Pemutaran Film “KAMIS KE 300”: Seruan Tentang Perjuangan HAM

poster kamis ke 300

“Kami hanya rindu. Aku rindu pada pamanku yang dibawa pergi. Aku ingin bertemu denganmu! Aparicion con vida! Lepaskan mereka hidup-hidup!”

      “KAMIS KE 300”

 

Sabtu petang bertanggal 1 November 2014, Museum Konperensi Asia Afrika kedatangan tamu istimewa. Titimangsa, sebuah yayasan besutan Happy Salma yang berkonsentrasi pada seni pertunjukan. Yayasan ini dibangun sejak 2006 lalu.

Kali ini, Titimangsa bersama komunitas lainnya menggarap sesuatu yang berbeda. Adalah film pendek berdurasi 10 menit, berjudul “KAMIS KE 300”, yang didedikasikan bagi mereka yang tidak kenal lelah melakukan Kamisan. Kamisan?

Kamisan adalah aksi demonstrasi damai manusia yang masih haus akan keadilan, khususnya keadilan yang menyangkut Hak Asasi Manusia (HAM). Awalnya, mereka yang tergabung dalam aksi ini adalah orangtua, saudara, serta kerabat dekat yang orang-orang terkasihnya hilang tanpa jejak akibat kerusuhan ’98 lalu. Mereka hanya berdiri diam di depan istana, menggunakan baju hitam-hitam, dan mengirimkan surat yang ditujukan kepada Presiden Indonesia tiap minggunya. Setiap hari Kamis. Namun sekarang, isu yang diperjuangkan tidak hanya seputar kejadian ’98, berkembang seiring ketidakadilan akan HAM yang terus dijadikan kebiasaan. Aksi ini terinspirasi dari aksi sama yang dilakukan di Argentina.

Pemutaran film “KAMIS KE 300” di MKAA ini dihadiri oleh Bambang Supriadi selaku penata kamera dan Sita Nursanti, aktris yang berperan dalam film ini.

Meskipun hari itu Bandung panas sekali, minat masyarakat kepada film ini ternyata tidak berkurang. Ruangan audio visual MKAA tempat film diputar terlihat sangat padat oleh penonton. “Jujur, saya baru sekali nonton full film ini. Dan tidak menyangka hasilnya sekuat ini”, celoteh Sita Nursanti sambil mengipas-ngipas kipas kayunya demi mengusir hawa panas yang menyerang.

 

Memainkan Bahasa Visual demi Sebuah Pesan

Awalnya, Happy Salma menuangkan kisah mengenai aksi ini ke dalam sebuah cerpen berjudul “Kamis ke-200” tahun 2008 kemarin. Ketika terbersit niat untuk menyulap karya ini ke layar lebar, Titimangsa menggandeng penulis tersohor Putu Wijaya untuk menggarap skenarionya. Putu Wijaya yang kala itu tengah terbaring sakit, 2013 kemarin, mengetik keseluruhan skenarionya di ponselnya. Jadilah sebuah film pendek berdurasi tidak lebih dari 15 menit.

Meski pun berdurasi singkat, proses produksi film ini tidak sebentar. Membutuhkan waktu 2 bulan untuk mempersiapkan produksi, dan penggarapan 5 bulan setelah shooting dilaksanakan.

“KAMIS KE 300” dibintangi Amoroso Katamsi, Sita Nursanti, Nugie, dan Aji Santosa. Berkisah tentang seorang kakek yang terbaring lemah dengan semi-paralisis dan gangguan ingatan. Amoroso Katamsi di sini bermain cemerlang, seperti biasa. Berulang kali dia teriakkan “Aparicion Con Vida!”, seraya mengajarkan cucunya yang masih bocah mengenai makna dibalik kata-kata itu. Terus dia teriakkan hingga nafas terakhirnya putus. Namun di akhir hayatnya dia bisa tersenyum. Karena sang cucu meneruskan orasi kakeknya itu kepada teman-temannya yang juga masih ingusan. Walau mungkin dia sendiri belum faham betul.

“KAMIS KE 300” memiliki bahasa visual yang kental. Memadukan fiksi dan dokumenter, mayoritas adegan minim dialog, namun sarat makna. Seperti saat deretan foto orang-orang hilang disorot. Para demonstran Kamisan berbaris di depan Istana Negara dengan paying hitamnya yang bertuliskan “Jangan Diam Lawan!”. Flashback masa lalu si kakek yang getir. Kesemuanya disajikan dalam warna hitam putih.

“Supaya kontras. Hitam putih itu kontras, sama seperti harapan dan realita yang sulit untuk berjalan searah”, jelas Bambang Supriadi. “Ini memang tujuan Happy (Salma) sejak awal.”

 

Alat Merawat Ingatan

Karya ini dibuat sama sekali bukan untuk mencari popularitas, eksistensi, atau keuntungan yang berlebih. Hal ini murni sebagai pengabdian masyarakat. Kamisan ke 300 menyadarkan kita bahwa masih ada orang di luar sana yang terus berjuang, secara damai, menuntut keadilan yang sampai saat ini belum mereka rasakan, sama sekali. Sampai hari ini, sampai tulisan ini dibuat, surat yang disampaikan oleh para aktivis Kamisan belum ada satupun yang dibalas, padahal Kamisan sudah berjalan lebih dari 300 kali. “Kami tidak muluk-muluk. Kami hanya mau masyarakat tahu bahwa aksi Kamisan itu seperti apa. Karena ketika yang tidak tahu menjadi tahu, yang tahu tidak lupa, makan yang sedang berjuang pun akan terus berjuang,” tegas Sita.

Perwakilan Titimangsa juga memaparkan rencana mereka untuk membesut film-film pendek lain bertema sama, masih mengenai isu HAM. “Semua akan diadaptasi dari cerpen-cerpennya Happy Salma, dengan format yang sama. Sekarang masih dalam tahap penggodokan. Rencananya, film-film pendek tersebut akan digabungkan menjadi sebuah omnibus dalam feature film berdurasi panjang,” ungkap Tia, selaku project manager.

Titimangsa juga menganjurkan untuk menyebarluaskan film ini sebagai bahan diskusi dan pengingat. “KAMIS KE 300” bisa disaksikan langsung di YouTube di link berikut ini.

Di Bandung sendiri, Kamisan sudah diadopsi. Setiap hari Kamis, pukul 16.00, di depan Gedung Sate. Masyarakat umum bisa langsung bergabung.

Gerakan Kamisan menyadarkan kita kalau mereka masih ada, mereka yang lelah akan kebiasan HAM. Dan film pendek “KAMIS KE 300”, adalah alat untuk terus merawat ingatan, ingatan akan jangan pernah lelah untuk berjuang.(*)

 

Penulis: Yovita Omega Supratman & Zita Reyninta Sari

*

*

Top