Politik Olahraga ala Nelson Mandela*

“Aku adalah penguasa Takdirku, Aku adalah Kapten Jiwaku, (Puisi Invictus, William Ernest Hanley)

Di Indonesia, ketika mendengar bahwa olahraga akan digado-gado dengan politik, sontak masyarakat akan nyinyir melihat kelakuan badut-badut politik tersebut. Maklum, politik olahraga di Indonesia identik dengan gontok-gontokan yang selalu berujung dengan citra, suara, penggelembungan kekayaan, kisruh lembaga olahraga, mafia skor dan kepentingan perut.

Namun, Nelson Mandela di Afrika Selatan sukses memberikan contoh bagaimana memadukan antara sportivitas olahraga, semangat perdamaian Afrika Selatan Baru, kepemimpinan, dan tentunya membawa kepentingan nasional. Hal ini dengan apik dijelaskan dalam film Invictus yang diproduksi tahun 2009 memberikan pelajaran berarti bagaimana memaknai olahraga selayaknya. Film berdurasi 2 jam 15 menit ini menceritakan kiprah Nelson Mandela saat (diawal) menjabat Presiden Republik Afrika Selatan di tengah carut-marut konflik yang melanda di negaranya setelah dikangkangi rejim Apartheid. Dengan bintang Morgan Freeman (Nelson Mandela) dan Mat Damon (Francois Piennar), beberapa penghargaan sanggup disabet film ini, salah satunya Golden Globe 2010 dan NAACP Image Award.

Invictus, Apartheikeller-450d, dan Rugby

Sejarah negara Afrika Selatan saat Apartheid, diwarnai konflik antara pemukim Eropa dan kelompok-kelompok etnis yang berkembang di Afrika Selatan. Frueh mengatakan dalam Abdul Karim Bangura (2008:155) “Apartheid dipaksa di Afrika Selatan untuk hidup mereka seolah-olah rasisme itu benar. Dalam banyak kasus, bekerja untuk memaksa orang-orang yang tinggal di bangsa agar sesuai dengan tatanan sosial yang dimimpikan oleh arsitek apartheid yaitu pembedaan berdasar warna kulit yang dilegitimasi Negara.

Setelah kekuasaan rejim Apartheid dibawah komando F.W De Klerk sedikit demi sedikit ditekan melalui perjuangan ANC (African National Congress) dan simpati dunia internasional yang terus mengalir ke Afrika Selatan, akhirnya dimulailah langkah membangun tatanan Afrika Selatan Baru. Semisal, Februari 1991, penghapusan arti apartheid pada NEOD (New English Oxford Dictionary) dan pencabutan pada hukum Population Registration Act 1950, dan Natives Land Act 1913. Beberapa hari setelah  dilantik menjadi presiden di Afrika Selatan, 10 Mei 1994, Nelson Mandela langsung disibukkan dengan rutinitas sebagai pejabat politik sekaligus penguasa nomor satu di negara masih beres-beres dari hantu rejim Apartheid.

Disaat yang bersamaan, kegemaran Nelson Mandela dengan olahraga rugby mendorongnya untuk mendekati klub rugby, Springboks dalam rangka rekonsiliasi Benua Afrika. Hal ini menjadi perdebatan tersendiri, sebab Springboks adalah representasi dari kelompok Kulit Putih, dan Kulit Putih dianggap sebagai dalang utama dari kebiadaban apartheid yang sudah memecah belah Afrika Selatan. Sehingga, saat Springboks bertanding melawan bangsa mana pun, warga Kulit Hitam lebih dominan mendukung tim lawannya, bukan mendukung negerinya sendiri. Namun, disisi lain, warga Kulit Putih pendukung Springbooks membawa bendera Apartheid bukan bendera bangsanya (Afrika Selatan Baru).

Nelson Mandela beranggapan bahwa Springbooks harus digalang pula untuk meninggalkan ketegangan rasial masa lalu dan kerjasama antar ras untuk membangun The New South Africa. Dalam sebuah adegan, diperlihatkan bahwa salah satu tugas kapten timnas Francois Piennar yaitu berlatih bersama masyarakat Afrika Selatan Kulit Hitam di permukiman kumuh agar olahraga rugby ini bisa diterima oleh khalayak. Sebab, (sekali lagi) tim rugby Springbooks dianggap sisa-sisa kejayaan Apartheid yang (mungkin saja) akan kembali berkuasa di Afrika Selatan.

Mandela pun memulai langkah berikutnya dengan mengajak Springbooks untuk menyanyikan lagu Nkosi Sikeleli Afrika (God Bless Africa) yang dijadikan lagu resmi Afrika Selatan Baru. Termasuk mengajak Francois Pienaar dan rekan-rekannya untuk berkunjung ke Penjara Robben yang menjadi saksi atas perjalanan Mandela sendiri saat diterali-besi selama 27 tahun dengan kode 46664 oleh rejim Apartheid. Langkah kecil nan radikal yang dirintis oleh Mandela ini membuahkan hasil dengan terbentuknya Tim Nasional Rugby Afrika Selatan yang turut andil dalam perhelatan Kejuaraan Dunia Rugby 1995 di Afrika Selatan, tidak tanggung-tanggung gelar juara disematkan kepada tim nasional Afrika Selatan.

Keberhasilan Mandela dalam mengelola politik olahraga ke arah politik solidaritas semakin mengukuhkan kemampuannya dalam menata Afrika Selatan Baru, ramuan antara visi, kepemimpinan, dan karismatis. Ibaratnya, Mandela menjadi pemain bintang yang bisa memainkan semua bagian mulai dari Kepala  Negara Afrika Selatan, olahragawan, dan filsuf. Visi perdamaian mencapai rainbow nation yang berangkat dari bobroknya Apartheid, dimana warga kulit putih dan kulit hitam saling membentuk kelompoknya masing-masing, dan memicu pertikaian.

Film garapan Clint Eastwood ini berhasil menjelaskan keadaan Afrika Selatan disaat kepemimpinan Mandela, khususnya dalam bidang olahraga. Disamping itu, keseharian dari warga Afrika Selatan diberikan porsi tersendiri untuk meneropong bagaimana tatanan sosial sesudah ambruknya rejim Apartheid, berikut sisa sentimentil ras yang menyebar sampai pranata keluarga sekalipun. Penekanan pada karakter aktor Morgan Freeman yang memerankan Mandela menjadi nilai lebih sendiri, sehingga penonton mampu menangkap berbagai adegan emosional yang dibangun. Disamping itu, film ini mengajarkan bagaimana olahraga diletakkan dalam tema besar membangun negara-bangsa, politik solidaritas, serta gotong royong antar sesama ras.

Akhir kata, Selamat Jalan Madiba. Uhuru!

 

*Trenggono Pujo Sakti, pegiat sAAs Jember

Daftar Pustaka

Limb, Peter.2008. Nelson Mandela : a biography.London.Greenwood Press.

Karim Bangura, Abdul,Ph.D.2008. The Politics of the Struggle to Resolve the Conflict in Uganda: Westerners Pushing Their Legal Approach versus Ugandans Insisting on Their Mato Oput. The Journal of Pan African Studies, vol.2, no.5.

Guelke, Adrian.2005. Rethinking the Rise and Fall of Apartheid : South Africa and World Politics. London. Palgrave Macmillan.

Gambar

http://www.nytimes.com/2008/08/17/books/review/Keller-t.html?_r=0  (12/01/2014)

*

*

Top