikat diistirahatkan, Kongo memilih  bergotong royong dengan Ghana (Kwame Nkrumah), Guinea (Sekou Toure), Mesir (Gamal Abdel Nasser), Uni Soviet dan China untuk membabat habis pengaruh Blok Barat di benua Afrika.

Di bidang ekonomi, Lumumba merencanakan program nasionalisasi perusahaan Belgia dan Prancis yang bercokol seiring dengan proyek kolonialisme Belgia-Kongo sejak tahun 1908. Di aspek politik, Lumumba berniat mendamaikan gesekan antara golongan sipil dan militer, sebab kelompok militer banyak mendapat sokongan dari pihak Belgia. Di satu sisi, Lumumba mengusulkan ke Presiden Kasavubu untuk memusatkan seluruh kekuasaan pemerintahan ke partai MNC (Mouvement Nationale Congolaise) dengan tujuan keadaan politik yang stabil semasa periode transisi, sebab Belgia masih menyisakan satu ‘provinsi boneka’ Katanga yang dikomandoi Moise Tshombe.

Di tengah periode transisi itu, berbagai gesekan dan nyerempet-nyerempet bahaya sering terjadi, amok warga Kongo kepada permukim Belgia di perkotaan, militer yang tidak menerima konsep Lumumba tentang pemerintahan sipil memilih untuk dipimpin Mobutu Sese Seko, tekanan pihak Belgia-Amerika Serikat lewat “bonekanya” Moise Tshombe, sementara itu Presiden Kasavubu yang berposisi sebagai kepala negara parlementer atau simbol negara semata tidak punya banyak pilihan, selain akhirnya memecat Lumumba sebagai Perdana Menteri dengan alasan ketidakmampuan menangani chaos semasa transisi kemerdekaan Kongo.

Keputusan Presiden Kasavubu memecat Lumumba tanggal 5 September 1960, berbarengan dengan isu yang menyatakan bahwa Lumumba akan men-Soviet-kan Kongo, pengkhianat, pemecah belah Kongo dsb.dst. Mobutu Sese Seko perwakilan golongan militer pun bergerak mengamankan Lumumba sebagai tawanan politik pada tanggal 14 September 1960 dan 2 (dua) bulan kemudian mengirimnya ke Katanga untuk menjauhkannya dari dukungan massa pro-Lumumba. Namun, pihak Mobutu Sese Seko dan Moise Tshombe sudah kongkalikong untuk tukar-guling kesepakatan seusai Lumumba dipecat dan Presiden Kasavubu dilemahkan kekuasaannya. Akhirnya, disetujui bahwa Lumumba harus dieksekusi mati tanggal 17 Januari 1961. Setelah eksekusi tersebut, drama perjalanan sejarah Kongo semakin dihiasi tragedi, termasuk “kudeta merangkak” Mobutu Sese Seko ke Presiden Kasavubu, kemudian gilirannya Mobutu Sese Seko menyingkirkan Moise Tshombe untuk berkuasa selama 32 tahun kedepan sejak tahun 1965.

Pada dasarnya, pembunuhan Lumumba ialah semacam “uji kekebalan” bagi persatuan Benua Afrika yang diusahakan Kwame Nkrumah, Sekou Toure, dan Gamal Abdel Nasser, Modibo Keita sebab sesaat setelah Lumumba dibunuh, persatuan Benua Afrika terbagi sikapnya antara mendukung kebijakan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang ditunggangi Belgia-Amerika Serikat, mengirim aksi militer sendiri, menekan PBB lewat Solidaritas Asia-Afrika, atau malah “meminjam tangan” Uni Soviet dalam rangka “penyelamatan Kongo”. Di sisi lain, dalam agenda Third All-African Peoples Conference, 25-30 Maret 1961 di Kairo, para pemimpin negara Afrika sepakat untuk tidak mengakui pemerintahan Moise Tshombe, Sese Seko, Kasavubu, namun pemerintahan pro-Lumumba oleh Antoine Gizenga diakui berikut pengakuan dari sejumlah negara Asia dan Eropa Timur.

Posisi PBB sendiri saat itu dianggap tidak netral, Sekjen PBB Dag Hammarskjold berdiri ditengah tekanan Uni Soviet dan Amerika Serikat untuk adu kepentingan di Kongo, ternyata lebih berpihak pada Blok Barat. Nun jauh disana, Kuba bersiap mengirimkan Che Guevara untuk blusukan gerilya ke Kongo tahun 1965, sementara itu pemberontakan pro-Lumumba dipimpin Pierre Mulele malah didukung Republik Rakyat China untuk merebut kedaulatan Kongo dari tangan Mobutu Sese Seko di tahun 1964.

Drama krisis Kongo ini  (dinyatakan) berakhir saat Mobute Sese Seko ditahun 1968 meminta bantuan Belgia-Amerika Serikat untuk menumpas kelompok pro-Lumumba, yaitu Antoine Gizenga dan Pierre Mulele yang dianggap mengacaukan Kongo. Di saat yang hampir bersamaan, para negara pendukung Lumumba-Kongo, seperti Ghana mengalami peristiwa huru-hara dengan berakhirnya kekuasaan Kwame Nkrumah akibat dikudeta Letnan Jenderal Emanuel Kwasi Kotoka tahun 1966, Uni Soviet dan Republik Rakyat China “pisah ranjang” untuk membangun proyek anti-kolonial sejak krisis perbatasan Mongolia tahun 1962, kekuatan Indonesia dibawah Ir. Soekarno gagal membentuk NEFO (New Emerging Forces) akibat kudeta tahun 1965, rencana Konferensi Asia-Afrika ke II 1965 di Aljazair pun turut rontok pula, dan Che Guevara dibunuh di Bolivia tahun 1967.

