Inclusive Education untuk Asia Afrika

2 ISD EDIT

Nsikan Ekwere, presiden Young African Ambassador in Asia (YAAA), dalam acara International Students Discussion pada Jumat (22/04/2016) lalu.

 

Bandung – International Students Discussion digelar dalam rangka peringatan 61 tahun Konperensi Asia Afrika, Jumat, (22/04/2016). Isu yang diangkat kali ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Asia-Afrika terhadap pentingnya pendidikan, membangun inclusive education bagi masyarakat Asia-Afrika, membangun pendidikan yang bebas, serta membangun pendidikan yang berdasarkan kebijakan lokal di Asia dan Afrika.

Pemilihan inclusive education sebagai tema merupakan hasil dari Asian African Students Conference ke dua, tahun 2015 lalu. Sekitar 73 mahasiswa asing yang berada di Bandung menghadiri sesi diskusi yang diadakan di ruang Pameran Tetap Museum Koperensi Asia Afrika.

Acara International Students Discussion 2016 dibuka dengan pertunjukan seni, perwakilan dari Bangladesh menyanyikan salah satu lagu daerah mereka, dan perwakilan Madagaskar yang menyajikan tarian khas negara asalnya. Pertunjukan seni ini dimaksudkan agar semua pihak yang hadir dapat saling berbagi mengenai budaya masing-masing negara yang hadir.

Inclusive education merupakan pendidikan yang dapat diakses dan dirasakan oleh semua orang terutama bagi mereka yang kekurangan. Semua pihak harus menjadi bagiam dari komunitas belajar ini.

UNESCO, tahun 2009, menuturkan bahwa inclusive education adalah sebuah proses meningkatkan kapasitas sistem pendidikan sehingga dapat dijangkau oleh semua pihak. Dalam inclusive education, pemerintah juga mempunyai peran dalam menyejahterakan sistem pendidikan negaranya.

Nsikan Ekwere menuturkan bahwa setelah diskusi ini diharapkan adanya persamaan ide mengenai inclusive education, sehingga semua pihak dapat saling membantu untuk mengembangkan pendidikan di dunia, agar dapat berimbas baik pada kehidupan.

“Semua orang, terutama pemuda di Asia-Afrika harus dapat saling berkontribusi dalam memajukan pendidikan, dimanapun anda berada, siapapun anda,” kata Nsikan, presiden Young African Ambassador in Asia (YAAA).

Azmi Wulandari, salah satu peserta International Students Discussion 2016 dari International Women University, mengharapkan peran pemerintah dalam memajukan sistem pendidikan.

“Masyarakat Asia-Afrika masih rendah kesadarannya terhadap pendidikan. Masyarakat, khususnya pelajar seharusnya menyadari bahwa pendidikan itu penting dan tidak bisa dianggap remeh karena diluar sana masih banyak orang yang susah untuk mengakses pendidikan,” kata Azmi.

Berbeda dengan negara maju, pendidikan di kawasan Asia-Afrika masih terdapat banyak hambatan dan persoalan. Salah satu faktornya adalah masalah ekonomi, dimana banyak tempat pendidikan menerapkan tarif yang relatif mahal dan sulit dijangkau oleh masyarakat.

Selain itu, diyakini bahwa sistem pendidikan yang ada di Asia-Afrika banyak terpengaruh oleh pendidikan Eropa. Maka dari itu, inclusive education ingin membawa kembali pendidikan dengan mengedepankan penerapan sistem budaya dari masing-masing negara.

Diharapkan semua pihak yang mengikuti sesi diskusi ini dapat memahami dan menerapkan inclusive education dalam sistem pendidikan masing-masing. Walaupun lingkungan setiap pihak berbeda, namun pendidikan harus dapat menjangkau semua pihak. Serta memahami bahwa pendidikan adalah alat yang dapat digunakan dalam kehidupan. (Wanda/JT)

*

*

Top