NOTULASI Acara: Talkshow “Bandung, Candradimuka Perjuangan Diplomasi Indonesia: Kekuatan Ketiga”

Narasumber: R. Otong Toyibin Wiranatakusumah (Perwakilan Dalem Bandung) dan J. J. Rizal (Sejarawan)

Rangkaian Acara Friendly Bandung, Perjalanan Panjang Ibukota Asia Afrika
Dalam Rangka Peringatan Hari Jadi 204 tahun Kota Bandung

Tempat: Pendopo Kota Bandung, Jalan Dalem Kaum

Rangkuman Acara:

13.00-13.30: Musikalisasi pidato, hiburan.

13.50: Sambutan dari Bapak Thomas A. Siregar, Kepala Museum Konferensi Asia Afrika

“Acara ini merupakan salah satu cara edukasi publik yang diselenggaraan demi merayakan HUT kota bandung dengan tema ‘Friendly Bandung, Perjalanan Panjang Ibukota Asia Afrika’. KAA ingin menghadirkan kembali memori kolektif sejarah panjang kota Bandung. Di kota ini, Bung Karno mendengungkan gagasan solidaritas 80 tahun lalu, 20 tahun sebelum diselenggarakannya KAA. Ini lah yang kemudian menjadi Bandung Spirit, beserta gagasan-gagasan penting yang menentukan arah politik Indonesia. Gagasan ini pun menginspirasi puluhan negara Asia Afrika untuk kemerdekaannya. Sehubungan dengan itu, tema talkshow hari ini diharapkan dapat mengunang masyarakat Bandung untuk terus mengeksplorasi sejarah kota Bandung, tidak terkecuali dari para sesepuh kota Bandung. Pameran yang mengetengahkan sejarah kota Bandung juga dibuka di KAA mulai tgl 27 sampai sebulan penuh. Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat mengundang kembali kecintaan warga terhadap seharah kota Bandung.”

13.55: Sambutan Bapak Ridwan Kamil, walikota Bandung

“Sedari dulu, Bandung memang sudah beruntung dari segi geografis. Lokasinya memungkinkan suhu Bandung menjadi sejuk sepanjang zaman. Akhir-akhir ini memang tidak sesejuk itu, karena bangunannya lebih banyak dari tamannya. Jadi sekarang ditetapkan bahwa setiap membangun bangunan, si pembangun harus harus membangun taman juga.
Pada tahun 1850, penduduk Bandung hanya 11 ribu sekian. Sekarang sudah menjadi 2,5 juta. Bahkan kalau ditambah dengan turis di setiap weekend-nya, penduduk bisa membengkak menjadi 6 juta orangnya turis. Berkaitan dengan itu, saya ingin menyatakan di sini bahwa tidak pernah ada pelarangan Plat B di kota Bandung. Hanya tolong coba sesekali naik kereta api. Asyik lho, naik kereta api.
Kota kita Bandung ini juga pernah menjadi lab arsitektur dunia. Banyak bangunan karya-karya arsitek kenamaan dunia di zamannya menghiasi Bandung hingga kini. Memang, Bandung dulu didesain jadi kota taman. Makanya sekarang saya banyak bangun taman. Itu sebagai langkah saya agar tidak melupakan sejarah.

Jika diibaratkan orang, kota Bandung itu terlalu banyak gelarnya. Gelar-gelarnya pun tidak sembarangan, tapi sudah tersohor di dunia internasional. Apalagi kita tidak boleh melupakan bahwa Bandung lah tempat lahirnya gagasan kemerdekaan. Proklamasi memang diumukan di Jakarta, namun kelahiran gagasannya terjadi di Bandung. Di kota ini lah, seorang Bung Karno ditaklukkan hatinya oleh seorang perempuan Bandung, Ibu Inggit Garnasih. Tidak heran, Bung Karno pernah berkata, ‘Hanya ke Bandung aku kembali ke cintaku yang sesungguhnya.’
Saya bertekad pada April 2015 mendatang, yaitu ultah KAA yang ke 60, Bandung harus kembali meningkat harkat martabatnya di mata dunia. Oleh karena itu, saya telah mempersiapkan beberapa rencana untuk kota kita ini.
Menurut survey, 90 persen dari penduduk di seluruh Indonesia cinta Bandung. Ini membuktikan bahwa Bandung memang sangat mudah dicintai. Ini juga bisa menjadi pengingat, bahwa kota ini akan selalu bergerak dengan anak cucu kita. Oleh karena itu, saat kita masih bisa hadir di sini, mari kita berikan seluruh energi kita untuk menghidupkan kota Bandung.”

