Patrice Lumumba: Visi untuk Afrika Bersatu dan Kongo Baru.

“The day will come when history will speaks…Africa will write its own history…it will be a history of glory and dignity” (Patrice Lumumba 1925-1961)

Bung kelahiran 25 Juli 1925 ini dikenang sebagai tokoh perjuangan rakyat Kongo menentang kolonialisme Belgia. Bagaimana tidak? Daftar riwayat hidupnya mencatat sebagai inisiator dari organisasi Mouvement National Congolais (MNC) yang mengagendakan kemerdekaan Kongo dalam nafas Pan-Afrikanisme. Apalagi, dia menghadiri All-African People’s Conference di Accra, Ghana, Desember 1958 bersama Kwame Nkrumah (Ghana), Sekou Toure (Guinea), Tom Mboya (Kenya). Tak ayal lagi, kemerdekaan Kongo tanggal 23 Juni 1960 tunai dilaksanakan oleh Patrice Lumumba. Namun, sayangnya tangan kolonialis Belgia masih menyisakan daerah konflik di Katanga yang dioperasikan oleh Moise Tshombe dan berujung pada Krisis Kongo, hanya 3 (tiga) minggu setelah Patrice Lumumba jadi Perdana Menteri.

Krisis yang ditandai perebutan kekuasaan Joseph Kasavubu, Moise Tshombe, Joseh Mobutu Sese Seko, sementara disisi lain kolonialis Belgia dan Amerika Serikat masih ingin merebut daerah kaya di Afrika Tropis itu. Akhirnya, gejolak tersebut berujung pada pemecatan Lumumba oleh Presiden Kasavubu, kudeta oleh Joseph Mobutu Sese Seko, sampai pembunuhan Patrice Lumumba tanggal 17 Januari 1961 di Katanga (daerah kekuasaan Moise Tshombe), tanpa kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.

Kenangan tentang ikon pejuang Kongo di tahun 1960-an, menginspirasi Presiden Indonesia, Ir. Soekarno menamakan salah satu jalan di Jakarta dengan nama Patrice Lumumba sebagai simbol dari solidaritas antara Asia dan Afrika. Kemudian, di Uni Soviet (sekarang Russia), universitas yang terletak di Moskow, dinamakan pula Patrice Lumumba, pada tanggal 22 Februari 1961, (sejak 1992 berganti menjadi People Friendship University). Tahun 2000, sutradara Raoul Peck, dari Haiti me-layar kaca-kan sosok pejuang yang pernah menulis Congo, My Country dalam tajuk Lumumba yang bercerita tentang perjuangannya menjelang kemerdekaan Kongo sampai eksekusi di hutan Katanga berdurasi kurang lebih 110 menit dan diperankan oleh Eric Ebouaney.

19-23435-raoul-peckDetik-detik menjelang kelahiran Kongo

Film besutan Raoul Peck ini mengawali kisah Patrice Lumumba dengan alur flash-back dengan adegan pembuka saat Lumumba ditawan pasukan pemberontak Katanga. Sutradara bisa jadi ingin menjelaskan bahwa ada keterkaitan antara penangkapan Lumumba dengan gerakan kemerdekaan Kongo yang sudah diusahakan sejak tahun 1959. Gerakan kemerdekaan yang diwakili dalam adegan Lumumba mulai mengorganisasikan kekuatan politik di Kongo dalam bendera MNC namun menyisakan sejumlah masalah yaitu friksi diantara kelompok tersebut dan mencap Lumumba sebagai komunis, pengabdi Uni Soviet, “antek” Kwame Nkrumah/Ghana.

Sesuai dengan judulnya, maka sosok Lumumba diangkat sebagai tokoh pembuat cerita sekaligus sosok yang ditekankan sebagai bagian penting dari kemerdekaan Kongo. Adegan demi adegan menampilkan Lumumba yang direpotkan oleh berbagai macam aktivitas politik mulai dari memimpin rapat umum, dengar-pendapat, konferensi pers, Konferensi Meja Bundar di Belgia dengan agenda transisi dari Belgia-Kongo sampai Kongo merdeka, kampanye pemilihan umum yang memenangkan MNC. Sampai penyampaian deklarasi kemerdekaan 23 Juni 1960, E. Eamba-dia-Wamba, (1987;33) dalam tulisannya Struggles For The “Second Independence” In Congo-Kinshasa, mencatat bahwa antara Juni dan Desember 1960, Lumumba adalah pemimpin sekaligus Perdana Menteri dan mengkonfrontir berbagai macam penghambat dari sisa imperialis dan sekutu lokalnya, dalam rangka tujuan (Lumumba) agar Kongo mencapai kemerdekaan secara penuh. Salah satu insiden yang terjadi adalah konfrontasi Lumumba dengan Raja Baudoin dari Belgia saat perayaan deklarasi kemerdekaan 30 Juni 1960.

