Fihavanana: ber-Gotong Royong ala Madagaskar (Obrolan singkat dengan mahasiswa Madagaskar)

Melihat Madagaskar tidak melulu bentang geografis pulau di lepas pantai tenggara Benua Afrika namun terhampar pula kronik peradaban yang pernah dirajut oleh pelaut Nusantara. S. Tasrif (1966;20-22) dalam bukunya Pasang Surut Kerajaan Merina menyebutkan bahwa Madagaskar berasal dari para pelaut Melayu yang merantau secara berkala. Sehingga ada yang mengatakan bahwa nenek moyang Madagaskar sebagian itu berasal dari Indonesia berdasarkan kesamaan budaya antara Indonesia dengan Madagaskar. Seorang etnolog Jerman, F.M Schnittger, berpendapat pula bahwa pulau Madagaskar itu diberikan oleh para pelaut Indonesia (suku Bugis) yang telah datang di pulau tersebut.

Robert Dick Read (2008; 146-158) dalam bukunya Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika turut meneliti tentang jejak pelaut Indonesia sampai ke benua Afrika. Robert Dick Read menjelaskan bahwa adanya kesamaan dari corak kebudayaan semisal, kesenian, bahasa, alat perkakas yang digunakan oleh masyarakat di Madagaskar. Sebagai contoh yaitu Bahasa Malagasy atau Ma’anjan yang artinya itu bahasa “ibu” dan diduga berasal dari bahasa Nusantara (Kalimantan bagian Tenggara). Termasuk, bentuk perahu bercadik yang dibawa oleh suku Bajo sebagai gelombang pertama yang datang ke pulau Madagaskar. Selain itu pula fakta yang mengejutkan dalam karya Robert Dick Read ini adalah temuan dari suku Tsimihety dengan uji serologi yaitu dengan cara mencocokkan identik kromosom cDe. Hasil dari uji tersebut membuktikan bahwa 62 % gen Afrika dan 38 % orang Indonesia (2008:164)

Pulau Madagaskar sendiri disusun atas ke-bhinneka-an suku bangsa mulai suku Antaisafy, Antaimoro, Antaisaka, Antambahaoka, Bezanozano, Merina, Mahafaly, Sakalava, Sihanaka, Tanala, Tsimihety. Kehidupan sosial yang beraneka ragam ini melahirkan konsepsi untuk menjadikan bangsa Madagaskar bersatu, bergotong royong dan merdeka yaitu Fihavanana. Ide ini adalah bangunan filosofi yang berakar atas asas kebersamaan dan kekeluargaan yang sudah dirajut dalam suku tradisional di Madagaskar. Artinya, Fihavanana sama dengan cerminan kepribadian bangsa Madagaskar yang berfondasi gotong-royong dengan tidak membeda-bedakan agama, ras, suku, ataupun jenis kelamin.

Berikut ini wawancara singkat dengan mahasiswa Madagaskar yang kuliah di Jurusan Administrasi Bisnis, Universitas Jember angkatan 2011 bernama Rakotoarisoa Mandaniaina Laniry atau akrab dipanggil Manda didampingi oleh temannya Tantely Madu. Wawancara bertemakan “Gotong Royong ala Madagaskar” ini dilaksanakan di Warung Kopi Cak Wang Jember, 31 Mei 2014, jam 19.30 bersama pegiat sAAs Indonesia, Trenggono Pujo dan Haryo Kunto Wibisono.

mada

Pujo          : Bisa ceritakan seperti apa Madagaskar menurut sejarah dan masyarakatnya?

