Mengingat Kembali Bahasa Warisan

http://hernandi89.wordpress.com/2010/07/14/benny-n-mice-bahasa-gaul/

Beberapa kali saya menelusuri beberapa kamus Indonesia – Inggris, baik yang konvensional maupun digital, bahkan google translate. Kata yang saya cari waktu itu adalah terjemahan tiga kata kerja: kasih, sayang, dan cinta. Hampir semuanya merujuk pada kata love. Beberapa merujuk pada affection, namun kata ini tidak berhubungan secara pas benar dengan setiap kata yang saya cari. Lagipula, affection sendiri adalah kata benda.

Saya sering pula memperhatikan orang-orang yang kerap menggunakan kata love dalam kalimatnya. Misalnya I love that skirt! Kalau dipikir-pikir jika diterjemahkan tiap kata artinya akan berbeda. Aku cinta rok itu. Atau ungkapan cinta dalam bahasa Perancis: Je t’aime. Jika diartikan per kata maknanya menjadi aku menyukaimu. Lain lagi halnya apabila kita bertanya nama seseorang dalam bahasa Inggris: what is your name? sementara kita menggunakan kata tanya siapa, bukan apa, dalam bahasa Indonesia.

Logika berbahasa berbeda satu sama lain dan sukar untuk dibandingkan. Bahkan dua negara yang berbahasa sama sangat mungkin punya logika bahasa yang berbeda. Jangankan dua negara yang berbeda, di Indonesia sendiri pun demikian. Kalau kita mencari sanggar di Jakarta, orang-orang mungkin akan menunjukkan sanggar tari. Silakan berkunjung ke Balikpapan dan tanyakan di mana kita bisa menemukan sanggar. Penduduk di sana akan menunjukkan warung gorengan yang menjual pisang goreng.

Saya sering mendengar banyak turis, ekspatriat, atau orang asing lain mengomentari bahwa bahasa Indonesia tidak terlalu sulit. Benar, kita tidak punya kategori maskulin atau feminin untuk kata benda seperti kebanyakan bahasa Eropa. Kita juga tidak punya tenses, hanya tinggal menambahkan keterangan waktu seperti , dulu, akan, baru saja, atau sedang. Setiap kata kerja juga tidak perlu dimodifikasi untuk bisa disesuaikan dengan subjek.

Namun bahasa Indonesia juga menawarkan segepok masalah lain. Guru bahasa Perancis saya mengajar bahasa Indonesia kepada beberapa ekspatriat dari Perancis. Ia berkata komentar mereka memang positif mengenai betapa mudahnya bahasa Indonesia. Mereka senang tidak perlu belajar tenses atau klasifikasi gender dalam kata benda. Tetapi ketika materi imbuhan menyerang, semua mulai sakit kepala. “Bertahun-tahun mereka nggak selesai-selesai belajar imbuhan,” begitu kata guru saya.

Bahasa Indonesia mungkin kalah menarik dibanding bahasa lain bagi beberapa orang. Mungkin juga belum banyak yang berminat mempelajari bahasa kita. Tapi perlu diingat lagi kalau bahasa Indonesia sudah mempersatukan puluhan, bahkan ratusan bahasa daerah di negara kita ini. Harus bangga dong pakai bahasa Indonesia!

*

*

Top