Transformasi Niinuma Takayuki, Sang ‘Hati Samurai’

IMG_8343 edit

 

Meski pun berperawakan besar dan sepintas mengingatkan kita pada anggota yakuza di film-film Jepang, Niinuma Takayuki sangatlah ramah. Taka-san, demikian dia biasa disapa, adalah salah satu korban bencana tsunami yang melanda negaranya di tahun 2011. Dia hadir hari ini, Sabtu, 17 Mei 2014, untuk mengisi acara Hari Museum Internasional yang diadakan di Museum Konperensi Asia Afrika. Di hadapan para hadirin Taka-san membacakan Arigatou, pidato karyanya yang menyentuh. Taka-san sengaja menyajikan pidatonya dalam bahasa Indonesia walau pun terbata-bata. Hal tersebut dia lakukan demi mengapresiasi negara yang ia kunjungi, sekaligus sebagai bentuk terima kasih nya yang paling mendalam bagi Indonesia.

Selepas acara, pria ini menuturkan kisah hidupnya yang luar biasa yang mengantarkannya menjadi manusia seperti sekarang.

 

“Itu merupakan hari terpanjang dalam hidup saya…”

Didampingi interpreter bahasa Jepang-Indonesia, Niinuma Takayuki membawa percakapan kami ke beberapa tahun silam, kala semuanya berawal.

“Dahulu saya bukan orang yang menyenangkan. Bahkan bisa dibilang saya orang yang tidak berguna. Saya bisanya hanya melukai orang lain. Maksudnya, saya dulu kerjaannya mentato orang,” ujarnya, tersenyum lebar.

Sifat dan kepribadian Taka-san berubah total ketika dia menyaksikan sendiri derita Jepang ketika tsunami berlangsung.  “Saya melihat kota yang sudah saya tinggali sejak kecil lenyap tak berbekas dalam waktu singkat. Ribuan orang dan bangunan hanyut tersapu di depan saya. Memang, ada beberapa orang yang saya selamatkan dengan tangan saya sendiri, tapi banyak juga yang tidak bisa saya selamatkan. Sepanjang malam hingga pagi, saya mengangkati tubuh-tubuh yang sudah tidak bernyawa…” kenang Taka-san.

Hari itu, menurut Taka-san, adalah tanggal 11 bulan Maret terpanjang dalam hidupnya. “Di malam tersebut, banyak anak kecil yang punya mimpi dan masa depan cerah tewas begitu saja. Tetapi orang seperti saya yang sudah banyak melakukan hal yang buruk masih diberi kesempatan hidup. Walaupun semua milik saya sudah hilang, saya masih punya tubuh saya.”

Kejadian tersebut mendorong Taka-san untuk mulai merenungkan hidupnya. Dia bahkan mengakui, meski pun penampilannya dapat dibilang garang, dia tak kuasa menahan tangisnya. Ketika relawan yang berasal dari Amerika, Inggris, Cina, Taiwan, dan lain-lain banyak berdatangan, Taka-san pun tergerak untuk membantu mereka membagi-bagikan makanan yang relawan-relawan tersebut bawa kepada para korban. Menurutnya, itu adalah tindakan sosial pertama sepanjang hidupnya.

Beberapa hari kemudian, sebuah bank darurat didirikan di dekat tempat pengungsian mereka. Taka-san bergegas mengosongkan tabungan yang dia kumpulkan selama satu tahun belakangan. Sedikit sisa uang yang dia punya tersebut dia habiskan untuk membeli barang-barang keperluan para pengungsi. Sejak saat itu, Taka-san terus-menerus terdorong untuk menolong orang lain.

 

Transformasi Diri dan 311Karats

Selama Taka-san hidup di pengungsian, dia menyadari sesuatu yang dia paling tidak dia suka dari negaranya.

“Saya benci Jepang yang membuang-buang barang,” sebutnya.

Karena bantuan yang dibawa para relawan sangat banyak, barang-barang tersebut pun mulai disia-siakan oleh para pengungsi. Air, makanan, mau pun pakaian dibuang-buang meski belum habis atau belum rusak. Pernah, ujarnya, ada yang menyumbangkan 2000 buah pakaian dalam wanita untuk pemakaian berhari-hari. Tapi pada kenyataannya ada yang hanya baru dipakai sekali langsung mereka buang.

“Melihat hal tersebut saya sangat miris. Menurut saya mereka tidak menghargai pemberian para relawan. Ketika tsunami melanda bagian timur Jepang, yang rusak bukan hanya daerahnya, tapi juga orang-orangnya. Mereka menjadi malas dan hanya bisanya menunggu bantuan dari orang lain. Setelah mendapat bantuan pun, kebanyakan hanya disia-siakan. Saya ingin Jepang yang gemar berbagi dengan sesama lagi, seperti dulu. Saya pun mulai berpikir untuk membantu Jepang agar bisa kembali seperti Jepang yang saya cintai,” dia menekankan.

Suatu hari di tempat evakuasinya, Taka-san melihat benda yang menarik perhatiannya. Benda tersebut memiliki fungsi serupa solar panel. “Terus terang saya tadinya tidak tahu itu benda apa,” akunya sebelum tergelak. “Tapi saya perhatikan, benda itu memancarkan sinar dan menerangi tempat evakuasi kami di malam hari, sehingga memungkinkan kami beraktivitas kembali.”