Manda     : Negara (Pulau) Madagaskar terletak di sebelah tenggara benua Afrika. Selain Madagaskar terdapat juga pulau-pulau yang masuk bagian dari negara Madagaskar yaitu, Pulau Juan de Nova, Europa, Glorioso, Tromelin dan Bassas da India. Bahasa asli dari Madagaskar itu disebut bahasa Malagasy. Madagaskar pernah mengalami kelam pada saat dijajah Perancis tahun 1896 dan kemudian Madagaskar meraih kemerdekaannya pada tahun 26 Juni 1960. Madagaskar sendiri memiliki 18 suku bangsa antara lain suku Merina yang menyebar di ibukota Antananarivo. Ada juga suku Betsileo, Betsimisaraka, Vesu, Antanosy, Tsimihety sama seperti di Indonesia yang memiliki banyak suku. Masyarakat Madagaskar, 75% hidup di pedesaan yang terletak di bagian Selatan Madagaskar, mereka mayoritas bercocok tanam, untuk hasil bumi seperti cengkeh, kakao, kopiterpusat di bagian Barat Madagaskar.

 

Pujo       : Saya pernah membaca buku Penjelajah Bahari: Jejak Peradaban Nusantara di Afrika karya Robert Dick Read dan Pasang Surut Kerajaan Merina karya S.Tasrif. dalam buku tersebut dijelaskan bahwa ada hubungan kebudayaan termasuk genetik antara orang Madagaskar dan orang Indonesia yang dijalin dari leluhur kita dulu. Apakah benar itu ada ?

Manda   : Iya, benar. Dulu saya pernah diceritakan bahwa nenek moyang kami (bangsa Madagaskar) itu ada yang berasal dari Indonesia, mungkin itu terjadi dari perantau (pelaut) selama ribuan tahun ke Madagaskar dan saya membuktikan kesamaan tersebut pada saat datang ke Indonesia. Saya melihat persamaan itu dari segi bahasa seperti di Indonesia ada kata Bulan dalam bahasa Madagaskar disebut Vulan. Dalam Jawa itu ada bahasa Nandur Pari (Menanam Padi) sedangkan di Madagaskar itu menyebutnya Mambo Ly Vari (Menanam Padi), kemudian dari kenampakan fisik, ras, dan warna kulit juga mirip orang Indonesia. Tidak hanya itu saja Madagaskar pun ada jenis pemakaman Famadiana yaitu pemakaman seperti orang Toraja (tetapi tidak dimasukan kedalam goa-goa). Saya juga pernah membuka internet ternyata yang lebih mirip lagi tentang keberadaan nenek moyang, saya (yang diduga) berasal di Sulawesi kalau tidak salah itu suku Bajo namanya.

 

Pujo:      Kalau emang benar bahwa ada keterkaitan antara nenek moyang Nusantara dengan Madagaskar, apakah mungkin ada kesamaan dari nilai luhur kebangsaan di Madagaskar, semisal di Indonesia yaitu gotong royong ?

Manda   : Iya, ada. Fihavanana itu artinya kebersamaan dan kekeluargaan atau solidaritas. Secara asal usul bahasa Malagasy, Fi artinya bersama sedangkan Havana berarti keluarga. Fihavanana itu berasal dari ruh-nya orang Madagaskar yang dalam keseharian dan adat istiadatnya sudah mengakar prinsip kebersamaan dan kekeluargaan. Banyak acara tradisional yang mengutamakan keterlibatan, kerjasama dan kekeluargaan, seperti tradisi Famorana (khitan), upacara Vodiondry dan Famadihana (rangkaian upacara kematian). Kami yakin bahwa setiap orang sama dan masyarakat Madagaskar meskipun tersusun atas banyak suku namun kita berbicara atas nama bangsa Madagaskar yang berasal dari satu nenek moyang/leluhur. Tidak hanya masyarakat Madagaskar saja yang harus menjunjung tinggi Fihavanana tetapi aparat pemerintah atau siapapun yang merasa sebagai bagian dari bangsa Madagaskar wajib menjunjung tinggi Fihavanana.

 

Pujo       : Ini pertanyaannya sedikit agak mendalam, kita tahu bahwa tantangan terbesar dari negara-negara berkembang ini arus globalisasi yang menciptakan masyarakat menjadi individu. Bisa dilihat Indonesia, tantangan terbesarnya sudah memudarnya gotong royong. Nah, tantangan dari Fihavanana sendiri, bagaimana ?

