2014, Masihkah Semangat Bandung Ada?

Suasana pelatihan jurnalistik di Museum Geologi, Bandung (Foto: Yovieta)

Suasana pelatihan jurnalistik di Museum Geologi, Bandung (Foto: Yovita OS)

Sabtu, 22 Maret 2014. Sore-sore sejuk pukul 15:06. Kalau kalian yang jomblo, mungkin ga sadar kalau di awal saya menuliskan hari bernama Sabtu. Iya, Sabtu sore. Waktu dimana yang lagi PDKT nyamperin gebetannya, yang punya pacar datengin pacarnya, atau yang punya selingkuhan lagi dilema nentuin malmingan sama pacar atau selingkuhannya.

Karena saya termasuk kaum jomblo (baca: single), hari ini saya memutuskan untuk menghabiskan waktu di Museum Geologi Bandung. Bukan untuk meneliti batuan-batuan yang ada di muka bumi ini, namun untuk mendatangi undangan yang diberikan oleh Sahabat Museum Geologi untuk ber-sharing ria mengenai Jurnalistik. Tenang, bukan saya yang menyampaikan materi tentang Jurnalistik, saya belum cukup berani untuk membuka aliran sesat kalau saya yang membawakan materi. Pemateri adalah Yudha P. Sunandar (@yudhaspiza), seorang yang ngakunya journativist, journalist activist.

Hari itu, kedua sahabat museum yang cukup terkenal di ibukota Jawa Barat bertemu untuk sama-sama mempelajari jurnalisme. Kalau dilihat, memang tidak banyak manusia yang nampak di tiap kelas, baik itu kelas jurnalis di Museum KAA atau di Museum Geologi, namun semangat dan kemauan untuk belajar tentang jurnalisme itu ada. Apalagi, peserta kebanyakan berprofesi sebagai mahasiswa-mahasiswi. Anak-anak muda idealis yang masih mau memproduksi berita, bukan yang hanya selalu memakannya mentah-mentah.

Semangat mereka mengingatkan saya kembali dengan semangat Bandung sebagai ibukota Asia-Afrika. Bagaimana tidak, sebelum Konperensi Asia Afrika digelar, begitu banyak kendala dan hambatan yang terjadi. Salah satu kejadian yang pada akhirnya menjadi headline surat-surat kabar lokal maupun internasional adalah meledaknya pesawat yang membawa delegasi China dan juga wartawan dari berbagai negara di Kepulauan Natuna. Apalagi, pesawat tersebut rencananya akan mengangkut Perdana Menteri yang merangkap sebagai Menteri Luar Negeri China, Zhou Enlai. Parahnya, setelah reruntuhan dan puing-puing pesawat tersebut diteliti, disimpulkan kalau sabotase memang dilakukan. “Bukti positif adanya sebuah ledakan di roda depan bagian kanan pesawat yang disebabkan bom waktu,” tulis majalah Time, 6 Juni 1955. Untungnya, sasaran pembunuhan tidak di pesawat tersebut. Mission failed.

Menengok kejadian tersebut, membuka pikiran saya bahwa memang tidak semua negara di dunia ini mendukung gerakan Asia dan Afrika baru. Asia dan Afrika yang merdeka, Asia dan Afrika yang menentang keras imperialisme maupun kolonialisme. Namun, semangat dan tekad bangsa kulit bewarna kita tidak bisa dikalahkan hanya dengan ancaman pembunuhan seperti itu. Konperensi Asia Afrika tetap digelar. Asia Afrika tetap merdeka. Dunia pada akhirnya setuju kalau penjajahan harus segera dihapuskan.

Dan, 18-24 April 2014 mendatang, Konperensi Asia-Afrika (yang berikutnya disingkat menjadi KAA) berusia 59 tahun. Usia yang membutuhkan usaha yang ekstra untuk terus mempertahankan semangat awal diadakannya KAA. Dan kita, –kamu dan saya– mendapat kehormatan untuk turut ambil bagian dalam mempertahankan Semangat Bandung ini. So? Cuma mau larut dalam pesta pora anak remaja-pemuda biasa, atau gabung bareng kita jadi bagian dari sejarah. Your choice.

Happy Sunday! Uhuru!

