The Monuments Men: Berebut Barang Bersejarah dengan Fuhrer.

“Tetapi jika kalian menghancurkan pencapaian mereka dan sejarah mereka,,,maka mereka tak pernah ada…hanya abu berterbangan” (Letnan Frank Stokes, The Monument Men 2014)

 

A-scene-from-Columbia-Pictures-The-Monuments-MenBenua Eropa 1944, panggung Perang Dunia II sedang memasuki babak akhir. Perang yang diawali dengan berderunya mesin perang Nazi untuk melindas daratan Eropa, ditebus dengan jutaan nyawa manusia yang melayang. Beberapa tahun kemudian, keadaan mulai berbalik, kekuasaan Hitler pun makin lama makin terdesak setelah pasukan Sekutu mendarat di Normandia atau D-Day tahun 1944. Sementara itu di Front Timur, Perang Patriotik Raya yang digencarkan Uni Soviet tidak mampu dibendung oleh Fuhrer. Disaat itulah, justru di Eropa tengah terjadi kehilangan besar atas sejumlah karya seni, benda antik, atau apapun yang berhubungan dengan nilai kesejarahan ataupun warisan bangsa yang lazim disebut heritage/pusaka.

Tentu tidak berlebihan jika Lynn H. Nicholas menjelaskan dalam bukunya The Rape of Europa tahun 1994 bahwa salah satu kerugian terbesar Eropa selama Perang Dunia II adalah pencurian karya-karya seni dengan nilai sejarah yang tinggi oleh pasukan Nazi. Obsesi Hitler dalam mengumpulkan karya-karya seni bersejarah, sebagai contoh, monumen, tugu, lukisan, patung, naskah kuno, dan lain sebagainya dikaitkan dengan ide Adolf Hitler yang merancang Fuhrer Museum di Linz, Austria sebagai lambang kedigdayaan Nazi dalam kebudayaan dan sejarah. Apalagi latar belakang Hitler sendiri yang merupakan mahasiswa seni di Wina, Austria sebelum Perang Dunia I (1914-1918) turut mendukung upaya “perampokan” tersebut.

Untuk melakukan “perampokan” bagi benda-benda bersejarah tersebut Nazi merasa perlu untuk membentuk Reichsleiter Rosenberg Taskforce tahun 1940yang dipimpin Alfred Rosenberg, si juru masak pemikiran bagi sahnya tindak tanduk Nazi di Eropa. Nazi percaya bahwa untuk menaklukan Eropa, tidak melulu serangan militer atau menakut-nakuti lewat pidato Hitler saja, kalau perlu perampokan atas barang bersejarah dan karya seni turut disahkan dengan tujuan “labelisasi Nazi”. Yang bikin repot selain melakukan perampokan, kaum Nazi dengan dalih “pemurnian budaya Jerman” melakukan pembakaran banyak karya seni. Buktinya, di Berlin, 20 Maret 1939 dilakukan pembakaran 1.004 lukisan dan patung, 3.825 gambar berikut cat air dan tulisan tangan. Walhasil, proses pencarian yang dilakukan Monument Men yang terbentuk tahun 1943 semakin rumit dan kompleks.

Film berdurasi 118 menit ini menceritakan bagaimana pasukan khusus yang tergabung dalam Monuments, Fine Arts, and Archives Program (dikemudian hari disebut Monument Men)ini bekerja. Mulai dari pembentukan, briefing, penugasan, serta aksi yang dilakukan selama mengabdi di Eropa. Personil dari tim ini, masing-masing memiliki kemampuan sebagai kurator karya seni, arsitek, kurator museum, ahli pahat namun yang membuat menarik adalah panggung saat mereka bertugas justru disaat Perang Dunia II memasuki babak akhir. Memang benar bahwa kekuasaan Fuhrer sedang surut namun kisah Fuhrer dalam mencengkeram Jerman serta menggulirkan mesin perang di Eropa ialah alasan bagi bulu kuduk yang merinding. Apalagi, di saat akhir kekuasaan Hitler tahun 1945, ada surat perintah Nero yang menyatakan jika Nazi kalah maka seluruh bangunan yang ada di Jerman termasuk “hasil rampokan” berupa karya seni bersejarah harus dibakar habis.

