Rachid Mekhloufi: Diplomat Kemerdekaan Aljazair di lapangan sepakbola*

“..Forgeting a career to join revolution. In 1958, that’s what Rachid Mekhloufi did taking the risk to avoid regret. Becoming the symbol of a struggle….and playing,playing,playing. Using football a propaganda tool..”[1]. Eric Cantona

 

Hubungan antara rasa kebangsaan dan olahraga pada dasarnya sangat erat, sejarah sudah mencatat bahwa lewat olahraga identitas kebangsaan terbangun. Begitupun pula dalam perbincangan antara siapa penjajah dan siapa yang dijajah, seperti halnya Aljazair dan Prancis, disamping perjuangan politik, lewat olahraga sejumlah atlet mencatat corak kebangsaan dan bumbu identitas kemerdekaan. Saat Olimpiade 1928 Amsterdam, Boughera El-Ouafi memenangkan medali emas Marathon, Abdelkader Abbes atlet bersepeda dalam Tour de France 1936, disusul Abder Ibrir di tahun 1949/1950 yang menjadi kiper tim nasional Perancis, dan Alain Minoumi peraih medali emas cabang Marathon Olimpiade Melbourne 1956.

tumblr_mm07xj4FrL1qaznnlo6_r1_1280Khusus di cabang olahraga sepak bola, banyak yang beranggapan bahwa olahraga ini bukan hanya urusan adu ketangkasan dan taktik strategi selama 90 menit belaka, ada pertemuan antar corak kebudayaan, ekonomi, interaksi politik, bahkan sejarah yang akan meletupkan sentimentil dan dilema tersendiri bagi aktor yang bermain dengan 11 orang tersebut. Semisal, Zinedine Zidane yang berasal dari imigran Aljazair sekaligus bintang tim nasional Perancis yang sukses merengkuh Piala Dunia 1998. Berada dipersimpangan dua kebudayaan antara Perancis dan Aljazair tentu membuat kita usil bertanya bagaimana perasaan Zidane dan pesepakbola Prancis lainnya yang sebagian besar berasal dari Afrika, sewaktu menyanyikan lagu kebangsaan La Marseillaise sebelum pertandingan dimulai?

Dalam khasanah sejarah sepakbola Prancis dan Aljazair tercatat pula nama Rachid Mekhloufi yang justru menggunakan sepakbola sebagai ajang kampanye perjuangan kemerdekaan Aljazair menentang kolonialisme Prancis. Awalnya, pesepakbola berposisi penyerang kelahiran Setif, 12 Agustus 1936 ini, datang ke Perancis demi mimpi sebagai pemain profesional. Tak lama kemudian, ia memenangkan kompetisi Liga Prancis bersama klub Saint Ettiene tahun 1957 serta membawa Prancis sebagai jawara World Military Cup di tahun yang sama. Mekhloufi mewakili pula tim nasional Perancis sebanyak 4 kali di tahun 1956-1957 dan sempat tercatat dalam daftar pemain Les Bleus di Piala Dunia 1958 Swedia bersama Moustapha Zitouni (keturunan Aljazair), pemain legendaris Raymond Kopa (keturunan imigran Polandia) serta Just Fontaine (berdarah Spanyol). Di periode tersebut, Mekhloufi dan sejumlah pesepakbola imigran Prancis dipandang sebagai model integrasi persaudaraan dan keberhasilan penduduk asli dan pemukim Prancis (pied-noirs) di Aljazair.

Bergabung dengan Tim Nasional FLN

arton548815 April 1958, ditengah-tengah gemuruh perang kemerdekaan Aljazair dan beberapa bulan menjelang Piala Dunia di Swedia, FLN (Front Liberation Nationale) memanggil 30 pemain sepak bola profesional keturunan Maghribi (Afrika Utara) di Perancis untuk berangkat ke Tunisia dan mendirikan Tim Nasional FLN, termasuk Rachid Mekhloufi dan Moustapha Zitouni yang justru tercatat di Tim Nasional Prancis untuk Piala Dunia 1958. Gagasan FLN dibawah asuhan Mohamed Boumezrag ini dianggap cikal bakal berdirinya Tim Nasional Aljazair sekaligus bentuk perjuangan kemerdekaan Maghribi Tunisia, Maroko dan Aljazair melawan kolonialisme Perancis. Sebagai kelompok yang memperjuangkan kedaulatan penuh Aljazair, FLN memandang bahwa perjuangan kemerdekaan Aljazair tidak melulu adu cerdik gerilya bersenjata, strategi ekonomi-politik, dan kelihaian diplomatik, namun merambah ke dunia olahraga, khususnya sepakbola. Pendek kata, tim nasional FLN dibentuk untuk mempropagandakan keberadaan Aljazair sekaligus merebut kemerdekaan dari Prancis via lapangan sepakbola.

Hubungan antara FLN, perjuangan kemerdekaan Aljazair dan sepakbola adalah kelanjutan dari terbentuknya klub sepakbola bernafas anti-kolonial yang didirikan oleh penduduk Aljazair di tahun 1913 bernama Musulman de Mascara menyusul kemudian pendirian klub Mouloudia pada tahun 1921, bahkan pada Mei 1956, Le Sporting Club de Bel-Abbès, dan L’Union Sportive Musulmane de Bel-Abbès, bertanding di final Piala Afrika Utara. Belum lagi, latar belakang salah satu pimpinan FLN yaitu Ahmed Ben Bella yang sempat menjadi pesepakbola berposisi gelandang di klub Olympique de Marseille, saat tahun 1939. Jadi tidak mengherankan bila sepakbola dianggap sebagai alat yang efektif untuk memenangkan kampanye perjuangan kemerdekaan Aljazair selain sebagai tandingan tim nasional Prancis.

