Harambee: ber-Gotong Royong untuk Kenya Merdeka

Dalam pidato singkatnya saat Madaraka Day, 1 Juni 1963, Jomo Kenyatta mengatakan sebagai berikut:

“…Kita harus bekerja lebih keras untuk melawan musuh-musuh kita yaitu kebodohan, penyakit dan kemiskinan. Kemudian menerjemahkan setiap kehendak rakyat menjadi kenyataan, negara Kenya merdeka harus segera memulai langkah-langkah dalam pembangunan ekonomi dan sosial. Tujuan pembangunan sosial bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan keluarga besar bangsa Kenya Merdeka…”

Jomo Kenyatta sadar bahwa sejak menulis Facing Mount of Kenya tahun 1938 dan My people of Kikuyu and the life of Chief Wangombe tahun 1944, ruang manusia yang ada diantara jejaring antar manusia atau masyarakat terbentuk pula sistem untuk mendayagunakan jiwa raga dalam rangka keseimbangan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Ruang antar manusia itulah yang membentuk gerak peradaban sesuai zamannya masing-masing. Semangat zaman melahirkan alam pikiran manusia, alam pikiran manusia pun sebaliknya membentuk bagaimana rupa zaman itu.

haramBegitu pun tanah air Kenya yang dinaungi oleh iklim khatulistiwa, menghasilkan kekayaan alam yang berlimpah, hasil bumi untuk anak cucu di wilayah Afrika Timur tersebut. Kesuburan tanah air Kenya membentuk pula bagaimana sikap hidup manusia yang ada di dalamnya. Lahir batin manusia yang hidup di Kenya tergambar lewat daur hidup dan keseharian dari ke-bhinneka-an suku, semisal; suku Kikuyu, Luhya, Luo, Kalenjin, Kamba, Kisii, Meru.

Kedatangan kolonialisme Inggris sejak tahun 1895-1963 sudah “menginterupsi” Kenya sebagai White Man’s Country berakibat pada banyaknya diskriminasi rasial. Mulai dari pergaulan masyarakat, hak politik, dan ekonomi. Sebagai contoh, Darsiti Suratman dalam bukunya Sejarah Afrika tahun 2012 menuliskan bahwa petani Eropa selain tinggal di dataran tinggi serta mengusahakan pertanian secara besar-besaran, sebanyak 15.000 orang memiliki tanah seluas 16.000 mil persegi, sementara itu suku Kikuyu sebanyak 1.600.000 jiwa memiliki tanah seluas 6.000 mil persegi. (2012;250).

Harambee dalam bahasa Swahili berarti usaha bersama atau bekerja sama, kosakata ini bukanlah hal baru bangsa Kenya[1]. Istilah “bekerja sama” banyak terdapat di berbagai suku di Kenya, suku Luo menyebutnya Konyir Rende, suku Luhya menyebut Obwasio, suku Kikuyu menyebutnya Ngwatio, suku Kamba menyebutnya Mwethia, suku Masai menyebutnya Ematonyok. Konsep ini mewujudkan tatanan yang bersendikan kerja yang saling menguntungkan, usaha bersama, tanggung jawab sosial bersama, berdikarinya komunitas. Harambee pada dasarnya sudah terwujud dalam kehidupan sehari-hari semisal, membangun rumah tetangga secara bersama-sama, upacara pernikahan yang dikerjakan bersama, irigasi, panen dan penggalangan bantuan.

harambeeKonsep Harambee berada di dalam lakon natuur dan kultuur suku-bangsa yang sudah turun temurun di Kenya. Hal ini terwujud dalam kegiatan perdesaan atau kehidupan bertetangga, kegiatan ini bersifat lintas umur dan jenis kelamin, atau kelompok dan didukung oleh sistem nilai yang berlandaskan kebersamaan. Harambee menjadi slogan nasional dan diberlakukan secara legal-formal, setelah peringatan Madaraka Day, Juni 1963 dibawah kepemimpinan Presiden Kenya, Jomo Kenyatta dan organisasi KANU (Kenya Africa National Union)[2], termasuk kata Harambee pun diabadikan dalam lambang kenegaraan Kenya.

