Langkah Kecil Awali Perubahan Besar

Foto: kemendagri.go.id

Foto: kemendagri.go.id

Awal April 2014. Gak kerasa udah awal bulan lagi. Setidaknya untuk anak kosan, harapan untuk meneruskan hidup muncul lagi karena kiriman uang bakal segera dikirim. Makan enak terjamin, paling engga, ya untuk seminggu ke depan lah.

Dan yap! Bicara tentang kelangsungan hidup yang terjamin, patut rasanya bila kita sedikit sensitif dengan event besar yang akan diselenggarakan di bulan ini. Pemilu (pemilihan umum) tingkat legislatif, 9 April mendatang. Melalui event ini, langkah awal Indonesia baru dimulai. Masyarakat yang tercatat secara sah sebagai warga negara yang berusia 17 tahun atau lebih, memiliki hak istimewa untuk memilih orang-orang sebagai wakil dari mereka untuk duduk di kursi pemerintahan. Orang-orang yang bakal berjuang untuk kesejahteraan daerah yang diwakilinya. Atau dapat disimpulkan, ajang pencarian pelayan masyarakat.

Namun seperti biasa layaknya sebuah rumus, praktik tidaklah semudah teori. Para “pelayan masyarakat” yang seharusnya mengabdi, kebanyakan hanya terlena oleh kedudukan dan sibuk menabur kekuasaan. Jarang sekali dari mereka yang bertahan akan idealismenya seperti saat awal kampanye. Parahnya, dengan fenomena yang selalu demikian, maka munculah sejumlah golongan yang bersedia menggadaikan hak pilihnya, golongan putih.

Saya berusaha mencari lebih detail lagi mengapa golongan putih (yang seterusnya akan dipanggil: golput) ini makin lama kian menjamur. Seperti pemilihan Walikota Bandung Juni tahun kemarin misalnya. Kalau boleh sama-sama jujur, kaum golput menduduki peringkat kedua dalam kontes pemilihan pemimpin kota ibukota Jawa Barat, menang melawan lima pasangan lainnya. Mirisnya, member golongan putih adalah orang-orang yang berpendidikan. Manusia-manusia yang peka politik, yang sudah paham besar kecil kerugian melakukan tindakan demikian. Mengagumkan? Engga.

“Tidak tertarik dengan politik dan tidak menemukan calon yang sesuai”, kata salah satu pengikut aliran golput. Iya, mungkin mereka lelah dan diambang keputusasaan akan harapan adanya sesosok pemimpin yang punya hati, dan gak cuma nyali. Mereka yang telah muak dengan berita-berita kekerasan, tindak kejahatan, serta korupsi yang dilakukan oleh para pejabat pemerintahan yang selalu menghiasi headline media cetak dan tulis tiap harinya. Namun, sekarangkah waktunya kita mengalah pada keserakahan manusia? Haruskah pada akhirnya kita kalah dengan keadaan yang seperti ini?

Membuat keputusan untuk tidak turut serta dalam pemilihan umum legislatif esok agaknya bukan keputusan yang bijak. Salah seorang penstudi Hubungan Internasional perah berkata “Golput? Sah sih, cuma itu bukan solusi ketika sistem politik jelas-jelas demokrasi. We’re not talking about how they will be elected. We’re not talking about who will be chosen. We’re talking about where they will bring us and the consequences of being in silent. Golput bukan pilihan bijak selama kita masih bisa berpikir, melihat, dan merasa.”

Memilih untuk golput berarti sama saja seperti membiarkan anak elang berperilaku seperti anak ayam. Binatang yang seharusnya selalu terbang menerjang angin dan menjadi raja di udara, malah mengais-ngais cacing di tanah. Bung Karno, Bung Hatta, serta pejuang Indonesia lainnya telah susah payah merebut Indonesia dari tangan penjajah. Dan sekarang kita hanya bertindak apatis? John F. Kennedy saat pidato pengangkatan dirinya menjadi Presiden Amerika ke-35 pernah berkata, “Ask not what your country can do for you; ask what you can do for your country”. Jadi apa yang mau kamu lakukan untuk negara kamu? Kalau saya jadi kamu, langkah awal yang saya mau lakukan adalah ke TPS (Tempat Pemungutan Suara) terdekat April mendatang. Nyoblos, yuk!

6 Comments

  1. Heri said:

    Memilih untuk tidak memilih alias golput oleh sebagian warga (yang oleh penulis dikategorikan sebagai kaum intelek) sebenarnya bukan hanya bentuk kekecewaan/keputusasaan akan terpilihnya sosok pemimpin yang mau bekerja untuk kepentingan rakyat, tapi juga bentuk apatisme terhadap sistem perpolitikan (plus pemerintahan dan birokrasi) yang sangat bertolakbelakang dengan kepentingan rakyat (hanya mementingkan kepentingan partai/golongan, penuh dengan KKN) tapi juga trauma dengan pemilu sebelumnya dimana para caleg/capres menjanjikan kesejahteraan tapi jadi pangling setelah berkuasa. Mudah-mudahan pemilu 2014 ini beda, terutama dengan hadirnya tokoh baru dalam bursa capres dengan slogan Indonesia Baru dan untuk mewujudkan Indonesia Baru, diperlukan sebuah langkah kecil dengan berpartisipasi dalam pileg dan pilpres untuk mewujudkan Indonesia Baru yang sejahtera dan berdaulat.

  2. Michel said:

    Mantap…. sudah mau berbagi n berpikir utk kemajuan bangsa n negara kita… semangat…

    • Yovita Omega S. said:

      Makin semangat kalau direspon positif juga! Jangan lupa 9 April ya 😉

*

*

Top