13 Comments

  1. Heri said:

    Salut kepada penulis yang memilih menghabiskan Sabtu sorenya di museum, tempat yang hanya dikunjungi para siswa itupun karena mendapat tugas dari guru sejarah atau tempat nostalgia para manula. Ajakan penulis untuk membangkitkan kembali semangat konferensi Asia Afrika (KAA) dalam diri setiap kita perlu direspon positif, apalagi peristiwa bersejarah 59 tahun yang lalu itu kalah gaungnya dengan heboh pileg/pilpres 2014. Kalau masih ada anak muda2 kita yang peduli terhadap nilai sebuah sejarah, ini tentu merupakan angin segar bagi perjalanan bangsa kita menuju kemandirian dan kedaulatan. Tentunya semangat itu tidak dapat diukur hanya dalam bentuk kehadiran fisik disuatu kegiatan seremonial tapi bagaimana semangat itu nyata dalam keseharian. Menjadi pribadi yang memegang teguh prinsip kebenaran akan membentuk sebuah bangsa yang berdaulat dan tidak mudah dipermainkan bangsa lain. Tetap semangat!

  2. Yhy said:

    Menurut saya yang sudah tidak muda lagi, semangat KAA Bandung sekarang cuma ada pada batas seremonial saja, karena jamannya sudah berbeda.

    Pandangan politik dan kepentingan nasional masing-masing negara Asia dan Afrika sudah berbeda-beda, tidak seperti dulu lagi yang mempunyai satu tujuan menentang imperialisme dan kolonialisme. Tapi semangat dan peringatan KAA tetap harus ada, walaupun hanya bersifat seremonial. Karena dulu Indonesia — Bandung dalam segala keterbatasannya, mampu meyelenggarakan event Internasional yang sangat besar.

    • Yovita Omega S.Yovita Omega S. said:

      Yap! Kalau mungkin masyarakat saat ini hanya mengingat Konperensi Asia Afrika lewat HUT-nya, kenapa engga ngebuat seremonial nanti sebagai pecutan semangat mereka untuk kedepannya? Karena sebenarnya(maap kalau malah curcol), mimpi saya adalah tentang menyadarkan masyarakat tentang Semangat Bandung yang positif, semangat yang terus ada dalam keseharian mereka, engga sebatas seremonial aja. Bantu saya untuk mewujudkannya ya, kak!

      • Martini said:

        Mimpi yang seperti ini biar jadi kenyataan 🙂 Tetap semangat! 🙂

  3. haryati said:

    sebetulnya museum bukan hanya milik para jomblo loh (gagal fokus -red) hahaha. hmm, menarik.. ulasan yang meng-capture “jejak semangat dalam diamnya museum”. sebetulnya banyak hal yang bisa didapat dari wisata museum, tapi mengapa seringkali museum menjadi tujuan kesekian dari list jalan2 anak muda?, mungkin itu bisa dijadikan PR bersama. mungkin bisa dibuat lebih “segar” tanpa mengurangi pakem nya sebagai pemberi informasi tentang sejarah masa lalu, dan tanpa menghilangkan semangat heroik yg ada didalamnya.. salam penuh semangat! 🙂

    • Yovita Omega S.Yovita Omega S. said:

      Emang bukan milik para jomblo sih, tapi kebanyakan gitu (udah tau salah fokus masih aja dikomen balik) HAHAHA.
      Sip! Saya sepakat kalau ini adalah tugas kita bersama. Jadi? Semangat kan untuk nyampein ke temen-temen yang lain kalau museum tuh sarangnya ilmu dan sumbernya inspirasi, bukan malah tempat bersemayamnya makhluk-makhluk astral? haha. Tapi, terimakasih buat sarannya. Salam penuh semangat balik! 🙂

  4. Yhy said:

    Menurut saya sudah tidak muda lagi, semangat KAA Bandung sekarang cuma ada pada batas seremonial saja, karena jamannya sudah berbeda.

    Pandangan politik dan kepentingan nasional masing-masing negara Asia dan Afrika sudah berbeda-beda, tidak seperti dulu lagi yang mempunyai satu tujuan menentang imperialisme dan kolonialisme. Tapi semangat dan peringatan KAA tetap harus ada, walaupun hanya bersifat seremonial. Karena dulu Indonesia — Bandung dalam segala keterbatasannya, mampu meyelenggarakan event Internasional yang sangat besar.

    • Yhy said:

      Koreksi paragraf pertama mestinya: menurut saya yang sudah tidak muda lagi.

  5. agus said:

    Semangat itu memang suatu hal yg sangat penting apalagi kalau itu mewarnai sebuah tujuan yg bermanfaat bagi khalayak… Klo saja setiap org py semangat yg baik utk meraih sebuah hasil yg baik maka negeri ini pasti akan menjadi lebih baik lagi… Semoga generasi muda negeri ini terus py semangat mencintai tanah airnya…

    • Yovita Omega S. said:

      Ameeeeeeeeeen. Terus menyemangati sekitar ya. Semangat!

    • Yovita Omega S. said:

      Saya juga! Siapa bilang jadi “Anak Gaul Museum” ketinggalan jaman? 😉

*

*

Top