Mulu dan Kecintaannya Pada Indonesia

Terpisah beribu-ribu kilometer dari negara aslinya tidak membuat Mulu homesick. Mahasiswi asing asal Ethiopia ini justru sangat nyaman tinggal di Bandung, tempat ia mengenyam pendidikan Teknik Informatika di Universitas Komputer Indonesia (Unikom).

Ketika ditanya apa yang membuatnya begitu betah di sini, Mulu menjawab, “Saya suka udara dan orang-orangnya,” ujarnya sambil tersenyum.

 Mulu, mahasiswi asal Ethiopia.

Mulu berasal dari sebuah kota dekat Addis Ababa, ibukota Ethiopia. Menurut Mulu, cuaca dan keadaan kota kelahirannya tidak jauh berbeda dengan Bandung. Yang paling membedakan justru adalah kehidupan sosialnya.

“Di Indonesia, khususnya di Bandung, saya melihat pemuda-pemudanya jauh lebih ekspresif dan open minded dibandingkan di negara saya. Kamu bebas mengutarakan pendapat kamu dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Sedangkan di Ethiopia, kamu akan dianggap aneh kalau begitu,” tutur Mulu dalam bahasa Inggris beraksen Amharic, bahasa nasional negaranya.

Ditemui di hari pertama acara Peringatan HUT Ke-59 Konferensi Asia Afrika, Mulu yang baru menjadi penduduk Bandung selama kurang lebih satu bulan ini mengaku mulanya hanya akan tinggal sampai bulan Agustus. “Tadinya saya tidak menyangka akan senyaman ini di sini. Kalau semuanya lancar, saya mungkin akan memperpanjang masa tinggal saya sampai tiga tahun ke depan demi pendidikan saya.”

Meskipun betah, ada beberapa hal yang Mulu tidak terlalu sukai dari Indonesia. Salah satunya: “Makanan Indonesia sebetulnya enak, tapi sayangnya kurang pedas,” komentarnya. “Di Ethiopia, hampir semua jenis makanan rasanya pedas.”

Mulu merasa sangat senang dapat ikut serta dalam perayaan ulang tahun Konferensi Asia Afrika. Sebagai penduduk negara Afrika peserta Konferensi Asia Afrika 59 tahun yang lalu, Mulu dapat merasakan langsung dampak signifikannya. “Negara saya mempunyai nasib yang tidak terlalu berbeda dengan Indonesia. Kami berjuang melawan penjajahan dan perbudakan selama bertahun-tahun. Keikutsertaan negara kami di Konferensi Asia Afrika menjadi salah satu langkah pembuka menuju kemerdekaan kami,” tutup Mulu.

*

*

Top