Bandung dan Berandan, Dua Kota yang Pernah Membumihanguskan Diri

Pertempuran Rakyat Pangkalan Berandan. Sumber: link

Pertempuran Rakyat Pangkalan Berandan. Sumber: blog

Jika membahas kota yang pernah membumihanguskan dirinya sendiri pasti semua jawaban akan tertuju pada Kota Bandung, yang terkenal dengan tragedi Bandung Lautan Api. Padahal, ada kota lain di Indonesia yang juga mengalami hal serupa dan di waktu yang tidak jauh berselang. Kota tersebut adalah salah satu Kota kecil yang terletak di Wilayah Sumatera Utara, tepatnya di perbatasan Aceh dan Sumatera, yakni Kota Pangkalan Berandan. Tragedi yang sama dikenal dengan julukan Berandan Bumi Hangus. Kota ini memang tidak sepopuler Kota Bandung, tetapi dikenal sebagai kota pertama di mana Pertamina didirikan. Karena di kota inilah salah satu ladang minyak tertua di Indonesia ditemukan dan telah dieksplorasi sejak zaman penjajahan Hindia Belanda.

Jika menilik balik kisah Bandung Lautan Api dan Berandan Bumi Hangus, keduanya memiliki latar belakang kejadian yang sama, yaitu para penduduknya tidak ingin merelakan tanah air serta tempat tinggalnya jatuh ke tangan penjajah. Pada saat itu, pemimpin dari masing-masing daerah mengambil keputusan untuk mengevakuasi penduduk dan membakar daerahnya masing-masing guna menghindari tentara sekutu untuk merebut kota. Bandung Lautan Api terjadi pada tanggal 23 Maret 1946, sedangkan Berandan Bumi Hangus terjadi pada 13 Agustus 1947, hanya berselang satu tahun.

Di Kota Bandung, di bawah komando Kolonel Abdoel Haris Nasoetion, pasukan TRI (Tentara Republik Indonesia) dan penduduk setempat berusaha mempertahankan daerah Bandung Selatan dari upaya perebutan yang dilakukan tentara sekutu dan tentara NICA. Salah satu upayanya adalah dengan meledakkan gudang amunisi besar milik sekutu di daerah Bandung Selatan sehingga jadilah Bandung tenggelam oleh lautan api. Sedangkan di Kota Pangkalan Berandan, para pejuang yang tergabung dalam pasukan Komando Langkat Area berupaya mempertahankan Pangkalan Berandan dari rebutan tentara Belanda. Mereka menyatakan bahwa, “Daripada hidup di bawah telapak kaki penjajah, lebih baik mati berkalang tanah, demikian pula keberadaan tambang minyak berandan, daripada dikuasai penjajah, lebih baik musnah.” Tepat pada tanggal 13 Agustus 1947, setelah semua warga dievakuasi, diledakkanlah tangki-tangki minyak yang berisi ratusan ribu liter minyak mentah. Pembumihangusan tambang minyak Pangkalan Berandan ini berhasil menggagalkan upaya tentara Belanda dalam merebut wilayah Pangkalan Berandan. Peristiwa ini diperingati setiap tahunnya dengan menghelat berbagai jenis acara, diantaranya adalah upacara peringatan Berandan Bumi Hangus, Napak Tilas, Karnaval, dan mengundang para veteran yang menjadi saksi terjadinya peristiwa ini. Peristiwa ini juga telah melahirkan lagu Berandan Bumi Hangus yang selalu dinyanyikan serta dipertandingkan dalam rangka memperingati peristiwa Berandan Bumi Hangus.

Melalui ringkasan dua peristiwa tersebut, dapat diketahui bahwa kedua daerah tidak merelakan tanah airnya dikuasai oleh penjajah guna menegakkan martabat bangsa Indonesia. Penduduk Bandung dan Pangkalan Berandan rela mempertaruhkan apapun termasuk kehilangan harta dan bendanya daripada hidup di bawah kuasa penjajah. Oleh karenanya, kita sebagai warga Indonesia harus bangga dengan tanah airnya serta berkewajiban untuk mempertahankan martabat Negara Indonesia. Tidak perlu dengan cara yang sama, tapi dengan berkarya dengan hati guna membanggakan bangsa. (risa)

3 Comments

  1. perkins coupons said:

    hunter13December 2, 2012 at 11:20 amthird most succesful? lol that doesnt mean shit when you look at it as a whole an dnote a champions title per decade in average. therefore if anything with wenger winning three in one decade he has credit for another two decades, and most importantly the average hasnt dropped…at worst he has kept us at the same standards while also building us a stadium and getting us consistently into the elite comptitions of europe…a status arsenal never enjoyed between 1886 and 1996 … u cunt.. next….

*

*

Top