Jamuan Teh Petang, Momen Konferensi Asia Afrika di Mata Para Saksi Sejarah

_DSC0439

Sunaryati Hartono, salah satu keluarga dari tokoh KAA yang hadir dalam kegiatan Jamuan Teh Petang di Gedung Merdeka, Sabtu (20/04/2016) kemarin. Foto: Aulia

 

Bandung – Acara Jamuan Teh Petang menjadi ajang nostalgia para saksi sejarah dan keluarga tokoh Konperensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955 pada Rabu (20/04/2016) kemarin. Para undangan yang hadir saling bercerita tentang KAA, namun dengan sudut pandang yang berbeda. Salah satunya Sunaryati Hartono, putri dari Sunario Sastrowardoyo, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri.

Saat itu, menurut Sunario konflik yang terjadi antara barat dan timur membuat negara-negara yang belum atau baru saja merdeka dalam posisi terjepit. Sehingga negara-negara tersebut harus bersatu dan berjuang bersama-sama untuk meningkatkan semua potensi bangsa.

”Awalnya ini hanya sebatas pemikiran dari Bapak (Sunario). Tentang perlunya kerjasama antara negara-negara yang pernah dijajah atau yang baru merdeka, sehingga menurutnya diperlukan suatu konperensi antara negara-negara tersebut,” tutur perempuan berusia 84 tahun tersebut.

Walaupun ketika itu Indonesia sedang dalam kondisi tidak stabil, Indonesia tetap memperjuangkan nasib negara-negara lain yang belum merdeka, yang dibuktikan dengan terselenggaranya kegiatan KAA di Bandung.

Popong Otje Djundjunan, yang saat itu menjadi relawan yang mendampingi para tamu negara untuk acara KAA pun turut hadir dalam acara Jamuan Teh Petang kali ini. Popong berpesan seharusnya generasi muda bangga dengan bangsa Indonesia, karena kemerdekaan yang diterima Indonesia bukanlah hadiah melainkan hasil perjuangan.

Tak hanya diisi oleh saksi sejarah, acara ini pun mengajak Jahirul Islam dan Nsikan Ekwere sebagai perwakilan dari Asia dan Afrika untuk menyampaikan pendapatnya mengenai hasil dari penyelenggaraan KAA 61 tahun yang lalu.

“10 tahun setelah konperensi ini dilaksanakan, banyak negara di Afrika yang merdeka. Kemerdekaan saat ini sudah hadir di Asia dan Afrika. Kita tidak akan pernah lagi dijajah, karena kita sudah bebas.” ujar Ekwere. (Zhynda, Aulia/JT)

*

*

Top