Steve Biko dan Keinsyafan Keluarga Besar Kulit Hitam

“The blacks are tired of standing at the touchlines to witness a game that they should be playing. They want to do things for themselves and all by themselves.” Steve Biko (1947-1977)

 Mungkin tidak banyak orang mengenal sosok pejuang anti-apartheid satu ini. Namanya dapat disetarakan dengan pejuang penentang politik apartheid seperti Nelson Mandela, Walter Sisulu dan lainnya. Tokoh penentang politik Apartheid yang satu ini memobilisasi masyarakat Afrika Selatan lewat penyadaran Kulit Hitam (Black Consciousness), memulai perjuangannya untuk menghapuskan politik apartheid lewat gerakan massa yang bernama Black Consciousness Movement (BCM). Steven Bantu Biko atau dikenal Steve Biko lahir di Tylden, Provinsi Timur (sekarang Eastern Cape) pada 18 Desember 1946. Awal mula Biko terjun ke ranah politik pada saat dirinya menjadi mahasiswa di Natal University. Latar belakang Biko terjun keranah politik ketika saudaranya yang di tangkap oleh pemerintah setempat karena melakukan protes keras, serta  menjadi simpatisan Pan-African Congress (PAC).

Akibat gerakannya tersebut, Biko kemudian dikeluarkan dari sekolah Lovedale dan melanjutkan pendidikannya di St.Francis. Setamatnya dari sekolah, Biko melanjutkan cita-citanya untuk menjadi seorang dokter dan menimba ilmu kedokteran di Universitas Natal. Titik awal kiprah Biko memulai karir politik paska dirinya keluar dari keanggotaan NUSAS (National Union South Africa Students) yang dirasa kurang aktif dalam menentang pemerintah kolonial. Dengan ditahannya para aktivis penentang Apartheid seperti Nelson Mandela dan kawan-kawannya, Biko menjadi sosok baru penerus perjuangan penentang politik apartheid di Afrika Selatan. Tahun 1968, Biko mendirikan organisasi mahasiswa Kulit Hitam yakni SASO (South Africa Students Organization) yang menyuarakan mengenai kesadaran Kulit Hitam bagi masyarakat Afrika Selatan.

Setahun kemudian, tepatnya 1968, Biko terpilih sebagai Presiden SASO dan terlibat aktif dalam program-program SASO. Tahun 1971, SASO dengan gerakan Black Consciousness menjadi suatu kekuatan yang tangguh di Afrika Selatan. Pada tahun 1972, setelah menghentikan studinya dan menarik diri dari politik mahasiswa dan lebih terjun pada kebutuhan politik formal, Biko bersama Ben Khoapa merekrut para pemuda dan menyatukan SASO ke dalam Black People Convention (BPC) guna menggerakkan Black Consciousness kepada masyarakat Afrika Selatan.

Menuju Kaum Kubiko_drumlit Hitam yang Insyaf

Black Consciousness atau Kesadaran Kaum Kulit Hitam merupakan istilah yang disamakan dengan alat penyadaran serta pemersatu  yang dikampanyekan oleh Steve Biko bagi masyarakat Afrika Selatan. Kesadaran hitam tidak didasarkan pada faktor biologi atau kelahiran saja tetapi mengarah pada bentuk perlawanan sosial dan politik di bawah sistem brutal Apartheid di Afrika Selatan. Pemikiran Biko mengenai kesadaran Kulit Hitam berusaha untuk menanamkan kepada masyarakat Kulit Hitam dengan kebanggaan baru yang ditemukan dalam diri mereka, upaya mereka, sistem nilai mereka, budaya, serta agama dan pandangan mereka terhadap kehidupan. Hal tersebut lebih bertujuan untuk mengembalikan martabat Kulit Hitam, karena Kulit Hitam bukanlah suatu pemahaman tentang keburukan atau kesalahan yang selama ini telah dipropagandakan oleh Kulit Putih. Pemikiran Biko mengenai kesadaran Kulit Hitam tidak terlepas dari filsuf-filsuf seperti Hegel, Marx, Sartre dan Fanon, serta pemahaman kreatif yang dilakukan Biko sendiri mengenai identitas sosial masyarakat Afrika Selatan.

Dengan berazaskan sadar ala Kulit Hitam kedalam BPC yang merupakan payung lembaga untuk menyuarakan gerakan kesadaran Kulit Hitam kepada masyarakat Afrika Selatan. Program yang dijalankan oleh gerakan insyaf itu terbagi dalam tiga aspek yakni, bidang sosial, pendidikan, serta ekonomi. Biko juga membuat klinik kesehatan bagi warga miskin diluar kawasan King William’s Town serta pemberian kursus menjahit bagi perempuan. Hal terpenting dalam menunjang kegiatan tersebut adalah penyebaran jurnal kaum Kulit Hitam yang dikelola oleh Gina Mhlophe dan Strini Moodley sebagai penulis serta seniman yang banyak memberikan sumbangsih pemikiran dalam pemulihan kegiatan budaya, politik, dan sastra Afrika Selatan (seperti Jurnal Black Perspective, Black Creativity and Development, dan The Black Review).

Ganjarannya adalah Steve Biko dijadikan tahanan kota oleh kepolisian. Akses yang diberikan oleh pihak berwajib hanya di kawasan King William’s Town, tempat dimana dia dilahirkan serta ruang gerak Biko dibatasi. Seperti halnya dilarang berbicara dengan orang lain atau didepan umum, dilarang mengajar dan masuk kedalam lembaga pendidikan serta wajib melapor kepada kantor polisi setempat sekali dalam setiap minggu. Pembatasan ruang gerak Biko tidak menyurutkan niatnya untuk tetap berjuang dalam aktivitasnya menggalakkan program keinsyafan warga Kulit Hitam.

Tahun 1976, Biko dan Nengwekholo membentuk organisasi siswa yang diberi nama SASM (South Africa Student’s Movement) sebagai bentuk pendidikan politik generasi muda Afrika Selatan untuk memberikan pemahaman Black Consciousness (BC) bagi pelajar, tepatnya berada di Soweto. Gerakan SASM tersebut menimbulkan suatu lecutan demonstrasi pelajar di Soweto pada bulan Juni 1976 yang dikategorikan oleh pemerintah kolonial Afrika selatan sebagai pemberontakan terbesar. Dipandang sebagai otak pemberontakan tersebut Biko ditangkap pada tanggal 18 Agustus 1977 dan dijebloskan ke penjara dan beberapa lama kemudian tanggal 12 September 1977, di Penjara Pretoria, Steve Biko menghembuskan nafas terakhirnya di dalam penjara. Kematian Biko diiringi dengan berbagai desas-desus bahwa ia meninggal akibat mogok makan atau disiksa petugas penjara. Kenangan Steve Biko direkam secara apik dalam film Cry Freedom dirilis tahun 1987 oleh sutradara Richard Attenborough dan dibitangi Denzel Washington. Disamping itu, tulisan Steve Biko dibukukan dalam buku I Write What I Like yang dirilis tahun 1987.

 

 

Rinno Widodo pegiat sAAs Jember

Referensi:

Biko, Steve, 1946-1977. 1987 I Write What I Like. Oxford Publishing

Mngxitama,Andile. (ed.) 2008. Biko Lives! Contesting the Legacies of Steve Biko. Palgrave Macmillan.

sumber foto: http://www.sahistory.org.za/people/stephen-bantu-biko

*

*

Top