Sedikit Cerita Tentang Braga ‘Baheula’

Braga, sebuah wilayah di Kota Bandung yang masih menjadi primadona bagi pelancong dalam dan luar negeri. Meskipun hanya berjarak kurang dari satu kilo meter, jalan ini begitu cantik. Terlebih setelah diguyur hujan. Aura romantis begitu terasa. Tak jarang para calon pengantin mengabadikan momen foto pra-weddingnya di jalan yang dahulunya becek dan berlumpur ini.

Braga memiliki nama asal Karrenweg atau Pedatiweg. Wilayah ini dulunya cukup rawan sehingga  juga terkenal dengan Jalan Culik. Di Braga Preanger Planters sering berkumpul.Preanger Planter sendiri merupakan sebutan bagi pengusaha perkebunan di daerah Priangan. Preanger Planter sering menghabiskan waktu di tempat ini hanya untuk sekedar minum, bercengkrama dan bersosialisasi.

Sekitar awal abad ke-20, Braga merupakan kawasan hiburan bagi bangsa Eropa yang hidup di Priangan.Di tempat ini terdapat pusat perbelanjaan, cafe, tempat pertunjukan musik hingga bioskop.

Bioskop yang sangat terkenal di Bragaweg yang juga merupakan simbol rasisme dijaman itu yakni Bioskop Concordia atau yang sekarang kita kenal dengan Gedung Majestic. Di bioskop ini bangsa pribumi tidak dibolehkan untuk masuk. Dahulu di depan pintu masuknya terdapat plakat yang bertuliskan “verboden voor honden en inlander”, yang artinya kurang lebih Pribumi Dilarang Masuk.Gedung ini dibangun pada tahun 1925 dengan arsitek seorang Belanda bernama Wolff.Schoemaker.

Selain Majestic, bangunan megah  jaman Kolonial yang ada di Braga yakni Gedung Merdeka.  Dahulu gedung ini terkenal dengan nama Sociated Of Concordia, karena dibangun dari dana perkumpulan opsir Belanda. Di dalamnya terdapat hall yang luas, yang sering dijadikan tempat pertunjukan musik, makan malam dan juga pesta dansa. Gedung ini pun tertutup bagi bangsa Pribumi.

Gedung Merdeka awalnya di bangun sekitar tahun  1895 oleh arsitek Van Galeniast dan Wolf Schoemaker, kemudian mengalami renovasi pada tahun 1926. Setelah masa Proklamasi  kemerdekaan Indonesia, gedung ini digunakan sebagai markas pemuda Indonesia menghadapi tentara Jepang.

Untuk kebutuhan sandang, para Preanger Planter membelinya dari toko-toko di beberapa ruas jalan Braga .Beragam mode pakaian dan juga perhiasan serta aksesoris ter-kini pada jamannya khusus didatangkan dari wilayah Eropa. Sehingga sejak jaman dahulu, Bandung terkenal dengan fashion-nya yang up to date.

Salah satu toko yang pertama berdiri di wilayah ini milik seorang Belanda bernama Hellerman. Tokonya lebih berjenis kelontong. Karena mulai dari pakaian, hingga kebutuhan harian tersedia di sana. Kemudian toko perhiasan yang bernama de Concurrent berdiri. Juga Au Bon Marche sebuah toko khusus pakaian hadir meramaikan jalan yang menjadi pusat kota Priangan. Selain itu sebuah gedung toko Sarinah, yang lokasinya berseberangan dengan gedung Majestic, dulunya merupakan toko pakaian yang pusatnya ada di negeri kincir angin. Sebelum bernama Sarinah, toko ini bernama Onderling Belang, yang artinya saling perhatian. Untuk rumah makan hadir toko yang bernama Maison Bogerijen. Kini Maison Bogerijen masih ada dan merubah namanya menjadi Restoran Braga Permai.

Melempar pandangan di ujung jalan Braga kita akan menemukan Hotel Savoy Homann. Hotel milik keluarga Homann ini terkenal akan sajian rijsttafel buatan Ibu Homann yang lezat. Di-arsiteki oleh  Albert Aalbers, dirancang dengan desain gelombang samudera bergaya art deco. Beberapa orang termasyur pernah menginap di Hotel ini. Dari Charlie Chaplin dan Mary Pickford juga delegasi undangan Konperensi Asia Afrika yang mendunia.

 

-berbagai sumber

*

*

Top