Public Lecture: Kilas Balik dan Visi Kelak

Suasana kuliah umum di ruang utama Gedung Merdeka Bandung. (Foto: Emeralda A)

Suasana kuliah umum di ruang utama Gedung Merdeka Bandung. (Foto: Emeralda A)

Siang ini, Kamis, 17 April 2014, Gedung Merdeka dipenuhi hiruk pikuk dari berbagai kalangan yang berlalu lalang. Saya memilih tempat duduk yang nyaman untuk mendengarkan public lecture yang disampaikan oleh Direktur Jendral Informasi dan Diplomasi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Dian Triansyah Djani. Paduan suara dengan pakaian adat Bali dan Sumatera Utara menyajikan lantunan musik yang menyenangkan, sembari membuka acara.

Public lecture kali ini diawali dengan pemaparan mengenai sejarah Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berhasil mengejutkan warga dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa seakan tak punya taring dalam mewujjudkan perdamaian dunia waktu itu, saat beberapa negara-negara Asia dan Afrika masih terkungkung kolonalisme. Kami diminta mebayangkan bagaimana kursi yang kami duduki dulunya menjadi tumpuan berbagai delegasi dari negara-negara Asia dan Afrika. Kami diajak mengimajinasikan bagaimana kala itu gedung ini menjadi pusat berbagi mimpi dan semangat yang dilebur menjadi satu. Kami diajak menelusur mesin waktu, mengawang 59 tahun yang lalu, saat sekitar 1500 delegasi dari 106 negara berkumpul dan direkam jejaknya oleh sekitar 700 wartawan. Pertemuan yang digelar tanggal 18 – 24 April 1955 ini memberikan hasil yang tidak main-main, yang sekarang kita kenal sebagai Dasasila Bandung.

Walaupun sudah 59 tahun berlalu sejak peristiwa bersejarah itu, Dasasila Bandung masih menjadi panduan nilai dan semangat yang relevan dalam memecahkan berbagai masalah di dunia. Indonesia sendiri tetap berpegang pada prinsip ini dalam menjalankan hubungan diplomatis dengan negara lain. Kita sendiri pun harus yakin bahwa Dasasila Bandung dapat menjadi pegangan dalam mengatasi masalah kemiskinan dan HAM. Masih banyak hal yang belum dicapai, namun kita mampu memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada.

Tajuk peringatan HUT KAA tahun ini ialah ”Semangat Kemitraa dan Langkah Maju Kerja Sama Asia-Afrika”. Dian mengemukakan bahwa masih banyak problema ekonomi, pembangunan, kesejahteraan, kesehatan, terorisme, hingga pendidikan yang melanda dua benua ini. Oleh karena itu, Dasasila Bandung harus dijaga untuk menyelesaikan masalah ini, demi perdamaian dan hubungan antarnegara Asia dan Afrika.

Tentunya tidak boleh ada pribadi tunggal yang mengerjakan ini semua. Semua harus bahu-membahu mewujudkan mimpi 59 tahun lalu. Dian berharap semua turut serta menyumbangkan pikirannya untuk diplomasi Indonesia, baik mahasiswa, dosen, dan komponen masyarakat lain. Selain itu pula, tahun depan, saat peringatan 60 tahun KAA, kita harus menghargai momen ini dengan kegiatan inovatif yang menjadi perwujudan impian pemimpin-pemimpin kita dahulu.

*

*

Top