Mengingat (kembali) Komunike Festival Film Asia Afrika 1964

“Konferensi Asia-Afrika berpendapat bahwa, usaha-usaha memajukan kerjasama kebudayaan antara negara-negara Asia dan Afrika hendaknya ditujukan kepada: 1) Mendapat pengetahuan tentang negara-negara satu sama lain, 2) Pertukaran kebudayaan, 3) Pertukaran keterangan-keterangan” (Komunike Akhir Konferensi Asia Afrika, 1955, Kerjasama Kebudayaan ayat.5)

 

FFAA1964-7Akibat dari digebernya Semangat Bandung 1955 adalah diadakannya rajutan ekonomi, politik, budaya seperti yang tertuang dalam Komunike Akhir Bandung 1955. Melaksanakan tugas suci Dasasila Bandung artinya seluruh tenaga penggerak bergotong-royong menjebol “dunia lama” menjadi Dunia Baru yang gandrung akan perdamaian dunia serta mengembalikan kembali raut muka cerah dari Asia-Afrika yang diinterupsi oleh penjajahan. Salah satunya adalah dengan mengadakan Festival Film Asia Afrika yang dihelat sejak FFAA I di Tashkent/1958, FFAA II di Kairo/1960. Berikutnya, Jakarta menjadi panggung bagi berlaganya FFAA III, yang dihelat tanggal 19 April 1964. Ketua Umum Komnas FFAA dan Ketua Delegasi Indonesia Ny. Utami Suryadarma yang menyatakan bahwa:

“Jadi film-film yang akan difestivalkan juga tidak boleh menyimpang dari itu (Semangat Bandung=Dasasila Bandung). Tegas ditolak film-film yang isinya mempropagandakan politik imperialism-kolonialisme lama dan baru, politik agresi, diskriminasi rasial, kebejatan moral, menghina Rakyat Asia-Afrika dan yang bertentangan dengan solidariteit Rakyat-Rakyat Asia-Afrika”

Hal yang menarik adalah disaat hari terakhir FFAA III, terucaplah Komunike FFAA III sekaligus Ikrar Seniman dan Pekerja Film Indonesia Setelah FFAA yang juga diproklamirkan sebagai Hari Film Nasional. Komunike dan Ikrar itu setara dengan kehendak bersama untuk menggamit erat-erat persaudaraan Bandung Connection sembari menentukan bagaimana rupa jagat perfilman Asia-Afrika apalagi Semangat Bandung sedang bergentayangan di dua benua tersebut.

 Berikut isi komunike tersebut:

Image_ffaa_Oey_74 editttKomunike FFAA III

30 April 1964

Festival Film Asia-Afrika III yang dihadiri oleh 26 negẻri dan yang berlangsung di Jakarta, ibukota Republik Indonesia, dari tanggal 19 s/d 30 April 1964, dengan bulat berketetapan untuk mengakhiri dominasi imperialis dibidang film di Afrika-Asia dan untuk mengembangkan perfilman nasional masing-masing maupun perfilman Asia-Afrika umumnya dengan diilhami semangat demokratis, cinta merdeka dan cinta damai.

 Rakyat-rakyat benua Afrika dan benua Asia untuk suatu periode yang sangat lama telah ditindas oleh imperialisme dan melakuka perjuangan untuk kemerdekaan nasional, dan karena itu, kami artis dan pekerja film kedua benua ikut serta dengan aktif dalam FFAA III guna mencari jalan bersama untuk perkembangan perfilman kita sebagai bagian dari kebudayaan nasional kita.

 Kami sadar sepenuhnya akan peranan bermanfaat daripada Festival-festival Film Afrika-Asia, khususnya sebagai suatu bentuk pertukaran pengalaman dan tukar pikiran, demi kepentingan pembangunan perfilman kita sendiri secara ideologis, politis, dan artistik.

 Kami menegaskan artipenting FFAA III yang diadakan dibawah semboyan “FFAA III memperkokoh setiakawan Rakyat Asia-Afrika”. Kami sangat menghargai pidato Ir.Sukarno, Presiden Republik Indonesia, pada pembukaan Festival, yang diilhami oleh semangat anti-perfilman imperialis dan anti-segala manifestasi lain daripada imperialisme, dan kami menghargai pekerjaan yang dilakukan oleh Komite Nasional FFAA III dengan bantuan penuh dari Front Nasional dan Rakyat Indonesia.

 Kami sadar sedalam-dalamnya akan artipenting film sebagai alat propaganda dan pendidikan yang paling kuat dan karena itu kami tidak mau lagi seperti halnya selama berpuluh tahun yang lampau ini, menjadi penonton atau objek saja. Kami untuk selama-lamanya menyatakan diri menjadi subjek dan pencipta film-film dan kami akan terus memegang peranan ini yang, begitulah keyakinan kami, makin lama akan menjadi semakin besar.

Kami sependapat bahwa perbedaan pandangan politik maupun sikap artistik tidak merupakan dan tidak boleh merupakan rintangan bagi kerjasama yang sehat diantara kita, guna, dalam semangat berlomba, memajukan perfilman nasional kita dalam hal isinya dan bentuk seninya,mengembangkan industri film dan seni film yang dinamis di negeri-negeri Asia-Afrika yang baru mencapai kemerdekaannya dan memajukan kerjasama dalam pertukaran pengalaman dan pekerjaan film.

Image_Oey_78 editttIkrar Seniman dan Pekerja Film Indonesia Setelah FFAA

 KAMI, seniman-seniman dan pekerja-pekerja film Indonesia yang ambil bagian aktif dalam FFAA III, pada kesempatan yang bersejarah dilangsungkannya FFAA III di ibukota RI ini, memperbarui kebulatan tekad kami untuk ikut menyelesaikan tuntutan-tuntutan Revolusi 1945 dan mengabdikan segala bakat dan kecakapan kami untuk tujuan mulia ini.

 Sesuai dengan filsafat Bung Karno, menjebol dan membangun, kami bertekad untuk menjebol dominasi imperialis dalam kehidupan kebudayaan di Indonesia terutama dominasi imperialis dibidang film. Kami menyadari keharusan ini sebagai syarat mutlak untuk pembangunan perfilman nasional yang sehat, patriotik, dan demokratik.

 Kami tanpa cadangan apapun berjanji akan melaksanakan garis Manipol dibidang kebudayaan, yaitu melawan kebudayaan imperialis, memisahkan kawan dan lawan, mengkonsentrasikan semua potensi nasional, dan menyelesaikan revolusi tahap nasional, demokratis, menuju sosialisme Indonesia.

 Kami berketetapan hati untuk meneruskan perjuangan melawan phobia-phobia-an, Manikebu-Manikebu-an, terutama dibidang film, dan kami dalam semangat kompetisi nasional berjiwa Pancasila dan manipol akan berlomba-lomba untuk membuat film yang sebaik-sebaiknya yang memuhi harapan sokoguru-sokoguru revolusi dan harapan rakyat seluruhnya.

 Kami sepakat untuk menjadikan 30 April sebagai Hari Film Nasional.

 Jakarta, 30 April 1964

 Seniman-seniman dan pekerja-pekerja film dalam FFAA III

 (Dahlan, Muhidin. 2009,246-27 dan ibid, 2009, Lampiran K dalam buku Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965.Yogyakarta;Merakesumba)

 

 

*

*

Top