Toplist target operasi yang dilakukan oleh para Monument Men adalah lukisan Pablo Piccasso dan Patung Madonna and Child karya Michaelangelo, Ghent Altarpiece karya Jan Van Eyckyang diduga disembunyikan dalam lokasi penambangan dan masih tersebar di wilayah lainnya. Ini belum termasuk total “perampokan” yang dijalankan di Paris, Amsterdam, Ghent, Bruges dan Warsawa. Proses pencarian ini melibatkan banyak pihak mulai dari angkatan bersenjata dari Sekutu sendiri, pihak Uni Soviet yang ternyata memiliki “pasukan penyelamat monumen”, kurator museum Paris, para pemuka Gereja, dan tentunya intelijen Nazi yang masih berkeliaran. Ending-nya, Ghent Altarpiece dan Madonna and Child of Bruges berhasil diselamatkan serta meninggalkan “titik” terakhir Althaussee, Jerman bersama 3000 karya seni. Di laporan akhir, Letnan Frank Stokes selaku koordinator Monument Men mewartakan 5000 lonceng gereja, 300 troli, 3 juta buku, ribuan torah (kitab suci umat Yahudi), yang totalnya sekitar 5 juta karya seni bersejarah berhasil dipulihkan dan dikembalikan ke tempatnya masing-masing.

Namun demikian, film ini kurang memberi kekuatan di latar belakang nafsu Hitler menguasai karya-karya seni dan bersejarah di Eropa. Apakah hanya semata kepentingan kekuasaan semata? Atau hanya sekedar bagian rencana melengkapi koleksi Fuhrer Museum yang diimpikan? Atau memang latar belakang Hitler sebagai mantan mahasiswa seni? Sehingga penonton didorong untuk memperkirakan kaitan antara latar belakang Hitler, Fuhrer Museum disatu sisi, Perang Dunia II, dan Divisi Monuments, Fine Arts, and Archives Program di sisi lain.

Bagian menarik dari film produksi awal tahun 2014 ini ialah tugas para Monument Men yang dibuat multifungsi saat di lapangan. Pada mulanya mereka hanya fokus mencari karya seni yang hilang dicuri Nazi, namun seluruh skenario berubah saat dua rekan mereka (Letnan Jean Claude Clermont dan Letnan Donald Jeffries) meninggal. Para Monument Men dipaksa untuk menjadi tentara dan penyelamat karya seni bersejarah sekaligus. Film garapan George Clooney dan Grant Heslov ini memberikan pemahaman bagaimana sisi lain film bertemakan Perang Dunia II yang tidak melulu adu taktik peperangan namun kali ini “beradu lihai” menemukan karya seni bersejarah. Dengan kata lain, adegan perang yang identik dengan kontak senjata kali ini dipadukan kecekatan melacak dokumen, arsip, keterangan tentang keberadaan karya seni bersejarah yang dirampok Nazi tersebut.

Kemudian, ada pelajaran berarti dari film yang dibintangi aktor George Clooney (memerankan Letnan Frank Stokes sebagai penggambaran George L.Stout) dan Matt Damon (berperan Letnan James Granger/James Rorimer) ini bahwa penyelamatan karya seni bersejarah adalah hal yang tidak bisa ditawar apapun kondisinya meski perang sekalipun. Sebab urusan karya seni dengan unsur sejarah, terkait pula dengan warisan budaya bangsa. Terlebih, kosakata pusaka bangsa terkait pula dengan identitas, ruh/spirit yang dikaryakan dalam paduan cipta, rasa, dan karsa.

Sumber bacaan:

Charney, Noah. Inside Hitler’s Fantasy Museum. The Daily Beast. 7 Februari 2014

Edsel, Hesel. 2009. The Monuments Men: Allied Heroes, Nazi Thieves and the Greatest Treasure Hunt in History. Center Street: New York

Nicolas,H.Lynn. 1994. The Rape of Europa; The Fate of Europe Treasures in The Third Reich and The Second World War. New York: Vintage Books

sumber foto: https://www.toledoblade.com/Art/2014/02/05/True-story-behind-The-Monuments-Men-and-Nazi-art-looting.html

*

*

Top