Memelihara Pepohonan, Memelihara Perdamaian

Suasana revitalisasi Taman Asia-Afrika. (Foto: Yudha PS)

Suasana revitalisasi Taman Asia-Afrika. (Foto: Yudha PS)

Seperti biasanya, setiap Minggu, Idah Sudibyo melepas penat di Lapangan Tegalega Bandung. Hampir 3 kali dalam sepekan dia mengunjungi taman ini. Selain berolahraga, Idah juga kerap bersantai bersama kedua anaknya pada Minggu pagi. “Hitung-hitung rekreasi keluarga,” akunya.

Salah satu yang mengundang perhatian Idah adalah komplek penuh pepohonan di salah satu sudut Taman Tegalega. Matahari pagi yang mulai menyengat, terasa sejuk di bawah rimbunnya pepohonan tersebut. Saking rimbunnya, membawa kedamaian tersendiri bagi keluarga Idah dan keluarga lainnya yang mengunjungi Taman Tegalega.

Komplek penuh pepohonan ini memang penuh perdamaian. Seolah-olah, aura perdamaian 106 kepala negara Asia dan Afrika yang menanamnya mengalir di taman ini. Aura perdamaian dari delegasi Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika 9 tahun silam. Ketika mereka memperingati 50 tahun Konferensi Asia-Afrika. Sebuah konferensi kulit berwarna pertama yang turut menyumbangkan perdamaian dunia, hingga saat ini.

Taman Asia-Afrika, begitu julukannya. Keheningan, keteduhan, dan kedamaian yang melingkupnya, seperti ingin memberitahukan setiap orang bahwa Semangat Bandung itu masih ada hingga kini. Semangat perdamaian dan kerjasama yang ikut meneduhkan dan menghindarkan dunia dari kemungkinan Perang Dunia III.

Bagi Museum Konperensi Asia-Afrika, Taman Asia-Afrika bukan hanya sekedar taman. Taman ini merupakan simbol perdamaian, kerjasama, dan kesetaraan.

Kepala Museum Konperensi Asia Afrika Thomas Siregar menyimpulkan bahwa perdamaian itu ibarat pohon. Bila pohon ingin kuat, rimbun, dan memberikan manfaat besar, pohon tersebut harus dirawat dan diperhatikan sebaik-baiknya. Sehingga mampu menghasilkan capaian yang diharapkan. Begitu pun dengan perdamaian. “Perdamaian harus dirawat dan diperhatikan,” tuturnya dalam sambutannya pada Revitalisasi Taman Asia Afrika, Minggu, 20 April 2014.

Salah satu wujud usaha MKAA dalam memelihara perdamaian dunia adalah dengan merevitalisasi dan merawat Taman Asia-Afrika. Taman yang sempat rusak dan terbengkalai ini, perlahan-lahan mulai dibenahi kini. Meski usahanya termasuk kecil, tetapi Thomas percaya bahwa konsistensi lebih penting dan besar maknanya bagi revitalisasi Taman Asia Afrika.

Terlebih lagi, bagi Thomas, merawat dan memelihara taman mensyaratkan kesadaran kolektif elemen masyarakat. Seperti perdamaian, taman adalah milik masyarakat, dan diperuntukkan bagi masyarakat. Oleh karena itu, sudah sepantasnya masyarakat juga yang merawatnya.

MKAA sendiri, lanjut Thomas, hanyalah pemicu aksi revitalisasi Taman Asia Afrika. Selanjutnya, merupakan tugas bersama untuk membuat taman ini jadi kebanggaan Kota Bandung, bahkan kebanggaan masyarakat Asia-Afrika.

Dalam usahanya untuk merevitalisasi taman, Thomas tidak sendiri. Pihaknya dibantu oleh Pemerintah Kota Bandung dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jawa Barat. Bersama-sama, mereka mulai membenahi taman. Thomas berharap, pada peringatan HUT ke-60 Konferensi Asia-Afrika, pemimpin 106 negara Asia dan Afrika bisa melihat pohon-pohon yang ditanam pemimpinnya terdahulu telah tumbuh besar.

Senada dengan Thomas, Ully Sigar Rusady menandaskan bahwa pecinta perdamaian adalah pecinta lingkungan hidup. Menurutnya, lingkungan hidup sangat erat kaitannya dengan keberlangsungan pangan dan tempat manusia hidup. “Bila pangan dan papan terpenuhi, maka manusia hidup dalam damai,” tandas seniman yang juga aktivis lingkungan hidup ini.

Sekretaris Dinas Pemakaman dan Pertamanan Pemerintah Kota Bandung, mewakili Walikota Bandung Ridwan Kamil, menyampaikan apresiasinya terhadap revitalisasi Taman Asia-Afrika Bandung. Revitalisasi ini membantu upaya Pemerintah Kota Bandung yang menargetkan 30 persen Ruang Terbuka Hijau dalam 20 tahun mendatang.

Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa Walikota Bandung Ridwan Kamil telah merancang kompetisi desain taman di Bandung, termasuk Taman Babakan Siliwangi dan Taman Asia-Afrika. Sehingga bisa mengoptimalkan fungsi taman di Kota Bandung.

Direktur Keamanan Diplomatik I Gusti Ngurah Ardiyasa sangat mengapresiasi dan menghargai upaya merawat Taman Asia Afrika. Beliau mengharapkan taman ini membantu masyarakat Bandung, khususnya yang terkait masalah sosial, budaya, dan lingkungan.

Taman Asia Afrika sendiri, menurut Ardiyasa, memiliki nilai historis yang sangat erat dengan penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 1955 silam. Bagaimana pun, Bandung dipilih sebagai tempat penyelenggaraan konferensi kulit berwarna pertama tersebut karena memiliki banyak taman di masa silam. Bahkan, seorang pejabat Perancis sampai meluangkan waktu untuk membuktikan keindahan taman di Bandung saat itu. “Oleh karena itu, semoga Taman Asia Afrika bisa menjadi kebanggaan negara-negara yang hadir pada peringatan HUT ke-60 KAA mendatang,” harap Ardiyasa.

Acara Revitalisasi Taman Asia Afrika ini diramaikan dengan pertunjukkan seniman yang juga aktivis lingkungan Ully Sigar Rusady. Bersama kelompoknya, dia menyanyikan 3 lagu, yaitu Balada Sri Baduga Maha Raja, Kepada Ibu Alam, dan Musim Tanam. Pada lagu penutup, Ully juga mengajak Kepala MKAA Thomas Siregar, DirKamDip Kemenlu RI Gusti Ngurah Ardiyasa, dan Sekdintamkam Pemkot Bandung bernyanyi bersama di atas panggung.***

*

*

Top