Bergabungnya Rachid Mekhloufi dalam Tim Nasional FLN bersama Abdelhamid Kermali, Mokhtar Arribi, Abdelhamid Bouchouk, Said Brahimi, Abderrahmane Ibrir, Said Haddad, Abderrahmane Boubekeur, Kaddour Bekhloufi, Amar Rouaď, Mohamed Maouche, Moustapha Zitouni, Abdelaziz Bentifour membuat kampanye gerakan kemerdekaan Aljazair semakin kencang. Bahkan Februari 1959 disaat rangkaian tour pertandingan di Baghdad, Irak, lagu kebangsaan Qassaman dan bendera nasional Aljazair “Bulan Sabit Merah” pertama kali dikibarkan. Federasi Sepakbola Prancis sendiri sempat memprotes FIFA tentang keberadaan tim nasional FLN, namun apa daya, Tim Nasional FLN justru melanjutkan tour pertandingan ke Eropa Timur, Asia, dan Afrika.Hasilnya dalam kurun waktu 1958-1961 dari 91 pertandingan yang dilakoni, tim nasional FLN membuahkan kemenangan 65 kali, 13 kali imbang, 13 kali kalah, dan rasio gol sejumlah 385-127.

Selama kiprahnya bersama Tim Nasional FLN, Rachid Mekhloufi turut serta dalam laga perdana melawan Tunisia di Tunis yang diakhiri skor 7-1 dan pertandingan kedua dengan tim yang sama 8 gol tanpa balas untuk kemenangan Aljazair. Termasuk pula, pertandingan di Iraq tahun 1959 yang 6 pertandingannya dimenangkan oleh Aljazair semua. Belum lagi, tour ke beberapa negara Asia untuk bertemu dengan Ho Chi Minh di Vietnam dan Chou En Lai di Tiongkok tahun 1959. Kemudian, laga pamungkas tim nasional FLN melawan Yugoslavia di Beograd tahun 29 Maret 1961 yang berakhir 6-1 untuk kemenangan Aljazair. Setelah deklarasi kemerdekaan Aljazair, 5 Juli 1962 secara resmi Tim FLN dibubarkan sehingga beberapa pemain tersebut pensiun dan sebagian kembali ke klubnya masing-masing. Meskipun demikian, Mekhloufi sempat mencatatkan 10 penampilan dan 5 gol bersama Tim Nasional Aljazair yang baru sampai tahun 1969.

Di pertengahan tahun 1960-an, Mekhloufi sendiri kembali ke Eropa bermain untuk FC Servette semusim dan balik kandang merumput di klub Saint-Étienne selama enam musim, menyandang ban kapten untuk kampiun Liga Prancis pada tahun 1964, 1967, 1968. Dalam final Piala Perancis pada 12 Mei 1968, pertandingan terakhir untuk Saint-Etienne, Mekhloufi mencetak dua gol yang menakjubkan demi kemenangan 2-1 atas Bordeaux. Dua tahun kemudian, saat umur 34 tahun Mekhloufi menggantung sepatunya bersama klub Bastia. Selama karier menjadi pemain sepak bola, Rachid Mekhloufi berhasil menyumbang 170 gol durasi tahun 1954/1969 dan mengantarkan klub Saint-Etienne, juara Liga Perancis 4 kali.

Pada tahun 1970, setelah melatih klub Bastia, Prancis, Rachid Mekhloufi kembali ke Aljazair untuk menjadi pelatih tim nasional Aljazair dan berhasil mengantarkan Desert Fox merebut emas di Mediteranian Games tahun 1975, dan emas di All-African Games tahun 1978, termasuk ke Piala Dunia untuk pertama kali di Spanyol tahun 1982. Tim nasional Aljazair lewat gol kemenangan pemain bintang Lakhdar Belloumi dan Rabah Madjer sempat mengalahkan Jerman Barat dengan skor 2-1 serta Chili skor 3-2.

Kisah Rachid Mekhloufi bersama Timnas FLN di tahun 1958-1962, dianggap sebagai pengejewantahan semangat kemerdekaan Aljazair yang disaat itu masih berjuang melawan kolonialisme Prancis. Lahirnya negara-bangsa Aljazair di tahun 1962 turut dibidani pula oleh keberadaan tim sepakbola yang aktif mengkampanyekan bahwa Aljazair pantas untuk berdaulat dan layak untuk berdiri di atas kaki mereka sendiri.

Istiqlaal! Tahiyaa Al-Djazair!

 

Daftar Bacaan

Pierre, Lanfranchi.1994. Mekloufi, un footballeur francais dans la guerre d’Algerie. Actes de la recherch en sciences sociales. Vol 103 Juin 1994.

Hare, Geoff.2003. Football in France; A Cultural History.Berg. Oxford

Algeria-Equipe FLn-History and Matches http://www.rsssf.com/tablesa/alg-fln-intres.html

 


[1] Mekhloufi and FLN Team. Al-Jazeera News. 20 Maret 2013.

 

*Trenggono Pujo Sakti-pegiat sAAs Jember

*

*

Top