Lee Jungkee Siap Memperluas Jangkauan Esperanto di Kawasan Asia dan Afrika

DSC_7409

Lee Jungke, salah satu peserta Trilando Kongreso de Esperanto asal Korea Selatan yang juga merupakan Presiden Universal Esperanto Asociation. Foto: Aulia

 

Lee Jungkee (I Zun-gi) lahir 24 Juni 1953. Sebelum menetap di Seoul, ia sempat tinggal di Daegu. Perkenalan awal dengan bahasa Esperanto dimulai saat Gang Bong Gil—yang merupakan gurunya—memperkenalkan bahasa Esperanto padanya. Gang Bong Gil berkata bahwa bahasa ini sangat membantu untuk berkomunikasi dengan orang-orang diluar Korea, sejak saat itu Lee Jungkee mulai tertarik dengan bahasa esperanto.

Sebagai Presiden Universal Esperanto Asociation saat ini, Lee Jungkee aktif mengajar bahasa Esperanto sebagai guru atau dosen di beberapa universitas di Korea, yaitu Universitas Kyunghee, Universitas Seula Esperanto-Kulturcentro, dan Universitas Korea Firendlingua. Ia telah mengajar sekitar 2000 orang selama 45 tahun.

Di usianya yang sudah menginjak 62 tahun, Lee Jungkee telah menguasai bahasa Inggris, Esperanto, dan Korea. Beliau juga mampu menguasai tulis menulis dalam bahasa Tionghoa. Menurutnya penghargaan sebagai esperantis didapat dari pengalaman hidupnya sendiri, yaitu beliau mampu memperluas bahasa Esperanto sampai ke 90 negara berkat kemampuannya tersebut.

Menurutnya, esperanto membantunya memahami orang lain juga negara lain. Baginya, bahasa ini bukanlah sebuah hobi dan tidak berhubungan dengan agama namun mampu menyatukan hobi dan agama yang ada.

Lee Jungkee merasa dalam kawasan Asia, bahasa Esperanto sudah cukup baik, berbeda dengan Afrika yang dirasanya kurang maksimal. Saat ini terdapat 31 negara di Afrika yang tidak memiliki esperantis sama sekali, maka dari itu walaupun sulit dia tetap berusaha memperluas jangkauan esperanto. Dia menargetkan bahwa akan ada perwakilan esperantis di setiap negara atau wilayah dalam kurun waktu lima tahun kedepan untuk mengikuti kongres.

Dengan jabatan yang ia pegang saat ini, beliau berharap bahasa Esperanto dapat tersebar luas di kawasan Asia maupun Afrika. Salah satu cara beliau untuk memperkenalkan Esperanto kepada seseorang adalah melalui internet. Sedikit demi sedikit beliau mengajak orang-orang dari luar untuk belajar bahasa Esperanto dan jika ada yang berminat maka UEA akan merespon dengan mengirimkan guru Esperanto.

Lee Jungkee menilai kegiatan kongres semacam ini adalah hal yang penting. Ia merasa bahwa kegiatan ini artinya mengapresiasi dan melanjutkan Dasasila Bandung. Ia juga berkata bahwa kegiatan kongress ini diliput oleh negara lain dan dapat menjadi bukti bahwa kongres Esperanto merupakan kegiatan yang penting.

Selain berkontribusi dalam dunia Esperanto, saat ini Lee Jungkee juga aktif membantu rakyat Afrika yang kelaparan yaitu bekerjasama dengan Agado por la Progresigo de Esperanto en Togolando (APETO) dalam membuat buku yang berjudul Afrikaj proverboj karya Adjévi Adje. Nantinya hasil dana dari penjualan buku tersebut akan disumbangkan untuk rakyat Afrika yang masih mengalami kelaparan. (Nurin, Fariz/JT)

*

*

Top