Bandung, Ibukota Asia Afrika

c9a3dadeb15371ec1d57a8c5cd192888-1024x682

Museum Konperensi Asia Afrika, sebagai salah saksi KAA tahun 1955 di kota Bandung. Sumber: jurnalbandung.com

 

Dimulai oleh Presiden Soekarno yang menyampaikan idenya kepada Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo mengenai Konperensi Asia-Afrika (KAA), Soekarno bersama dengan 4 perdana menteri negara pelopor lainnya, yaitu Sir John Kotelawala (Sri Lanka), U Nu (Myanmar), Jawahrlal Nehru (India) dan Mohammed Ali (Pakistan) membentuk KAA untuk menjaga solidaritas Asia-Afrika yang dibuktikan dengan gerakan nasionalisme melawan kolonialisme. Diselenggarakannya KAA di Bandung pada tahun 1955 menjadi tonggak sejarah Indonesia sebagai tuan rumah KAA.

Apa yang menyebabkan Bandung sebagai tempat yang spesial bagi negara-negara Asia-Afrika? Bandung merupakan nama yang tercantum dalam diplomatik historis monumental yang berhasil dicapai negara-negara dunia ketiga pada masa perang dingin. Bandung adalah tempat dimana sejarah baru diciptakan, tempat negara-negara jajahan kolonial di benua Asia dan Afrika mendapatkan dukungan bersama dan semangat ide dalam memperjuangkan yang terbaik untuk negara mereka masing-masing dalam melawan kolonialisme, dan krisis blok barat-timur.

Soekarno memilih Bandung sebagai venue konperensi karena dianggap memiliki suasana dan arsitektur tata kota yang teratur seperti Eropa, sehingga menjadi salah satu alasan Kota Bandung dikenal sebagai Paris van Java (Kota Paris di Jawa).

Berlangsung pada 18-24 April 1955, KAA dihadiri oleh 29 negara Asia-Afrika dan 1.500 delegasi bertempat di Gedung Merdeka, Bandung. Selain Gedung Merdeka sebagai tempat konperensi, Hotel Homann, Hotel Preanger dan 12 hotel lainnya, 31 bungalow atau mansion di sepanjang jalan Cipaganti, Lembang, dan Ciumbuleuit juga dipersiapkan untuk konperensi. Selain itu, dalam hal transportasi disediakan sebanyak 143 mobil, 30 taksi, 20 bus, dan 230 supir.

Meskipun para peserta konperensi berasal latar belakang historis, sosial, kultural, agama, politik, dan warna kulit yang beragam, namun mereka bisa bersatu untuk perdamaian dunia dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa-bangsa Asia-Afrika.

Keberhasilan konperensi ditandai dengan deklarasi pernyataan politik yang mengandung prinsip fundamental dalam mempromosikan perdamaian dunia dan kerjasama internasional. Semangat Bandung dan Dasasila Bandung telah mengubah pandangan dunia, Bandung telah berhasil menggali potensi kekuatan dari dunia ketiga (negara-negara non-blok). Semangat Bandung juga telah mengubah struktur PBB sehingga forum PBB tidak lagi secara eksklusif membahas antara barat dan timur saja, tetapi seluruh kesatuan negara-negara yang ada di dunia

Sangat disayangkan apabila generasi muda saat ini tidak melihat sejarah, napak tilas betapa hebatnya pejuang-pejuang pendahulu. Monumen-monumen dan bendera dari seluruh negara Asia Afrika di kawasan Jalan Asia-Afrika dan sekitarnya diharapkan dapat menjadi pengingat kembali Bandung Spirit bagi yang datang atau melintasi kawasan ini, bahwa Bandung pernah menjadi dan dikenal sebagai ibukota Asia-Afrika. (Shella/JT)

*

*

Top