Selamat Ulang Tahun, Indonesia

18 Agustus 2014, usia Indonesia sudah 69 tahun, lebih sehari.

Kemarin, tepat di hari ulang tahun Indonesia, sekelompok Sahabat MKAA, Asia Africa Reading Club, dan Public Educator Club melaksanakan upacara bendera sederhana di bekas Penjara Banceuy. Upacara bendera kami yang pertama. Sebuah gebrakan awal generasi muda untuk terus mengingat apa yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu. Perjuangan untuk dapat berteriak dengan lantang kata, “Merdeka!”

1408237190024

Pagi itu dingin sekali. Beberapa peserta bahkan mengaku tidak mandi pagi.

Upaya kami untuk kembali melangsungkan upacara bendera bukan karena ini rutinitas tiap tahun. Kami tidak dibayar, kami tidak disuruh. “Ini semata-mata gerakan melawan lupa”, jelas Kang Adew, inisiator sekaligus pemimpin upacara.

Saat amanat disampaikan oleh Bp. Thomas A. Siregar selaku pembina upacara, saya kembali termenung. Dengan suara santai namun dalam beliau bertutur, “Di tengah kesibukan kita, tetap luangkan waktu untuk kejayaan Indonesia.” “Perjuangan itu tidak berhenti setelah ’45. Tetapi setelah itu apa? Banyak. Berantas kebodohan salah satunya. Musuh kita jaman ini lebih ngeri.” “Upacara ini, walaupun sederhana, namun menunjukkan komitmen kita. Sekalipun kesannya selalu simbolik.” “Tahun 1945 Indonesia merdeka, 10th kemudian Indonesia kembali menunjukkan jati dirinya. Mengumpulkan negara-negara dunia ketiga utk juga merdeka.” “Momen tahunan ini gunakan sbg momen refleksi diri. Apa yang sudah kita berikan (utk negara ini)?” Demikian sepenggal amanat singkatnya.

20140817080901

Saya bahagia, kami bahagia. Bukan, bukan karena setelah itu dibagikan nasi kuning gratis. Kami malah tidak sempat menyiapkan konsumsi. Kami bahagia karena kami semakin menghargai tanah air kami. Saya sempat tertegun tersenyum ketika ada yang berkata, “Bagaimana saya bisa tidak mencintai Indonesia ketika saya menghirup udara dari tempat ini? Bagaimana saya bisa tidak mencintai Indonesia ketika saya makan dan minum dari tanah dan mata air Indonesia? Bagaimana bisa saya tidak mencintai Indonesia ketika saya ingin dikuburkan bersama keluarga, di bumi Indonesia ini?” Hah, saat menulis ini pun saya kembali menghela napas.

Saya harap cinta dan semangat ini tidak hanya terjadi di pertengahan bulan Agustus saja. Saya, mungkin semua pembaca yang membaca ini, berharap bahwa rasa ini akan terus ada, mengiringi Indonesia di tahun-tahun berikutnya, menuju kemerdekaan yang seutuhnya.

Sebagai penutup, saya sajikan kembali pidato Bung Karno di saat-saat proklamasi.

 

SAUDARA-SAUDARA SEKALIAN!

Saya telah minta saudara-saudara hadir disini untuk menyaksikan satu peristiwa maha-penting dalam sejarah kita.

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah berjoang, untuk kemerdekaan tanah air kita bahkan telah beratus-ratus tahun!

Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.

Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti-hentinya.

Di dalam jaman Jepang ini, tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka, tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga sendiri, tetapi kita percaya kepada kekuatan sendiri.

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil sikap nasib bangsa dan nasib tanah air kita di dalam tangan kita sendiri. Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri akan dapat berdiri dengan kuatnya.

Maka kami, tadi malah telah mengadakan musyawarat dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia. Permusyawaratan itu seia sekata berpendapat bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.

Saudara-saudara!

Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami:

PROKLAMASI

KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKN KEMERDEKAAN INDONESIA.

HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN, DISELENGGARAKAN DENGAN CARA SEKSAMA DAN DALAM TEMPO SESINGKAT-SINGKATNYA.

JAKARTA, 17 AGUSTUS 1945

ATAS NAMA BANGSA INDONESIA

SOEKARNO – HATTA

Demikianlah saudara-saudara!

Kita sekarang telah merdeka!

Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!

Mulai saat ini kita menyusun Negara kita! Negara Merdeka, Negara Republik Indonesia – merdeka kekal dan abadi. Insyaallah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu!

 

 

3 Comments

  1. YHY said:

    Mungkin sebaiknya komunitas ini banyak membuat acara yang sifatnya lebih gaul. Supaya lebih menarik para remaja dan pemuda untuk bergabung, kemudian secara tidak langsung, baru disisipkan arti perjuangan para pendiri negeri ini.

    Mengapa perlu dibuat acara yang lebih gaul? Karena pada umumnya generasi muda zaman sekarang susah di doktrinisasi, maunya yang serba instan.

    • yudha ps said:

      coba deh main k mkaa. ada lebih banyak acara gaul dr acara d atas. ini cuman sbagian kecil dari acara mkaa ajah.

  2. ong said:

    Setelah melihat n mengamati kondisi generasi muda skrg, bagaimana caranya agar generasi muda n gemerasi akan dtg dpt menghargai arti kemerdekaan yg telah ditebus dg darah para pahlawan kita di masa lalu?

*

*

Top