Manda   : Iya benar, globalisasi ini menciptakan masyarakat untuk menjadi individu. Saya pernah mendengar peribahasa dari Madagaskar yaitu “Aleo Very Tsikalakalam Bola Toy Izay very Tsikalakalam Fihavanana” yang artinya kekeluargaan dan kebersamaan itu lebih penting daripada uang tetapi sekarang ini berbalik, ada lelucon yang mengatakan lebih baik kehilangan Fihavanana daripada kehilangan uang. Sekarang bisa dilihat contohnya masyarakat perkotaan disana sudah sulit untuk membicarakan Fihavanana lagi, mereka sudah merasa modern.

 

Pujo       : Apakah anda percaya bahwa Fihavanana bisa membangun negara-bangsa Madagaskar lebih berdaulat, mandiri dan berkepribadian?

Manda   : Iya. Kami masih sangat percaya dengan Fihavanana karena nilai tersebut bisa membuat masyarakat mandiri tidak hanya itu bahkan negara-bangsa juga dapat menjadi lebih berkepribadian. Kami percaya bahwa Fihavanana hidup dimasing-masing jati diri setiap bangsa Madagaskar. Jadi Fihavanana tidak bisa dihilangkan, bahkan Fihavanana sudah menjadi pedoman bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai contoh, pada saat perumusan konstitusi Madagaskar kemarin (2010), Fihavana menjadi panduan bagaimana undang-undang disusun dan dilaksanakan oleh pemerintah untuk kesejahteraan bangsa Madagaskar.[1]

 

Pujo       : Kamu pernah menempuh mata kuliah Pendidikan Pancasila ?

Manda   : Pernah pada saat di Semester 2. Menurut saya, Pancasila itu ruh yang paling mendasar dari Bangsa Indonesia, saya ingat di (pita) Lambang Garuda ada kata Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan simbol persatuan dari banyaknya suku di Indonesia. Saat itu dosen saya mengatakan bahwa Pancasila mengandung nilai gotong-royong yang berakar dari jati diri bangsa Indonesia.

 

Pujo       : Satu pertanyaan penutup. Apakah kamu pernah mendengar atau membaca Konferensi Asia-Afrika (18-24 April 1955) di Bandung ?

Manda   : Iya saya pernah mendengar dan membaca Konferensi Bandung. Saya membacanya pada saat SMA tingkat 1 mata pelajaran sejarah disitu dijelaskan mengenai peristiwa Konferensi Bandung. Konferensi tersebut berbicara bagaimana membangun solidaritas dari bangsa-bangsa baru merdeka atau belum merdeka untuk segera merdeka, termasuk bangsa Madagaskar sendiri yang mendeklarasikan kemerdekaannya di tanggal 26 Juni 1960.

 

Bacaan lebih lanjut:

Robert Dick Read.2008. Penjelajah Bahari: Pengaruh Peradaban Nusantara Di Afrika.Mizan. Bandung

S. Tasrif.1966. Pasang Surut Kerajaan Merina. Balai Buku Media. Jakarta.

Allen. M & Covell. 2005. Historical Dictionary of Madagascar. Scarecrow Press. Toronto

 

NB:

Dalam kutipan wawancara dikatakan bahwa Fihavanana dijadikan landasan konstitusi berbangsa dan bernegara silahkan akses lwt laman berikut: https://www.constituteproject.org/constitution/Madagascar_2010.pdf

 

[1] Pembukaan Konstitusi Madagaskar 2010 paragraf 3,”…Convinced of the necessity of the Malagasy society to recover its originality, its authenticity and its Malagasy character, and to inscribe itself in the modernity of the millennium while conserving its traditional fundamental principles and values based on the Malagasy fanahy that includes « ny fitiavana, ny fihavanana, ny fifanajàna, ny fitandroana ny aina », and privileging a framework of life allowing a « living together » without distinction of region, of origin, of ethnicity, of religion, of political opinion, or of gender…”

 

Haryo Kunto Wibisono dan Trenggono Pujo Sakti, sAAs Indonesia

*

*

Top