Manfaat benda tersebut menginspirasi Taka-san untuk meminta bantuan teman-temannya di belahan Jepang lain agar mengirimkan solar panel ke tempat pengungsiannya. Dia juga menggunakan media sosial Facebook untuk menyebarkan pesan tersebat. Dukungan yang dia terima sungguh luar biasa. Dalam sekejap, teman Facebook-nya yang sebelumnya berjumlah hanya 4 bertambah menjadi 1000 orang lebih hanya dalam waktu seminggu.

Berkat bantuan teman-teman Facebook-nya, Taka-san pun bisa mengunjungi daerah-daerah lain yang membutuhkan energi listrik dan memasangkan solar panel untuk mereka secara gratis. Agar misi sosialnya menjangkau lebih banyak tempat, Taka-san mempelopori lembaga relawan bernama 311Karats yang berdiri sejak tahun lalu.

“Tepatnya setelah tanggal 9 Juni, hari ketika Tokyo diserang angin tornado. Kami di Ofuna menyaksikan kejadian tersebut lewat televisi dan langsung menuju lokasi membawa gergaji listrik, sekop, dan helm. Kami sampai di sana setelah 5 jam berkendara. Sesampainya di sana, kami sadar kekacauan yang diakibatkan tornado tersebut mengingatkan kami pada tsunami.”

Taka-san juga memastikan bahwa kegiatannya di sana dia bagi lewat Facebook agar teman-temannya bisa mengetahui apa yang terjadi dan jika berminat bisa memberikan bantuan mereka. Namun, banyak respon yang membuatnya geram.

“Status saya memang banyak dikomentari, namun kebanyakan bilangnya  ‘maaf kami ingin membantu, tapi tak bisa,’ atau ‘biar kami kirim doa saja deh.’  Saya kesal. Padahal hanya dengan selangkah saja, kita bisa membuat perubahan, baik itu untuk hidup orang lain mau pun untuk hidup kita sendiri. Kalau memang mereka tidak berniat membantu, lebih baik sekalian tidak usah berkomentar saja. Syukurlah tetap banyak relawan yang datang. Saat itu ada sekitar 80 orang yang membantu. Ada yang membuatkan onigiri, ada yang memberikan jus, bahkan ada yang hanya mengelap keringat sekalipun. Tapi mereka semua memberikan jasanya dengan ikhlas. Sejak itu lah, saya terinspirasi mendirikan 311Karats, agar siapa pun yang ingin menolong bantuannya dapat tersalurkan.”

Nama 311Karats sendiri ternyata memiliki dua makna yang cukup mendalam. 311Karats bisa dimaknai perubahan yang dilalui oleh sebuah batu menjadi sebuah berlian (mempunyai karat). Di sisi lain, nama ini bisa berarti juga kara (sejak) hari ke-11 bulan ke-3, yaitu hari ketika tsunami terjadi.

“Karena di hari itu lah transformasi saya dimulai,” jelas Taka-san.

Karena semua tempat yang rusak terkena bencana tsunami sudah dialiri listrik lagi sejak Agustus tahun lalu, kini misi utama Taka-san adalah memberikan energi berupa cahaya. Dibantu oleh 311Karats. Dia tengah giat memaksimalkan pemanfaatan solar panel di daerah-daerah yang masih belum memiliki penerangan. Dia berharap programnya ini tidak hanya mencakup Jepang semata, namun juga seluruh dunia.

 

Hati Samurai

Taka-san mengaku bahwa kegiatan sosialnya selama ini merupakan salah satu upaya agar Jepang bisa membuka matanya untuk selalu berbagi dan menolong sesama. Dia pun menyatakan alasan kesediaannya datang jauh-jauh ke Indonesia untuk menyampaikan pidato Arigatou . “Saya merasa orang Jepang kini cenderung tidak terlalu mementingkan rasa terima kasih. Terutama untuk alam sekitarnya. Coba pikirkan, sudah berapa banyak bencana yang menerpa negara kami beberapa tahun belakangan? Mungkin alam marah kepada kami karena kami tidak tahu terima kasih. Hal itu-lah yang saya ingin ubah dari penduduk Jepang. Saya rasa kami pasti bisa. Karena saya pun sudah berubah.”

Caranya menjalani hidup sekarang dia identikkan dengan cara samurai. Samurai sendiri dalam fungsinya dapat berarti orang yang bisa mengorbankan dirinya untuk orang lain yang membutuhkan.

“Kalau orang lain punya pedang samurai atau baju zirah samurai, saya punyanya hati samurai,” paparnya sembari tertawa.

Taka-san pun menutup obrolan kami dengan pernyataan yang amat patut dicatat.

“Apa yang bisa kita lakukan lakukanlah. Kalau kita punya uang, berikan uang. Kalo ada yang punya pikiran, sumbang pikiran. Jika yang dimiliki hanya tenaga, ya berilah tenaga,” ujarnya. “Jika kita memang berniat menolong orang lain, apa pun itu yang kita punya pasti akan bermanfaat, jadi jangan ragu untuk kita berikan.”

Pria penyuka warna oranye ini pun berjanji, setelah kembali ke negaranya dia akan menyebarkan pengetahuan yang dia dapatkan selama di Indonesia. Khususnya, bagaimana besarnya minat Indonesia dalam mempelajari kebudayaan Jepang.

“Dan saya pasti akan kembali ke sini lagi suatu saat nanti!” tutupnya bersemangat.

 

IMG_8345 edit

 

One Comment;

  1. aisyah azumi said:

    samurai heart…so touching :-(….suka dg tulisannya

*

*

Top