Tiga minggu menuju Krisis Kongo

Cita-cita kemerdekaan, hembusan nafas nasionalisme Afrika, pembabatan habis-habisan atas sisa kolonialisme Belgia, sekali lagi meletakkan Patrice Lumumba sebagai barisan terdepan untuk mencapai kedaulatan Kongo. Dalam film ini diwakili oleh adegan saat Lumumba blusukan ke pedalaman Kongo bersama Presiden Kasavubu untuk menggalang daerah-daerah yang masih diduduki Belgia, memimpin rapat kenegaraan untuk menyatukan golongan militer, dan bekerja sama dengan Ghana menjunjung persatuan Keluarga Besar Benua Afrika. Akan tetapi, bukan kolonialis namanya kalau ikhlas melepas jajahannya, apalagi Kongo mengandung kekayaan alam berupa emas, gas, minyak bumi, mineral, dan masih banyak lagi. Apalagi posisi dunia saat itu terbelah dalam panggung Perang Dingin yang mana Uni Soviet dan Amerika Serikat berebut pengaruh di Afrika, termasuk Kongo.

Beberapa adegan memperlihatkan persekongkolan antara pihak Amerika Serikat-Belgia dengan Joseph Mobutu Sese Seko, sementara Lumumba disatu sisi menahan gempuran label “komunis, pengkhianat, dan boneka Soviet”, akibat pemutusan hubungan diplomatik dengan Belgia, kemesraan dengan blok anti-kolonialis termasuk Ghana dan Uni Soviet, bahkan program nasionalisasi seluruh kekayaan alam di Kongo. Disaat itulah, ketegangan antara warga Belgia dan Kongo meningkat, provokasi kelompok militer terjadi dimana-mana, dan Belgia melihat ada peluang untuk menggoyang kemerdekaan Kongo lewat Provinsi Katanga dibawah pimpinan Moitse Tshombe, dimulailah babak baru yaitu Krisis Kongo.

Konon kabarnya, saat Krisis Kongo berlangsung, Lumumba sempat berkirim surat kepada Dag Hammarskjold, sekjen Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) untuk meminta bantuannya dalam penyelesaian Krisis itu, namun tidak pernah terjadi bantuan PBB kepada Lumumba. Sebaliknya, PBB “ditunggangi” Belgia untuk meluluhlantakkan jembatan kemerdekaan Kongo yang sudah dibangun oleh Lumumba sendiri.  Ujung-ujungnya, Presiden Kasavubu “disetir” oleh Joseph Mobutu Sese Seko untuk memecat Lumumba dan memenjarakannya sebagai tahanan politik. Akhir berbagai konflik yang terjadi dalam film ini dtandai dengan berubahnya status Lumumba yang semula Perdana Menteri menjadi seorang tawanan politik dan dibawa ke Katanga untuk dieksekusi mati di tanggal 17 Januari 1961.

Secara umum, film yang gala premier-nya di Cannes tahun 2000 ini memberikan jawaban kepada penonton tentang siapa sosok Lumumba menjelang kemerdekaan Kongo, kenapa dia dianggap sebagai simbol perjuangan kemerdekaan Kongo, dan kiprahnya untuk menuntaskan kekuasaan kolonial Belgia setelah berpartisipasi dalam All-African People’s Conference di Ghana tahun 1958. Namun dalam film ini, kurang menjelaskan secara rinci visi pemikiran Lumumba yang dijadikan sebagai landasan politik-ekonomi-budaya Kongo merdeka. Disamping itu, film ini samar-samar memaparkan bagaimana terbentuknya Provinsi Katanga yang dipimpin Moitse Tshombe padahal goncangan dari transisi kemerdekaan Kongo terjadi setelah berdirinya provinsi ini. Semenatar itu, film ini kurang berhasil memberikan pengertian kepada penonton kenapa Lumumba harus diakhiri dengan pilihan eksekusi mati. Sebab, eksekusi mati terhadap Lumumba menjadi titik balik dari sejarah kemerdekaan Kongo termasuk, kedatangan Che Guevara tahun 1965 untuk bergerilya di Kongo, munculnya pemberontakan Simba di tahun 1964 yang dipimpin kelompok pro-Lumumba bernama Pierre Mulele, dan mengalirnya tekanan internasional atas peristiwa pembunuhan tersebut.

Bahan Bacaan:

  • Bouwer Karen. 2010. Gender and Decolonization In The Congo. The Legacy of Patrice Lumumba. Palgrave: MacMilan. New York
  • E. Eamba-dia-Wamba. 1987. Struggles For The “Second Independence” In Congo- Kishansa, Department of  History University of Dares Salaam UTAFlTl- Vol. 9. No. 1. 1987
  • http://theculturetrip.com/caribbean/haiti/articles/raoul-peck-a-vision-of-political-cinema-/

One Comment;

*

*

Top