Perempuan Angkat Karya

“A lady’s imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment.” – Jane Austen

IMG-20140417-WA0001

Sudah beberapa dekade sejak perjuangan Kartini membela hak wanita dan kita sudah mengecap hasilnya. Pada masa-masa kini, sudah banyak wanita yang secara gamblang menyuarakan pendapatnya dan memamerkan hasil pikirannya. Belum lagi yang cakap dalam berkarya dan mengekspresikan diri. Saya sendiri dibuat terkagum-kagum oleh beberapa darinya setelah melihat pemutaran dan diskusi film “Perempuan Film & Film Perempuan” pada Sabtu, 5 April lalu, dalam rangka menyambut Hari Kartini. Sabtu sore di ruang audiovisual Museum KAA kala itu cukup semarak.

Komunitas Ruang Film Bandung yang menyelenggarakan acara ini menghidupkan suasana dengan memaparkan keempat film pendek yang akan ditayangkan waktu itu. Menariknya, semua film yang ditayangkan merupakan karya wanita, dan seluruhnya masih muda. Yang menarik bagi saya, keempat judulnya menyentil ujung saraf otak untuk menerka-nerka bagaimana alurnya—Jarak, Salah Rahim, The Client, dan Anna & Ballerina. Selain itu, film-film ini dengan cerdas mengajak semua yang menonton menginterpretasikan makna terselubung.

Film pendek Jarak yang cenderung kalem, namun berkonflik sunyi, mengisahkan perjuangan seorang wanita tua yang menghabiskan hari-harinya di rumah. Hidupnya terlihat tenang, namun anak perempuannya sendiri mengabaikannya. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang wanita yang dulunya berjaya membantu banyak orang akan hidup sesunyi ini. Echa, sebagai penulis script, mengemukakan bahwa film garapan Putri Rienda Haifa ini menunjukkan, di saat satu keluarga berkumpul bersama, namun masing-masing sibuk dengan urusan masing-masing, di situlah suatu jarak terlebar memisahkan. Ya, tak sedikit dari kita yang melihat sekelompok orang atau keluarga berkumpul di restoran, bukannya bersenda gurau, namun berakhir terkunci dengan gadget masing-masing.

Berbeda halnya dengan Salah Rahim karya Za. Saya melihat konflik pribadi di tokohnya, ia bergumul dengan dirinya sendiri. Ia bahkan tidak tahu menggumulkan apa, sementara penonton diberi petunjuk bahwa ia adalah anak yang “dipinjamkan” selama 22 tahun. Salah Rahim mengajarkan saya mengenai sisi keibuan seorang wanita. Wanita yang luar biasa akan menjaga dan menyayangi anak yang dipercayakan kepadanya—kandung ataupun angkat. Za juga menyatakan dengan gamblang bahwa dengan memiliki anak berarti harus berani bertanggung jawab terhadapnya.

Film The Client karya Lalitya Putri Noorullya membeberkan konflik yang lebih terang-terangan. Sebenarnya The Client merupakan cerita yang dikisahkan oleh seorang pria, namun seorang wanita muda Indonesia bisa dengan berani mewujudkan seorang pria yang memiliki “kelainan” yang cenderung berbicara sendiri, dan menunjukkan adegan yang melibatkan senjata api. Film pendek ini menuturkan dengan interpretasi masing-masing penonton, bahwa dalam pertemanan yang dekat sekalipun, kita harus menjaga sikap.

Anna & Ballerina karya Naya Anindita membawa penonton berpikir bahwa pusat cerita ini ialah orang tua yang terobsesi memiliki anak yang sempurna dan sesuai dengan impiannya. Naya sendiri menyatakan bahwa film yang berlatar belakang dunia balet yang cantik ini sebenarnya lebih menyorot sisi futuristik film ini. Seperti yang kita tahu, film futuristik sendiri masih jarang di Indonesia, namun bisa dikemas dengan apik oleh seorang wanita muda dengan—secara mengejutkan—bujet rendah. Para penonton juga dimanjakan dengan kreativitas luar biasa dari setiap adegannya.

Ketiga analis yang hadir, Mardohar B. B. Simanjuntak, Kartiwa Kara Bayanaka, dan Agus Safari mengengemukakan bahwa ini langkah awal yang baik untuk berkarya mengingat masih sedikit wanita yang mengambil peran besar dalam perfilman di Indonesia. Walaupun masih ada kekurangan di beberapa bagian, namun ini merupakan proses pembelajaran untuk berkarya ke depannya, apalagi ini masih karya perdana masing-masing keempat wanita ini. Salah satu analis mengatakan bahwa film yang baik tidak hanya mengejutkan penontonnya, namun juga mengejutkan si pembuatnya itu sendiri. Saya pun mengamini melihat penonton mengemukakan interpretasi masing-masing yang bahkan pembuatnya tidak menyadari bahwa mereka akan berpikir sampai ke sana.

“You educate a man; you educate a man. You educate a woman; you educate a generation.” – Brigham Young.

*

*

Top