Bandung Historical Study Games, Mengenal Sejarah dengan Cara yang Berbeda

k

Bandung Historical Study Games yang diadakan pada Sabtu (23/04/2016) ini kembali menawarkan edukasi sejarah dengan cara yang berbeda.

 

Bandung – Dua hari yang lalu, Sabtu (23/04/2016), Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (KAA) melalui Museum KAA untuk keempat kalinya menyelenggarakan lomba edukatif kreatif, Bandung Historical Study Games (BHSG). Dengan mengusung jargon ‘explore Bandung with your friends and feel the adventure,’ para peserta akan dibawa menjelajah sejumlah monumen dan bangunan bersejarah di Kota Bandung.

Selain dalam rangka memperingati 61 tahun KAA, kegiatan ini juga diadakan dengan tiga tujuan utama, mengobarkan kembali semangat Bandung, mengenalkan kembali sejarah Asia Afrika, dan untuk mengenalkan kembali sejarah Bandung.

Tahun ini, BHSG memilih empat tema besar sejarah Kota Bandung, arsitektur, gaya hidup, militer, dan tokoh-tokoh yang pernah melakukan pergerakan di Bandung. Keempat aspek ini dituangkan pada rute perjalanan dan soal-soal.

“Yang berbeda dengan tahun sebelumnya adalah jumlah peserta. Jika biasanya mencapai 1500 orang, BHSG kali ini hanya sekitar 800 orang. Selain karena faktor keamanan, kami juga berharap pesan dalam BHSG ini dapat tersampaikan dengan lebih maksimal,” kata ketua pelaksana BHSG, Nadiyya A…

Nadiyya juga menggandeng eSKa Radio UPI 107.7 FM, Racana Pramuka UPI, KSR PMI UIN Bandung, dan Forum Club Motor Bandung sebagai komunitas pendukung.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pembendaharaan Provinsi Jawa Barat, Sochif Winarno menyatakan rasa bangga akan kegiatan ini.

“Antusiasmenya sangat luar biasa. Meskipun tadi acara dibuka pukul 07.00 WIB, tetapi sejak pukul 05.00 WIB banyak peserta sudah memadati tempat ini,” ujar Sochif

Sejalan dengan pernyataan Sochif, guru-guru dari SMK Pelita pun menyampaikan sukacitanya mengikuti kegiatan ini.

“Kami berangkat dari rumah pukul 04.00 WIB, lanjut shalat subuh di Pusdai, lalu langsung ke Dwi Warna untuk registrasi. Kami datang pertama loh,” ujar salah satu guru SMK Pelita.

Antusiasme ditunjukkan oleh peserta yang rela datang jauh dari Surabaya, Jakarta, dan Solo hanya untuk berlomba di BHSG.

Peserta BHSG mayoritas merupakan pelajar SMA dan kuliah. Namun, pemandangan tidak biasa terlihat di salah satu kelompok. Mereka adalah orang-orang usia dewasa yang difabel. Selain ingin mengaplikasikan nilai kesetaraan yang dijunjung oleh KAA, mereka disini sebagai tim audit Kota Bandung.

“Kami ingin membuktikan, apakah infrastruktur Kota Bandung sudah bersahabat dengan orang-orang seperti kami? Ini baru setengah perjalanan, tetapi badan kami sudah lumayan cukup pegal-pegal karena trotoar banyak yang rusak. Bandung harus terus berbenah,” ujar Aden di sela-sela istirahat.

BHSG adalah suatu kegiatan untuk mempelajari sejarah dalam kemasan yang lebih atraktif. Kegiatan seperti ini harus terus diselenggarakan supaya sejarah dapat terus didalami oleh generasi muda, karena pemudalah yang menjadi penerus bangsa dan berperan besar.

“Kalau pemudanya saja tidak tahu sejarah, maka sebuah negara akan kehilangan identitasnya. Oleh sebab itu, BHSG dapat menjadi modal untuk kita membangun masa depan”, ujar Kepala Museum Konperensi Asia Afrika Thomas A. Siregar. (Yovita, Audrey/ NJC)

*

*

Top