14.14: Talkshow dimulai

Narasumber pertama: Bapak R. Otong Toyibin Wiranatakusumah

“Pendiri kota Bandung adalah bupati Bandung ke-2, yaitu Wiranatakusumah kedua. Ayah saya adalah Wiranatakusumah ke-5, yang juga pernah menjabat sebagai menteri di kabinet serta wali pasundan pada waktu zaman Republik Indonesia Serikat.
Cerita bagaimana Bandung dipindahkan dari Dayeuh Kolot banyak versinya. Banyak yang bilang bahwa hal ini diperintahkan oleh Daendels. Daendels disebut-sebut memindahkan Bandung karena dia ingin lebih dekat dengan jalan yang dibangunnya. Katanya, Daendels menancapkan tongkat di sebelah Hotel Preanger sebagai titik nol. Meski pun tidak jelas titik nol apa.
Menurut versi keluarga saya sendiri, peristiwa dipindahkannya Bandung sebenarnya disebabkan oleh unsur air. Dayeuh Kolot memang selalu banjir sampe sekarang karena hareupeun cai. Setelah disetujui oleh sesepuh, kemudian kota pun dipindahkan. Ini membuktikan bahwa Bandung dipindahkan bukan oleh perintah Daendels.
Pertamanya Bandung dipindahkan ke daerah Bojonegara, Karang Setra. Ternyata malah kurang bagus karena itu daerah luhuran cai atau susah air. Lalu pindah lagi ke Kebon Kawung, namun ternyata daerahnya daerah rawa (ranca). Dalem Kaum sang sesepuh pun emudian menancapkan tongkat ke daerah Sumur Bandung dan keluar air. Itulah titik nol yang sebenarnya. Sekitar sini sebenernya ada 7 sumur.
Menurut wangsit Dalem Kaum waktu memindahkan kota: “Asal leuweung luang liang, dibaladah jadi negara.” Makanya tidak mungkin Daendels tiba-tiba mencancapkan tongkat di sini. Menurut saya, di sini malah sudah ada tempat tinggal bupatinya dulu.
Bandung itu dasar dari lahan yang berbentuk seperti cekungan mangkuk. Nama Bandung itu sendiri artinya danau, dari kata “bendung”.
Jika dikaitkan dengan tema talkshow sekarang, yaitu bagaimana Bandung menjadi candradimuka diplomasi Indonesia, bisa dirunut kepada filisofi Bandung. Bandung bisa difilosofikan sebagai rahim ibu. Seperti yang dikandung dalam dongeng Sangkuriang. Sangkuriang sebenernya cerita mengenai umat manusia. Ketika lahir, dia menjebol bendungan. Nama Tangkuban Perahu pun diambil dari posisi bayi yang ketika lahir ‘nangkub’.
Sangkuriang pernah bercetus bahwa dia adalah cikal bakal dari semuanya. ‘Saya adalah energi dari Tuhan yang menghidupkan setiap esensi yang ada,’ ujarnya. Itu lah filosofi yang dipegang oleh orang Sunda. Bila pulau Jawa diibaratkan sebagai tubuh manusia, maka jantungnya adalah tanah parahyangan. Disebutnya Pancer Buana atau Pusat Energi. Energi seluruh Pulau Jawa semua berpusat di sini. Tidak mengherankan mengapa energi tempat ini begitu kuat, sampai banyak terjadi peristiwa sejarah kepemimpinan negara. Termasuk di antaranya penggagasan proklamasi oleh Soekarno dan Konferensi Asia Afrika. Posisinya sebagai pusat energi ini juga mengapa di Bandung selalu damai dan tentram.
Jika Bandung didaulat sebagai ibukota Asia Afrika, maka Ridwan Kamil adalah ibukat Asia Afrika. Oleh karena itu, saya sangat mendukung diselenggarakannya ulang tahun negara-negara Asia Afrika di Bandung.”

Narasumber kedua: Bapak J.J. Rizal

Kota Bandung adalah kota diplomasi. Banya tokoh menjadi istimewa karena tinggal di sini. Bukan hanya Bung Karno, tapi juga ada Doewes Dekker dan Tjiptomangoenkoesumo.
Bandung-lah tempat Tjiptomangunkoesoemo merasakan dia menemukan yang dia tidak temukan di STOVIA, yaitu filosofi “boedi oetomo”.

Lantas, bagaimana Bandung bisa disebut menjadi candradimuka diplomasi Indonesia, dan kenapa disenut kekuatan ketiga?

Idenya muncul dari Ida Anak Agung Gde Agung. Dia menulis buku berjudul Kekuatan Ketiga. Di dalamnya menceritakan bahwa sejarah selama ini dijelaskan hanya secara hitam putih. Seolah-olah Belanda ingin menciptakan negara-negara boneka, seperti yang tidak punya perasaan ke-Indonesiaan. Itu sebenarnya keliru. Justru Indonesia tidak akan berdaulat jika tidak ditolong oleh apa yang disebut ‘antek Belanda’, yang menjadi pemimpin-pemimpin negara boneka.
Berbeda dengan yang disebutkan di kebanyakan buku sejarah, Soekarno sebenarnya tidak berselisih paham dengan Ida Agung. Mereka memiliki konsep yang sama mengenai negara boneka itu. Bukan mengembalikan kekuasaan Belanda, tapi justru penyerahan penuh kekuasaan ke tangan Indonesia. Merdeka 100%.
Dalam sejarah, ada kelompok ketiga yang sering diberi stereotipe negatif. Kelompok itulah yang tergabung di negara-negara fedral yang dibentuk oleh Belanda.
Konsep Negara Indonesia Serikat pertama dilahirkan di Perjanjian Lingarjati. Namun Perjanjian Renville selanjutnya malah menjadikan posis Indonesia semakin lemah.
Kemudian setelah itu, bersama dengan perdana menteri negeri Pasundan, dibuatlah rencana pertemuan di kota Bandung untuk melahirkan konsep konferensi satuan-satuan kenegaraan yang ada di wilayah bekas jajahan Belanda. Tujuannya, membuat satu sintesa nasional untuk menhadikan kekuatan Indonesia lebih besar demi kedaulatan. Dari sana, 6 hari kemudian, NIS membubarkan diri.
Di sini lah Bandung menjadi kota yang sangat istimewa. Kota ini berperan menjembatani perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik. Kota ini kemudian selalu berperan menjadi tempat tidak hanya para pejuang politik, tapi juga kebudayaan.”

*

*

Top