The Lady: Perspektif Barat atas Sosok Aung San Suu Kyi

The Lady: Perspektif Barat atas Sosok Aung San Suu Kyi

The Lady - Poster

Tahun: 2011
Sutradara: Luc Besson
Penulis: Rebbeca Frayn
Durasi: 130 menit

“Please use your liberty to promote ours.” – Aung San Suu Kyi

Saya pertama mendengar mengenai Aung San Suu Kyi ketika saya masih SD. Waktu itu saya iseng membaca majalah wanita milik ibu saya. Di dalamnya terdapat artikel yang memampangkan nama tersebut beserta wawancara dengannya. Di benak kanak-kanak saya kala itu, pikiran yang terlintas hanya satu: “Namanya lucu ya.”

Bertahun-tahun kemudian, saya mendapat kesempatan untuk menonton film yang didasarkan dari kehidupan perempuan yang terkenal dengan sapaan ‘The Iron Orchid’ atau sang Anggrek Baja ini. Film ini diberi tajuk The Lady (2011) dan dibesut oleh sutradara kenamaan asal Prancis, Luc Besson. Melalui film ini, saya belajar bahwa Aung San Suu Kyi tidak hanya menarik dari namanya, melainkan juga dari dedikasinya memperjuangkan rakyat tanah airnya.

Aung San Suu Kyi adalah putri dari jendral Aung San. Dia adalah seorang tokoh yang berperan membebaskan negara Myanmar dari penjajahan Inggris. Ketika bertugas, dia tewas dibunuh sekelompok pemberontak berseragam, meninggalkan sang istri dan Suu Kyi. Ketika dewasa, Suu Kyi telah menjadi seorang ibu rumah tangga bersuamikan Michael Aris, seorang dosen Universitas Oxford, dengan dua anak laki-laki. Mereka hidup tentram di Inggris.

Suatu malam, Suu Kyi mendapat kabar bahwa ibunya terserang stroke. Dia pun segera terbang kembali ke Myanmar untuk merawat sang ibu. Ketika di sana, Suu Kyi menyaksikan sendiri kekejaman junta militer yang tanpa ampun menghabisi rakyat sipil, termasuk dokter-dokter rumah sakit. Peristiwa ini kemudian menggugahnya untuk membawa perubahan di negaranya dengan terjun ke dunia politik. Ia beserta beberapa pendukungnya membentuk partai ‘National League for Democracy’. Partai ini bergerak dengan misi perdamaian dan anti kekerasan. Dalam waktu singkat, partai Suu Kyi mengumpulkan banyak sekali dukungan rakyat Myanmar yang muak atas kepemimpinan keras yang mereka alami selama ini. Bahkan pada Pemilu Myanmar tahun 1990, NLD berhasil meraih jauh lebih banyak suara ketimbang para junta militer.

Selama perjuangannya, Suu Kyi terpaksa harus berpisah dari suami dan anak-anaknya berulang kali. Petinggi-petinggi junta militer yang merasa terancam oleh Suu Kyi menghalalkan segala cara diplomatis untuk memisahkan keluarga ini, termasuk menolak visa dan mengekstradisi Michael Aris dan menjadikan Suu Kyi tahanan rumah selama 15 tahun. Meski pun begitu, Aris tetap berjuang menominasikan Suu Kyi sebagai peraih Nobel perdamaian, penghargaan yang akhirnya ia raih di tahun 1991. Suu Kyi merupakan perempuan asal Asia pertama yang memenangkan penghargaan ini.

The Lady merupakan film pertama yang mengisahkan salah satu perempuan paling fenomenal di Asia dalam satu abad terakhir. Namun patut disayangkan, penggarapannya ditangani oleh negara Prancis dan Inggris. Akibatnya penyajiannya pun terasa sangat ‘mem-Barat’. Salah satu ciri yang kerap ditemukan dalam film historis berlatar belakang negara non-Barat seperti ini adalah penggunaan bahasa Inggris. Suu Kyi digambarkan sering menggunakan bahasa Inggris kala berinteraksi dengan sesama rakyat Birma, termasuk dengan ibunya sendiri. Hal ini tetap dia lakukan meski pun tidak ada warga asing yang hadir di sekitarnya.

Dari sisi skenario, Rebbeca Frayn sengaja menyajikan perjuangan Suu Kyi lewat genre drama-romantis. Penuturan film lebih disajikan melalui sudut pandang Michael Aris dalam mendampingi perjuangan istrinya dengan setia. Film ini juga menandakan pertama kalinya sutradara Luc Besson membesut film dari genre tersebut. Akibatnya, Besson lebih dulu terkenal membesut film-film action memukau macam Leon: The Professional, The Fifth Element, dan rangkaian film The Transporters, terkesan sedikit menunjukkan kelemahannya. Dia seperti ‘menahan diri’ menggeber adegan demi adegan yang telah terbiasa dia sajikan secara eksplosif dan menggantinya dengan adegan sendu dan manis. Mungkin lebih baik jika Luc Besson kembali ke akarnya sebagai sineas action.

Sedangkan dari sisi casting, akting Michelle Yeoh sebagai pemeran utama patut dipuji. Meski pun tidak memilki darah Birma sama sekali, asal Malaysia ini menunjukkan usaha yang cukup gemilang dalam ‘menjelma’ menjadi Suu Kyi melalui gerak-gerik dan cara bicaranya. Performa David Thewlis juga tidak mengecewakan saat memerankan Michael Aris sekaligus saudara kembarnya, Anthony Aris. Thewlis tampil apik dan bisa mengajak penonton bersimpati atas dedikasinya kepada sang istri.

Secara pengetahuan historis, The Lady mungkintidak akan mampu memuaskan penonton. Kejadian-kejadian penting tetap harus dipadatkan demi durasi. Namun film ini cukup berhasil mengeksplorasi Aung San Suu Kyi sebagai sesosok perempuan yang penuh cinta. Baik cintanya sebagai istri kepada suaminya, cintanya sebagai ibu kepada anak-anaknya, dan cintanya sebagai pemimpin negara kepada rakyatnya. Ia menunjukkan bahwa mereka selalu menjadi prioritasnya. Sejalan dengan tuturan sang ayah yang ia jadikan kutipan inspirasinya: You may not think about politics, but politics think about you.”

*

*

Top