Menapaki Jejak Perempuan untuk Dunia

IWD SMKAA

Hari Perempuan Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 Maret menjadi layaknya sebuah pengingat bagi pencapaian perempuan di seluruh dunia. Saat ini perempuan memiliki peran yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Sudah begitu banyak perempuan yang dapat menempatkan dirinya setara laki-laki. Sehingga penilaian tentang perempuan seharusnya tidak lagi seperti dulu.

Asal-usul peringatan ini sendiri lahir dari sebuah kejadian di New York pada tahun 1857. Sejak era industrialisasi baru di mulai, kaum proletar perempuan di New York, Amerika Serikat melakukan aksi demonstrasi karena mereka merasa terdiskriminasi. Pergerakan itu dipicu karena buruh perempuan merasa bahwa gajinya tidak setara dengan buruh laki-laki. Demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa pada saat itupun, kaum perempuan tidak ingin dipandang sebelah mata, apalagi dibedakan dengan kaum laki-laki. Untuk menghormati pergerakan tersebut, akhirnya, pada tahun 1947 PBB mencanangkan 8 Maret sebagai hari perempuan internasional.

Sebetulnya pergerakan perempuan dalam memperjuangkan hak-haknya, bukan hanya ada pada tataran fisik, atau seperti demonstrasi yang dilakukan di New York pada waktu itu. Namun juga memunculkan perdebatan lainnya yang melahirkan pemikiran alternatif pada awal abad ke-20, yaitu feminisme. Feminisme hadir sebagai alat ajar, untuk membedah fenomena dari tataran akademis. Teori feminis berusaha menganalisa berbagai kondisi yang membentuk kehidupan kaum perempuan dan berusaha menyelidiki beragam pemahaman cultural mengenai makna menjadi perempuan.

Feminisme menjadi terkenal semenjak dijadikan pijakan bagi para politisi, khususnya di Inggris, tempat pemikiran itu muncul pertama kali. Adalah Margareth Thacher yang menjadi Perdana Menteri Inggris perempuan pertama, yang berhasil mendobrak batas-batas ketidak setaraan antara laki-laki dan perempuan, khususnya di parlemen Inggris saat itu. Sebagai orang Indonesia pun kita pernah merasakan dipimpin oleh seorang pemimpin perempuan, yaitu Megawati Soekarno Putri, yang tidak lain adalah putri dari Soekarno.

Namun demikian, persepsi terhadap kaum perempuan sebagai pemimpin, masih menjadi polemik dalam negeri, karena alasan emosional, kultural, maupun tendensi agama. Akan tetapi, kita harus memberikan pandangan penting terkait posisi perempuan, khususnya sebagai pemimpin.

Dalam Dasasila Bandung, yang dirumuskan pada Konferensi Asia-Afrika, 1955, tercemin semangat baru bagi perdamaian, kesetaraan serta harmoni, yaitu Bandung Spirits (Semangat Bandung). Sangat jelas dalam poin pertama Dasasila Bandung;

“Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam piagam PBB”

Hak dasar manusia yang disebutkan diatas, pada intinya menghasilkan pernyataan bahwalaki-laki dan perempuan adalah setara. Kesetaraan disini adalah untuk memberikan jaminan pada laki-laki maupun perempuan, bahwa dalam bidang apapun, pekerjaan apapun hak-hak dasar mereka harus dipenuhi. Baik itu hak hidup, maupun hak berbangsa dan bernegara mereka.

Tidaklah salah memandang bahwa perempuan dalam posisi-posisi tertentu, tidaklah sama dengan laki-laki. Namun, kesetaraan antara laki-laki dan perempuan yang tercermin dalam Dasasila Bandung pun dapat menjadi sudut pandang yang baru. Bahwa perempuan pun layak untuk berkarya dan dihormati dengan apa yang sudah dilakukannya.

Selamat Hari Perempuan Internasional, semoga kaum hawa diseluruh dunia bisa terus berkarya tanpa batas! (devin/bila)

*

*

Top