Sampai hari ini, pembunuhan Lumumba masih menjadi misteri, terlebih untuk pertanyaan siapa pihak yang bertanggung jawab, dimana jasadnya dikuburkan. Pada akhirnya, kematian Lumumba dan Krisis Kongo ditahun 1960-an menjadi pelajaran tersendiri bagi perjalanan sejarah Kongo, persatuan Benua Afrika, terutama solidaritas Asia-Afrika-Amerika Latin. Sebab kematian Lumumba mengawali bagaimana rupa negara Kongo dan Benua Afrika yang sontak berubah pula justru disaat gelombang dekolonisasi Asia-Afrika-Amerika Latin sedang galak-galaknya, di pertengahan 60-an.

 

 

 

lumumba arrestSurat Terakhir Patrice Lumumba kepada istrinya, Pauline Lumumba*

 

Sayang, saya tuliskan kata-kata ini tanpa tahu apabila mereka akan menangkapmu, (atau) disaat mereka sedang menangkapmu, atau jika saya melihat secara langsung saat kamu ditangkap mereka. Sepanjang perjuanganku untuk kemerdekaan negara ini, saya tidak pernah meragukan kemenangan yang dicapai sebab sahabatku yang terhormat siap mengabdikan seluruh hidupnya. Tapi, apa yang kita harap untuk negara ini adalah haknya untuk hidup yang terhormat, bersih dan bermartabat, sebuah kemerdekaan tanpa pembatasan tertentu. Kolonialisme Belgia dan sekutu Baratnya telah menerima secara langsung dan tidak langsung, terbuka atau tersembunyi, dukungan dari pejabat tinggi dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi yang bisa kita harapkan disaat permohonan bantuan .

Mereka sudah merayu saudara-sebangsaku, membelinya dan melakukan segalanya untuk mendistorsi kebenaran serta menghina kemerdekaan kita, mereka datang seolah-olah orang yang mengatakan TIDAK untuk merendahkan atau mempermalukan kolonialisme serta sama-sama menjunjung kehormatan manusia di bawah sinar matahari

Kami tidak sendirian, semangat kemerdekaan Afrika, Asia dan orang yang terbebas belenggu penjajahan dari berbagai dunia akan selalu ditemukan di seluruh penjuru Kongo. Mereka tidak akan melepaskan api semangat sampai hari (kemenangan) datang. Saat tidak ada lagi penjajah dan tentara bảyaran di negara kita. Untuk anak-anak yang saya tinggalkan dan mungkin tidak bertemu lagi. Saya berharap bahwa mereka diberi tahu bahwa masa depan Kongo itu indah tanpa terkecuali. Bagi setiap orang Kongo yang menyelesaikan tugas mulia adalah demi rekonstruksi kemerdekaan dan kedaulatan negara ini, karena tanpa martabat tidak ada kebebasan, tanpa keadilan tidak ada martabat, dan tanpa kemerdekaan tidak ada orang bebas.

Kekejaman, penghinaan dan penyiksaan tidak akan pernah memaksa saya untuk meminta belas kasihan, karena saya lebih suka mati dengan kepala yang tegak, keyakinan yang teguh, dan kepercayaan diri yang mendalam atas nasib negaraku, daripada hidup cemoohan dan meninggalkan prinsip suci-ku. Hari itu akan datang ketika sejarah akan berbicara. Namun bukan sejarah yang diajarkan di Brussels, Paris, Washington atau Perserikatan Bangsa-Bangsa tetapi akan menjadi sejarah yang diajarkan di negara-negara yang telah memenangkan kebebasan dari kolonialisme, Afrika akan menulis sejarahnya sendiri, dari Utara dan Selatan Sahara, dan itu akan menjadi sejarah kemuliaan dan martabat.

Janganlah kamu menangisi saya, sayang. Saya tahu bahwa negaraku yang sedang menderita akan tahu bagaimana mempertahankan kemerdekaan dan kebebasan.

Panjang umur Kongo! Panjang umur Afrika!

Patrice Lumumba. Desember 1960

 

 

Sumber tulisan:

Bouwer Karen. 2010. Gender and Decolonization In The Congo. The Legacy of Patrice Lumumba. Palgrave: MacMilan. New York

E. Eamba-dia-Wamba. 1987. Struggles For The “Second Independence” In Congo- Kishansa, Department of  History University of Dares Salaam UTAFlTl- Vol. 9. No. 1. 1987

Grimal, Henri. 1965. Decolonization the British, French, Dutch and Belgian Empires 1919-1963. Translated by Stephan De Vos Westview. Press Boulder, Colorado.

Peking Review: A Weekly Magazine of Chinese News and Views.December 13th 1960, Vol.III no.49-50.Peking:Peking Review.

____________________________________________________.July 7th.1961. Vol. IV.No. 26-27.Peking:Peking Review

____________________________________________________.Januari, 1st 1966, Vol.IX no.1.Peking:Peking Review.

____________________________________________________.Oktober 29,1965 Vol. VII No. 44. Peking: Peking Review

Rothermund, Dietmar. 2006. The Routledge Companion to Decolonization. New York; Routledge

 

 

*Surat dialihbahasakan ke bahasa Indonesia dengan beberapa penyesuaian tanpa mengubah substansi dari surat aslinya. Naskah versi Inggris bisa diakses ke http://www.friendsofthecongo.org/lumumba/last-letter.html

 

Sumber foto : http://iconicphotos.wordpress.com/2010/03/07/patrice-lumumba/

Diduga ini foto terakhir Lumumba saat masih hidup hasil jepretan Horst Faas, fotografer Associated Press yang kebetulan sedang di Kongo saat itu.

*

*

Top