Inspirator di Tempat Menginspirasi Dunia

Awal Maret di tahun 2014. Dimulai pukul 10:07 pagi. Saya ditemani dengan teman kampus untuk mengikuti Pembukaan Kegiatan Kelas Inspirasi di Gedung Merdeka. Apa itu? Mungkin pendeskripisan ini bisa menjawab.

Di gedung bersejarah itu dipenuhi dengan panitia-panitia –kurasa– berbaju oranye yang sibuk berlalu lalang, kebanyakan berusia dewasa muda. Lalu di pojok kiri disetel tayangan yang menampilkan keceriaan anak-anak, anak-anak Sekolah Dasar. Mereka yang tersenyum ketika kamera tertuju pada mereka, lalu berteriak: “Ingin jadi pilot!” “Doktel!” (dibaca: dokter), sampai “Atlet Sepeda Tradisional!”. Saya sedikit tersedak ketika ada yang berteriak atlet sepeda tradisional. Kalau maksud teriakkan mereka adalah cita-cita, lalu adakah profesi atlet sepeda tradisional? Kalaupun ada, sungguh unik dan mulia. Seorang atlet, atlet sepeda, tradisional pula. “Semoga tercapai ya dek!”, dalam benak saya berdoa.

Ternyata tayangan tersebut hanyalah intro dari sebuah pembukaan kegiatan yang sebenarnya. Awal “lagu” dimulai ketika MC mempersilakan hadirin-hadirat berdiri untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tidak jauh berbeda layaknya pembukaan sebuah kegiatan, sambutan-sambutan penyelenggara acara pun diberikan. Namun yang menarik buat saya, ketika tayangan anak-anak SD itu kembali diputar diantara satu sambutan ke sambutan lainnya.

Iya, tayangan tersebut merupakan rangkuman kegiatan Kelas Inspirasi yang datang ke sekolah-sekolah dasar untuk mengajar dan memberikan gambaran tentang profesi yang mereka jalani. Pengajar yang mengajar mereka tidak sebatas guru, tetapi beragam. Ada yang seorang engineer, penulis, musisi, petualang, pengusaha, diplomat, wartawan, volcanologist, insinyur teknik, fotografer, produser, bahkan seorang atlet (yang saya rasa bukan atlet sepeda tradisional). Para professional ini sengaja dihadirkan untuk memberikan gambaran luas kepada calon penerus bangsa. Mereka disiapkan untuk menjadi pekerja yang memiliki pekerja beragam, sehingga dari awal mereka sudah tahu ingin menjadi apa. Karena ketika seorang dari awal sudah paham dia ingin jadi apa, langkah berikutnya akan menjadi lebih mudah. Sama seperti pelukis yang telah menyelesaikan sketsa, tugas berikutnya hanya tinggal memberi warna sehingga lukisan tersebut lebih hidup, lebih berwarna.

Sungguh acara yang memiliki goal yang sangat menginspirasi. Apalagi motto kelas inspirasi ini adalah membangun mimpi anak Indonesia. Semangat, kawan! Sudah bukan waktunya pesimis melihat kelakuan para elite politik dan penguasa berkuasa yang mengalami demoralitas. Hari ini, saatnya optimis dengan terus menginspirasi penerus mudanya. Sama seperti Soekarno yang bersikeras menyelenggarakan Konperensi Asia Afrika. Tidak begitu peduli ketika Indonesia masih menjadi negara anak bawang, semangat menginspirasi negara-negara untuk anti kolonialisme selalu ada. Kelas Insprirasi, teruslah menginspirasi anak-anak muda. Teruslah menginspirasi Indonesia!

Catatan kecil mimpi besar mereka.

Mimpi besar dalam catatan kecil.

6 Comments

  1. Martini said:

    Salut utk para pencetus ide adanya kelas2 inspirasi ini dan kepada para mentor. Apakah para mentor dan perusahaan tempat mereka bekerja sudah ada yang menyediakan kesempatan untuk anak2 secara langsung ‘mencicipi’ menjalani profesi2 tsb. ?

  2. Priscilla Susanty said:

    Woow…! Cita-cita jadi seorang atlet sepeda tradisional?? Bagaimana seorang anak mempunyai cita-cita seperti itu? Pasti ada SESEORANG ataupun SESUATU yg menginspirasinya… Semoga tidak hanya para orangtua/guru/pendidik/profesi lainnya, tetapi sosial media & gadget2 jaman sekarang yg semakin marak & dekat dg anak2/generasi muda juga bisa memberikan inspirasi yg positif buat mereka.

    • Anan Supratman said:

      Wow, mantap, tulisannya menggugah, filosofinya membiarkan naluri panggilan terhadap seseorang diberi peluang

  3. haryati said:

    kelas inspirasi memang memberi banyak pengetahuan bagi adik-adik kita yg masih minim informasi tentang begitu banyaknya profesi yang bisa dipilihnya saat dewasa nanti. ditengah begitu kompleksnya masalah pendidikan di negri kita, saya masih punya harapan bahwa mereka masih bisa memilih profesi sesuai passion mereka. peran kita yg lebih dewasa diantaranya memberi inspirasi dan semangat

*

*

Top