Sesudah hari itu, Harambee digunakan sebagai pedoman tanah air Kenya merdeka yang berjiwakan usaha bersama, masyarakat berdikari, mengusahakan kegiatan ekonomi bersama dan semua menuju kemandirian kolektif. Dalam usaha membangun Kenya Merdeka, gagasan Harambee diletakkan dalam prinsip sebagai berikut:

a) Harambee bersendikan ke-berdikari-an, persatuan dalam ke-bhineka-an yang direfleksikan berdasar prinsip kerjasama antara warga Kenya serta aparat negara, oleh sebab itu pendekatan bottom up untuk pembangunan nasional. Individu di tingkat masyarakat dan akar rumput berpartisipasi aktif dalam inisiatif, perencanaan dan pelaksanaan pembangunan;

b) Kegiatan Harambee menitikberatkan pada sumberdaya setempat yang didayagunakan untuk kemakmuran negara-bangsa Kenya, sebagai contoh kepemilikan ternak serta kekayaan alam seperti bahan pangan dan tambang;

c) Keterlibatan dipandu oleh prinsip kebersamaan dengan tujuan baik daripada keuntungan individu. Hasil akhir Harambee harus menguntungkan masyarakat bukan hanya seorang individu. Sehingga poin keterlibatan dan pengorganisasian yang harus ditingkatkan. Usaha ini lebih bermakna saat kebutuhan individu akan identitas, komitmen, kenyamanan hati dan bernilai menjadi keutamaan;

d) Kebutuhan pembangunan nasional harus mengutamakan kepuasan dan kebutuhan tepat guna dari anggota atau kelompok yang berpartisipasi. Dengan begitu secara diringkas Harambee menjadi pencerahan komunitas dan kepentingan bersama yang sudah di-standar utama-kan dalam sistem.

Sebagai bagian strategi membangun Kenya Merdeka, Harambee terorganisir menjadi unit-unit sosial yang tersebar ke seluruh wilayah di negara Kenya, seperti Nairobi, Rift-Valley, Nyanza. Disamping itu, Harambee menjadi alasan bagi negara untuk memberikan bantuan berupa pemenuhan hak-hak dasar warga-negara, fasilitas pendidikan, kesehatan, perumahan kepada segenap tumpah darah bangsa Kenya. Negara-bangsa Kenya merdeka berpedoman Harambee sebagai usaha bersama dalam pencapaian cita-cita Kenya Merdeka yang lebih berdaulat, berdikari atas hasil alamnya, dan berkepribadian.

 

 

 

Daftar Bacaan

 

Barkan, D. Joel dan Frank Holmquist.1986. Politics And The Peasantry In Kenya: The Lessons Of Harambee. Working paper no. 440, Institute For Development Studies, University Of Nairobi, PO. Box 30197, Nairobi, Kenya.

Burlingame, Professor Dwight. 2008. The Role Of Harambee In Socio-Economic Development In Kenya: A Case Of The Education Sector. Bologna University Master in International Studies In Philanthropy And Social Entrepreneurship. Module : History of Philanthropy In Europe And The United States: Comparative aspects. (misp 4th edition (feb. 2008-jun. 2009)

Mbithi, M. Philip dan Rasmus Rasmusson. 1977. Self Reliance in Kenya: The Case of Harambee. The Scandinavian Institute of African Studies, Uppsala.

 

NB :

http://www.kenyalogy.com/eng/info/histo14.html

 

[1] Bandingkan, Ir. Soekarno dalam pidato Lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, ’Gotong-royong’ adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari ‘kekeluargaan’, saudara-saudara! Kekeluargaan adalah salah satu faham yang statis, tetapi gotongroyong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo: satu karyo, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karyo, gawe, pekerjaan amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembanting tulang bersama pemerasan keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah gotong-royong!”

 

[2] Dalam manifesto KANU yang dimuat dalam African Socialism and its Application to Planning in Kenya (1965;17) dikatakan bahwa “We are confident that the dynamic spirit of hard work and self-reliance which will motivate the Government will inspire the people throughout the land to great and still -greater efforts for the betterment of their own communities” (Page 13.) Moreover, “every individual has a duty ,to play his part in building national unity. Your duites are not limited to the political sphere. You must endeavour to support social advance.” (Page 19.)

*

*

Top