Jackson Leung: Orang Sombong Mundur Satu Langkah

JACKSON LEUNG1

Sepintas pandang, Pak Jackson Leung terlihat seperti eksekutif asing asli negara tirai bambu yang berbicara hanya dalam bahasa Mandarin, atau paling tidak, Bahasa Inggris. Ternyata beliau tidak hanya fasih berbahasa Indonesia, namun juga tak jarang melontarkan celetukan Sunda yang membuat kami tergelak.

Di tahun 1955, Pak Jackson Leung adalah salah satu pemuda yang berkontribusi langsung dalam penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika. Kala itu, beliau bertugas mengalungkan rangkaian bunga kepada Perdana Menteri Republik Rakyat Tiongkok, Zhou Enlai (Chou En Lai).

Di sela-sela persiapannya mengisi sesi Merdeka Talk dalam acara peringatan Hari Ulang Tahun Konferensi Asia Afrika ke-59, Pak Jackson Leung menyempatkan waktunya untuk berbincang santai mengenai pengalaman hidupnya dan nasihatnya untuk generasi muda. Simak pembicaraan menarik kami dengan beliau di bawah ini.

CJSMKAA: Boleh kami tahu umur Bapak sekarang?

Jackson Leung (JL): Geus tujuh puluh leuwih. (=Sudah lebih dari tujuh puluh)

CJSMKAA: Wah, tapi masih fasih berbahasa Sunda ya?

JL: Da saya mah urang Sunda…

CJSMKAA: Tapi keturunan Tionghoa ya Pak?

JL: Saya memang keturunan Tionghoa, tapi saya lahir di Indonesia. Leluhur saya datang dari asli Tionghoa, tapi sudah lama sekali. Mungkin sekitar dua ratus tahun yang lalu. Waktu itu kakek saya kerjaannya nanggung tahu (=pemikul tahu). Datangnya pertama ke Jakarta, lalu menetap di Jawa Barat.

CJSMKAA: Lalu sekarang tinggal di mana?

JL: Indonesia, tapi sering bolak-balik luar negeri, termasuk ke Hongkong.

CJSMKAA: Bisa diceritakan bagaimana mulanya Bapak bisa menjadi pengalung bunga di KAA?

JL: Dulu waktu kecil, saya bersekolah di SMP 2 Cihampelas. Sewaktu ujian saya mendapat nilai 89.89, itu nilai yang paling besar. Untuk tingkah laku pun saya dianggap sangat baik, bahkan sampai dapat peunteun (=nilai) super A di rapor. Saya juga suka menjadi sukarelawan untuk kegiatan-kegiatan sosial, seperti membantu korban banjir selama seminggu penuh.

Ternyata pemerintah setempat ada kerja sama dengan sekolah-sekolah. Mereka diminta menghimpun anak-anak berprestasi untuk terlibat di KAA. Saya pun dipanggil kepala sekolah. Tadinya saya bahkan nggak tahu itu acara apa dan bertujuan untuk apa. Saya tahunya cuma akan ketemu saksi sejarah aja. Baru beberapa hari setelahnya, ketika saya disuruh menjemput tamu-tamu dari luar negeri, saya baru sadar apa peran saya.

CJSMKAA: Kenapa bisa begitu Pak?

JL: Semuanya memang dirahasiakan. Nggak bolehada yang tahu, nggak boleh ada yang ngomongin dulu. Itu karena banyak ancaman keamanan.

CJSMKAA: Seperti apa contohnya?

JL: Misalnya ancaman bom. Tadinya Perdana Menteri China hampir tidak menghadiri KAA karena pesawatnya dipasangi bom. Untunglah atas kuasa Tuhan, beliau tidak jadi menumpangi pesawat tersebut. Sebelum kejadiannya, Perdana Menteri Myanmar, U Nu, menelepon Zhou Enlai. U Nu waktu itu bilang karena China baru merdeka enam tahun, sedangkan Indonesia sembilan tahun, mereka belum terlalu mengetahui situasi Indonesia seperti apa. U Nu lalu mengundang Zhou Enlai ke negerinya untuk berbincang-bincang terlebih dahulu sebelum nantinya berangkat ke Indonesia bersama-sama. Nyawanya pun selamat. Orang baik pasti dilindungi Tuhan. Matakna urang tong ngiluan nu bangor-bangor (=makanya, kita tidak boleh nakal).

CJSMKAA: Pengalaman Bapak yang lain apa lagi?

JL: Sebenarnya banyak sekali yang sudah saya lakukan. Ada beberapa yang sudah masuk majalah luar negeri. Tapi kita harus tetap rendah hati dan tidak boleh sombong. Ada pepatah mengatakan, orang sombong bukan yang pertama maju, tapi yang pertama mundur satu langkah.

CJSMKAA: Kesibukan Bapak sekarang?

JL: Utamanya bisnis, tapi saya juga terlibat kegiatan sosial dan aktif di perkumpulan orang Indonesia di Hongkong.

CJSMKAA: Bapak sebagai presidennya?

JL: Tidak. Saya mencontoh filosofi Zhou Enlai yang tidak mau menjadi orang nomor satu. Saya lebih baik menjadi orang nomor dua atau tiga, tapi tetap sekuat tenaga membantu di belakang layar. Namun jika dibutuhkan di depan, saya akan maju.

CJSMKAA: Sebagai penutup, apa pesan-pesan yang ingin Bapak sampaikan untuk generasi muda? Apa lagi melihat zaman sekarang, ketertarikan mereka kepada museum sering kali minim.

JL: Jangan hanya melihat sejarah dari bendanya, tapi ketahui asal-usulnya bagaimana. Apa yang melatarbelakangi adanya benda itu? Bagaimana kisahnya? Dengan mengetahui hal-hal seperti itu, maka apresiasi terhadap sejarah pun akan lebih mudah didapat.* (zrs)

 

 

 

 

 

*

*

Top